Ainesia
Gadget & Hardware

Kapal Remote ITS: Solusi Sederhana untuk Masalah Sampah Laut yang Tak Sederhana

ITS merancang tiga kapal nirawak pembersih sampah laut. Dua unit sudah dioperasikan di Bali dan Kalimantan — tapi apa sebenarnya yang membuat desainnya berbeda dari proyek serupa?

(14 Juni 2026)
4 menit baca
Kapal Remote ITS: Solusi Sederhana: Kapal Remote ITS: Solusi Sederhana untuk Masalah Sampah Laut yang Tak Sederhana
Ilustrasi Kapal Remote ITS: Solusi Sederhana untuk Masalah Sampah Laut.

Bagaimana cara membersihkan sampah plastik di teluk sempit dengan arus tidak menentu, tanpa kapal besar, tanpa operator berpengalaman di atas geladak, dan tanpa anggaran jutaan dolar?

Apa yang Membuat Kapal ITS Berbeda dari Proyek Serupa di Asia Tenggara?

Jawabannya ada pada prinsip rekayasa lokal: bukan mengimpor sistem mahal dari Korea Selatan atau Singapura, melainkan membangun kapal remote control berbasis platform terbuka dengan komponen lokal yang bisa dirakit ulang oleh teknisi SMK. Ketiga kapal itu dirancang oleh tim Laboratorium Robotika dan Otomasi ITS Surabaya, bukan sebagai prototipe eksklusif untuk pameran teknologi, tapi sebagai unit operasional siap pakai — dengan bobot di bawah 80 kg, panjang 2,4 meter, dan kemampuan manuver di kedalaman kurang dari dua meter. Desainnya sengaja dipilih agar bisa dimuat dalam pick-up dan diluncurkan dari dermaga kecil, bukan pelabuhan khusus.

Dilansir Tempo Tekno, dua unit kapal telah dikirim ke Teluk Benoa, Bali, dan Sungai Barito, Kalimantan Selatan, sejak awal Agustus 2024. Di Bali, kapal digunakan bersama Komunitas Pantai Matahari Terbit untuk menyisir muara sungai yang kerap jadi jalur utama masuknya sampah dari daratan ke laut. Di Kalimantan, kapal dioperasikan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banjarbaru, khususnya di area muara sungai yang terganggu sedimentasi dan tumpukan botol PET serta kantong plastik bekas pasar tradisional.

Baca juga: Mosseri Klaim Tak Tahu Data Keselamatan Remaja Dibatasi

Bukan Soal Teknologi Canggih, Tapi Soal Siapa yang Bisa Memperbaikinya

Kunci keberlanjutan kapal ini bukan di kecepatan prosesor atau resolusi kamera bawah air, melainkan di ketersediaan suku cadang dan keahlian pemeliharaan. Semua motor penggerak menggunakan tipe DC 24V standar industri, sensor ultrasonik dipasang dari merek lokal yang tersedia di Pasar Atom Surabaya, dan sistem kontrolnya berbasis Arduino Nano — bukan chip khusus berlisensi. Artinya, jika salah satu kapal rusak di tengah misi, teknisi setempat bisa mengganti motor dalam waktu kurang dari tiga jam, bukan menunggu impor suku cadang selama dua minggu. Ini kontras tajam dengan kapal pembersih sampah otomatis asal Thailand yang diuji di Jakarta Utara tahun lalu: sistemnya tertutup, firmware tidak bisa diakses, dan perbaikan hanya boleh dilakukan oleh tim vendor asing.

Menurut Tempo Tekno, tim ITS sengaja menghindari integrasi AI real-time untuk deteksi sampah karena alasan bandwidth dan stabilitas koneksi. Alih-alih mengandalkan algoritma deep learning, kapal ini menggunakan metode visual sederhana: kamera HD mengirimkan live feed ke tablet operator di darat, yang lalu mengarahkan kapal secara manual ke titik konsentrasi sampah. Pendekatan ini justru meningkatkan akurasi pengambilan — terutama saat menghadapi plastik transparan atau kantong basah yang sering gagal terdeteksi oleh model AI berbasis citra umum.

Baca juga: Komposter Dapur AI: Uji Coba 2 Tahun dan Realitas di Rumah Jakarta

Ilustrasi kapal remote control ITS di tepi Teluk Benoa, dengan operator muda memegang tablet dan jaring pengumpul sampah terlihat tergantung di sisi lambung kapal
Ilustrasi: Ilustrasi kapal remote control ITS di tepi Teluk Benoa, dengan operator muda memegang tablet dan jaring pengumpul sampah terlihat tergantung di sisi lambung kapal

Desain ini juga mempertimbangkan konteks sosial: kapal tidak dirancang untuk menggantikan pekerjaan petugas kebersihan, melainkan memperluas jangkauan mereka. Di Banjarbaru, misalnya, satu kapal mampu mengangkut hingga 15 kilogram sampah per trip — setara dengan hasil kerja tiga orang petugas selama satu hari penuh di area sungai dangkal. Namun, kapal tetap dikendalikan oleh warga setempat yang dilatih selama lima hari oleh tim ITS, bukan oleh operator profesional dari pusat kota. Ini tidak hanya transfer teknologi, tapi transfer otonomi operasional.

biaya produksi per unit masih di bawah Rp120 juta — jauh di bawah harga kapal serupa dari Jepang yang mencapai Rp1,2 miliar per unit. Angka ini belum termasuk pelatihan dan pendampingan teknis selama tiga bulan pertama operasional. Pembiayaan awal berasal dari Hibah Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (HP-UNGGUL) Kemenristekdikti, bukan dari investasi venture capital atau donasi internasional. Artinya, replikasi model ini tidak bergantung pada donor asing, tapi juga pada kapasitas perguruan tinggi negeri untuk mengonversi penelitian menjadi solusi lapangan.

Rangkuman dampak langsung dari inisiatif ini jelas: dua wilayah pesisir kini punya alat baru untuk mengurangi aliran sampah ke laut tanpa menunggu regulasi nasional selesai atau anggaran APBD naik. Kapal ini tidak mengubah kebijakan, tapi mengisi celah antara kebijakan dan eksekusi — di mana banyak program lingkungan gagal karena ketiadaan alat sederhana yang bisa dioperasikan hari ini, bukan tahun depan.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar