Ainesia
Gadget & Hardware

Midjourney Medical: Dari Kucing Digital ke Pemindai Tubuh?

Midjourney beralih dari AI pembuat gambar ke perangkat medis fisik — Scanner berbasis ultrasound penuh badan yang menargetkan kualitas setara MRI. Apa artinya bagi diagnosis preventif di Indonesia?

(18 Juni 2026)
4 menit baca
3D human anatomy scan: Midjourney Medical: Dari Kucing Digital ke Pemindai Tubuh?
Ilustrasi Midjourney Medical: Dari Kucing Digital ke Pemindai Tubuh?.

Bagaimana sebuah perusahaan yang dikenal lewat gambar kucing lucu dan lukisan surealis buatan mesin bisa tiba-tiba membangun alat pemindai tubuh manusia? Jawabannya tidak hanya evolusi teknologi, tapi juga pergeseran strategis radikal: dari menghasilkan ilusi visual ke mengukur realitas biologis — dengan presisi yang mengancam batas antara klinik dan spa.

Apa yang Sebenarnya Diukur oleh 'Scanner' Ini?

The Midjourney Scanner bukan alat pencitraan konvensional. Ia menggunakan cincin sensor ultrasound yang berputar mengelilingi tubuh pasien dalam posisi berdiri, menangkap irisan vertikal bertumpuk dari kepala hingga telapak kaki. Hasilnya tidak hanya citra abstrak, tapi juga data struktural tentang komposisi jaringan: proporsi lemak subkutan dan viseral, kepadatan otot rangka, volume organ dalam seperti hati dan ginjal, bahkan ketebalan korteks tulang. Menurut The Verge, sistem ini dirancang untuk validasi terhadap "imaging phantom" — model fisik standar yang mensimulasikan densitas jaringan manusia — sehingga akurasinya bisa diverifikasi secara objektif, bukan hanya visual.

David Holz, pendiri dan CEO Midjourney, mengakui transisi ini memang mencolok. Ia menyebut proyek baru ini sebagai langkah keluar dari zona nyaman "cat pictures" menuju domain yang jauh lebih berisiko: kesehatan manusia. Tapi ia tidak menyebutnya sebagai produk medis klinis. Ia menekankan bahwa Scanner ini ditujukan untuk penggunaan preventive health monitoring, bukan diagnosis penyakit. Artinya, alat ini tidak akan menggantikan USG rumah sakit atau MRI di pusat rujukan — setidaknya untuk saat ini.

Baca juga: Mosseri Klaim Tak Tahu Data Keselamatan Remaja Dibatasi

Spa San Francisco Bukan Sekadar Gimmick

Lokasi pertama peluncuran Scanner bukan rumah sakit, bukan juga klinik radiologi, melainkan sebuah spa di San Francisco. Ini bukan keputusan sembarangan. Spa itu sengaja dipilih sebagai ruang transisi antara layanan kesehatan dan gaya hidup — tempat orang datang tanpa rasa takut, tanpa surat rujukan, dan tanpa diagnosis awal. Di sana, pemindaian dilakukan dalam 15 menit, tanpa gel, tanpa kompresi dada, tanpa radiasi, dan tanpa intervensi invasif. Dilansir The Verge, Holz membayangkan penggunaan rutin: harian untuk atlet elite, bulanan untuk manajer stres tinggi, atau tahunan sebagai bagian dari health check-up komprehensif.

Model bisnisnya pun berbeda dari industri alat kesehatan tradisional. Midjourney tidak menjual Scanner ke rumah sakit, melainkan menawarkan akses berlangganan — mirip layanan kebugaran premium. Biaya per pemindaian belum diumumkan, tapi kemungkinan besar akan berada di kisaran USD 300–500, jauh di bawah biaya MRI (USD 1.200–3.500) atau CT scan (USD 800–2.500) di Amerika Serikat.: platform analisis hasilnya dibangun di atas arsitektur AI yang sama yang menggerakkan Midjourney v6 — hanya saja, kali ini modelnya dilatih bukan pada jutaan gambar seni, melainkan pada ribuan dataset pencitraan medis teranonimisasi dari mitra riset universitas.

Baca juga: Komposter Dapur AI: Uji Coba 2 Tahun dan Realitas di Rumah Jakarta

Di Indonesia, tren serupa mulai muncul — tapi dalam bentuk yang jauh lebih parsial. Beberapa klinik estetika di Jakarta dan Surabaya sudah menawarkan pemindaian komposisi tubuh dengan DEXA atau bioimpedansi, namun hanya fokus pada lemak-otot-bone ratio, tanpa visualisasi organ atau lapisan jaringan. Midjourney Scanner justru menawarkan lapisan detail tambahan: misalnya, membedakan antara steatosis hati ringan dan moderat berdasarkan pola reflektivitas ultrasound, atau mendeteksi perubahan tekstur pankreas sebelum gejala klinis muncul.

Ilustrasi laboratorium medis modern dengan cincin pemindai ultrasound berwarna putih metalik mengelilingi siluet manusia berdiri, layar di samping menampilkan irisan vertikal tubuh berwarna-warni
Ilustrasi: Ilustrasi laboratorium medis modern dengan cincin pemindai ultrasound berwarna putih metalik mengelilingi siluet manusia berdiri, layar di samping menampilkan irisan vertikal tubuh berwarna-warni

Yang hilang dari narasi publik saat ini adalah regulasi. Di AS, FDA belum mengklasifikasikan Scanner ini sebagai medical device, karena Midjourney sengaja menghindari klaim diagnostik eksplisit. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan belum memiliki kerangka khusus untuk alat health monitoring berbasis AI yang beroperasi di luar fasilitas kesehatan formal. Artinya, jika Scanner ini masuk pasar lokal, ia bisa jatuh ke celah hukum: bukan alat kesehatan, bukan pula produk konsumen biasa.

Rangkuman dampak langsung dari peluncuran Midjourney Scanner adalah tiga hal konkret: pertama, normalisasi pemindaian tubuh harian sebagai bagian dari literasi kesehatan pribadi; kedua, tekanan pada penyedia layanan kesehatan tradisional untuk mempercepat digitalisasi laporan hasil pencitraan. Dan ketiga, munculnya tantangan baru bagi regulator Indonesia dalam menentukan batas antara wellness tech dan medical device. Midjourney tidak lagi membuat ilusi — ia mulai mengukur realitas. Dan realitas itu, ternyata, bisa dipindai dari dalam spa.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar