Google meluncurkan iklan komersial baru yang memposisikan Workspace bukan sebagai sekadar alat kantor, melainkan sebagai rekan intelektual dalam proses penciptaan sejarah — dengan menggambarkan Thomas Jefferson menulis naskah Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat tahun 1776 sambil berdiskusi dengan asisten AI di layar Chrome.
Apa yang Hilang dari Simulasi Sejarah Ini?
Iklan itu tidak menampilkan konflik politik, tekanan diplomatik, atau perdebatan panas di Kongres Kontinental. Tidak ada gambar John Adams yang mendesak Jefferson agar menghapus paragraf tentang perdagangan budak. Tidak ada tanda bahwa naskah itu direvisi 86 kali oleh lima orang anggota komite. Yang muncul justru antarmuka bersih, saran otomatis 'perkuat argumen', dan tombol 'bagikan ke tim'. Menurut TechCrunch AI, iklan ini adalah bagian dari kampanye global Google untuk memindahkan narasi AI dari 'alat teknis' ke 'mitra kognitif' dalam pembuatan keputusan strategis.
Tanpa menyebut nama, iklan itu juga mengabaikan satu fakta historis krusial: Deklarasi Kemerdekaan bukan hasil kerja individu, melainkan produk negosiasi antara 13 koloni dengan kepentingan ekonomi, sosial, dan militer berbeda. AI hari ini belum bisa mensimulasikan dinamika kekuasaan seperti itu — apalagi memediasi kepentingan yang saling bertentangan. Ia bisa menyederhanakan bahasa, tetapi belum bisa menanggung beban moral dari pilihan politik.
Baca juga: Particle Ubah Podcast Jadi Data yang Bisa Diolah AI
Bagaimana Kolaborasi Manusia-AI Berbeda dari Kolaborasi Manusia-Manusia?
Perbedaan mendasar bukan pada kecepatan atau akurasi, melainkan pada struktur tanggung jawab. Dalam rapat Kongres Kontinental, setiap delegasi bertanggung jawab atas suara koloninya. Jika kalimat dihapus, ada nama yang bisa dipanggil, ada konsekuensi politik nyata. Di Workspace berbasis AI, tanggung jawab tersebar tak terlihat: antara pengembang model, tim produk Google, dan pengguna akhir yang menerima saran tanpa tahu lapisan pelatihan data atau bias implisit di baliknya.
Dilansir TechCrunch AI, Google sengaja memilih momen historis ini karena memiliki daya simbolik tinggi — bukan hanya sebagai dokumen pendiri, tapi sebagai representasi proses demokratisasi ide. Namun ironisnya, platform yang digambarkan dalam iklan justru beroperasi di bawah infrastruktur privat, dengan kebijakan privasi yang tidak transparan bagi pengguna di luar AS, termasuk di Indonesia. Tidak ada mekanisme 'ratifikasi' publik atas keputusan AI, tidak ada forum untuk mengajukan amendemen terhadap output model.
Baca juga: Stability AI Kumpulkan $76 Juta, Total Pendanaan Capai $232 Juta
Di Indonesia, tren serupa mulai tampak: startup hukum seperti Lawyered dan LegalMatch mulai mengintegrasikan asisten berbasis LLM untuk menyusun draf surat kuasa atau perjanjian kerja. Namun, praktiknya masih sangat berhati-hati — semua output wajib diverifikasi oleh advokat berizin. Tidak ada firma hukum besar di Jakarta yang berani menandatangani dokumen tanpa tinjauan manusia, apalagi mengaitkannya dengan nilai sejarah nasional seperti UUD 1945 atau Piagam Jakarta.
Ketika Google memproyeksikan AI sebagai penerus tradisi intelektual Barat, ia secara tidak langsung menutup ruang bagi pertanyaan penting: Apa bentuk kolaborasi manusia-AI yang cocok untuk konteks non-Barat? Bagaimana jika naskah proklamasi 1945 ditulis ulang dengan bantuan AI hari ini — apakah sistem akan mengenali nuansa 'keadilan sosial' atau 'kemandirian bangsa' sebagai parameter yang setara dengan 'freedom' atau 'liberty' dalam korpus pelatihan utamanya? Jawaban atas pertanyaan ini belum tersedia, bahkan di laboratorium Google sendiri.
Penutupan iklan dengan kalimat 'Some ideas are too important to write alone' memang mengena — tetapi justru mengingatkan kita pada sebuah episode serupa di masa lalu: ketika mesin cetak pertama kali masuk ke Jawa abad ke-19, penerbit seperti Balai Pustaka awalnya menolak menggunakan font standar Eropa untuk mencetak kitab-kitab Jawa. Mereka memilih membuat huruf Jawa khusus, bukan karena teknologi tidak memungkinkan, melainkan karena menyadari bahwa bentuk tulisan turut membentuk cara berpikir. Seperti itulah seharusnya sikap kita terhadap AI: bukan menyangkal kemampuannya, tapi menuntut agar ia belajar berbicara dalam bahasa yang lebih dari sekadar terjemahan.
