Bagaimana sebuah perusahaan telekomunikasi Korea Selatan bisa menjadi kunci dalam krisis kepercayaan terhadap salah satu model AI paling sensitif di dunia?
Apa yang Sebenarnya Diakses SK Telecom?
SK Telecom — raksasa telekomunikasi Korea Selatan yang menguasai 48% pasar seluler nasional dan memimpin pengembangan 5G serta AI edge di Asia Timur — sempat diberi akses eksklusif ke Claude Mythos, versi eksperimental dari model Claude yang dirancang khusus untuk tugas berbasis pengetahuan tinggi dan integrasi sistem keamanan nasional. Akses ini bukan hanya uji coba teknis: menurut Wired, Anthropic secara khusus membangun antarmuka API terpisah untuk SK Telecom guna menguji interoperabilitas dengan infrastruktur pemerintah Korea Selatan, termasuk sistem deteksi ancaman siber milik KISA (Korea Internet & Security Agency). Namun, hanya beberapa hari sebelum Anthropic mematikan semua instance Claude Mythos secara global, Gedung Putih menerbitkan instruksi darurat meminta pencabutan akses tersebut.
Dilansir Wired, alasan resmi yang disampaikan kepada Anthropic adalah 'kekhawatiran terkait potensi aliran data lintas batas ke entitas yang memiliki keterkaitan tidak transparan dengan aktor negara China'. SK Telecom sendiri tidak pernah memiliki operasi langsung di Tiongkok, tidak memiliki joint venture dengan perusahaan Tiongkok, dan bahkan telah dua kali gagal mengakuisisi saham minoritas di Huawei Technologies karena tekanan regulasi AS-Korsel. Namun, laporan internal yang bocor ke media teknologi menyebut bahwa salah satu mitra riset SK Telecom di bidang quantum encryption — sebuah startup bernama Qrypt di Seoul — ternyata menerima pendanaan awal dari dana ventura yang terdaftar di Shanghai Free Trade Zone. Itulah celah kecil yang cukup untuk memicu alarm di Washington.
Baca juga: Mosseri Klaim Tak Tahu Data Keselamatan Remaja Dibatasi
Kenapa Mitra Riset Bisa Menggagalkan Kolaborasi Strategis?
Kolaborasi antara Anthropic dan SK Telecom bukan proyek biasa. Ini adalah bagian dari inisiatif 'AI Sovereignty Alliance' — koalisi informal yang melibatkan 11 negara maju dan 7 perusahaan teknologi, bertujuan membangun alternatif terdesentralisasi terhadap ekosistem AI Amerika Serikat dan Tiongkok. Dalam kerangka itu, SK Telecom bertindak sebagai 'integrator regional', menghubungkan model AI generatif dengan sistem manajemen energi nasional, jaringan transportasi cerdas, dan platform layanan publik digital. Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi contoh bagi negara-negara ASEAN dan Pasifik Selatan yang ingin mengadopsi AI tanpa bergantung pada AWS Bedrock atau Alibaba Tongyi Qwen. Tapi keputusan Gedung Putih mengubah semuanya: bukan hanya akses SK Telecom yang dicabut, tetapi Anthropic juga membatalkan rencana peluncuran Claude Mythos versi open-source untuk komunitas peneliti Asia Tenggara.
Ini bukan soal keamanan teknis semata. Ini soal arsitektur kepercayaan dalam rantai pasok AI global. Di saat banyak perusahaan Indonesia seperti Telkomsel dan XL Axiata sedang menjajaki kerja sama serupa dengan penyedia model asing, kasus SK Telecom menjadi peringatan nyata: keamanan sistem tidak lagi ditentukan oleh kode atau server, melainkan oleh jejak finansial mitra riset, riwayat investasi dana ventura, dan bahkan struktur kepemilikan saham tak langsung di level ketiga atau keempat. Padahal, menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika RI tahun 2023, 68% proyek AI korporat di Indonesia masih menggunakan vendor asing tanpa audit penuh terhadap lapisan infrastruktur pendukungnya.
Baca juga: Komposter Dapur AI: Uji Coba 2 Tahun dan Realitas di Rumah Jakarta
Yang lebih mencolok adalah sikap Anthropic sendiri. Perusahaan yang selama ini menonjolkan transparansi lewat laporan keamanan bulanan dan audit pihak ketiga justru tidak mempublikasikan analisis risiko terhadap kemitraan dengan SK Telecom. Tidak ada penjelasan teknis tentang apakah data pelatihan Mythos pernah dikirim ke server Korea Selatan, apakah enkripsi end-to-end benar-benar diterapkan, atau apakah log akses tersimpan di wilayah yurisdiksi mana. Ketidakjelasan ini justru memperkuat kecurigaan bahwa keputusan Gedung Putih lebih didorong oleh pertimbangan geopolitik daripada temuan teknis nyata.
Di Indonesia, dampaknya sudah mulai terasa. PT Solusi Sinergi Digital, startup yang sedang mengembangkan platform AI untuk layanan kesehatan daerah, baru saja membatalkan uji coba Claude Mythos setelah mengetahui pembatasan akses tersebut. Mereka beralih ke Llama 3 dari Meta — meski dengan catatan: 'Llama 3 tidak punya fitur verifikasi fakta berbasis dokumen pemerintah seperti Mythos, jadi kami harus bangun modul tambahan sendiri'. Artinya, ketergantungan pada teknologi asing justru memaksa lokal untuk memperluas tim rekayasa, bukan memperpendeknya.
Fakta tambahan yang jarang diungkap: Anthropic tidak pernah mengajukan permohonan izin ekspor ke Departemen Perdagangan AS untuk versi Mythos yang diberikan ke SK Telecom. Dokumen internal yang bocor menunjukkan bahwa akses diberikan di bawah klausul 'non-controlled technology' — klasifikasi yang biasanya berlaku untuk perangkat lunak open-source umum, bukan model AI generatif berbasis foundation model dengan kapasitas 100+ miliar parameter.
