Ainesia
Gadget & Hardware

Kepala Vision Pro Tinggalkan Apple untuk Bangun Perangkat AI di OpenAI

Eksekutif kunci Apple yang memimpin pengembangan Vision Pro kabarnya bergabung dengan OpenAI — bukan untuk software, tapi untuk membangun divisi perangkat keras pertama mereka.

(27 Juni 2026)
4 menit baca
Apple Vision Pro headset: Kepala Vision Pro Tinggalkan Apple untuk Bangun Perangkat AI di OpenAI
Ilustrasi Kepala Vision Pro Tinggalkan Apple untuk Bangun Perangkat AI.

Apakah perang perangkat keras AI sudah dimulai — bukan di pabrik Taiwan atau laboratorium Silicon Valley, tapi di ruang rapat antara mantan tim Apple dan pendiri OpenAI?

Apa Arti 'Hardware Division' bagi OpenAI yang Selama Ini Murni Software?

Jawabannya tidak hanya soal chip atau kacamata pintar. Menurut Engadget, Mike Rockwell — eksekutif yang memimpin tim Vision Pro sejak 2019 dan dikenal sebagai arsitek utama integrasi real-time passthrough, eye-tracking presisi tinggi, dan sistem audio spatial 3D — telah mengundurkan diri dari Apple untuk bergabung dengan OpenAI. Tugasnya bukan mengembangkan model bahasa, tapi juga mendirikan divisi perangkat keras pertama OpenAI. Ini bukan pelengkap, tapi pergeseran strategis radikal: dari platform AI yang berjalan di server dan smartphone, ke perangkat fisik yang dirancang khusus untuk menjalankan dan mengakses AI secara langsung.

OpenAI selama ini menolak membuat hardware. Sam Altman bahkan menyebut pada 2023 bahwa fokus mereka adalah 'memastikan AI aman dan bermanfaat', bukan memproduksi perangkat. Namun, tekanan pasar mulai mengubah narasi itu. Di tengah persaingan ketat dengan Anthropic yang bermitra dengan Amazon untuk perangkat AI, serta Google yang mempercepat integrasi Gemini ke Pixel dan Wear OS, OpenAI kehilangan kendali atas cara pengguna berinteraksi dengan teknologinya. Tanpa hardware sendiri, mereka tergantung pada keputusan desain Apple, Samsung, atau Microsoft — yang masing-masing punya agenda komersial dan batasan privasi tersendiri.

Baca juga: Mosseri Klaim Tak Tahu Data Keselamatan Remaja Dibatasi

Kenapa Rockwell, Bukan Insinyur AI Lain, yang Dipilih?

Karena ia tidak hanya insinyur perangkat keras biasa. Rockwell memimpin tim lebih dari 2.000 orang di Apple's Vision Pro, mengelola kolaborasi lintas disiplin antara optik, sensor, thermal management, dan sistem operasi real-time. Ia juga yang menentukan keputusan krusial seperti penempatan kamera passthrough di sisi kiri-kanan lensa, pemilihan material magnesium-aluminium untuk ringan, tapi juga stabil, dan toleransi kesalahan tracking mata di bawah 0,5 derajat — angka yang belum dicapai oleh kebanyakan headset AR komersial saat ini. Dilansir Engadget, kepindahannya bukan transisi karier biasa, tapi transfer kapabilitas sistemik: kemampuan membangun perangkat kompleks yang harus bekerja sempurna di tangan konsumen, bukan hanya di lab.

Ini juga menjelaskan mengapa OpenAI tidak merekrut dari industri semikonduktor atau startup wearable. Mereka butuh orang yang paham betul bagaimana AI berubah menjadi pengalaman manusia — bukan lewat prompt, tapi lewat gerak mata, gestur telapak tangan, dan respons suara dalam milidetik. Rockwell pernah mengatakan dalam wawancara internal Apple tahun 2022: 'Vision Pro bukan tentang menampilkan layar di udara. Ini tentang menghapus batas antara niat dan eksekusi.' Kalimat itu kini tampak seperti peta jalan untuk apa yang akan dibangun di OpenAI.

Baca juga: Komposter Dapur AI: Uji Coba 2 Tahun dan Realitas di Rumah Jakarta

Di Indonesia, dampaknya mungkin tak terasa langsung — tapi bukan berarti tak relevan. Pasar wearable lokal masih didominasi smartband murah dan earbud dasar. Namun, startup seperti Qlue dan Kata.ai mulai menguji integrasi AI ke perangkat edge untuk monitoring infrastruktur kota dan layanan publik. Jika OpenAI benar-benar meluncurkan hardware generasi pertama dalam dua tahun ke depan, maka ekosistem developer lokal akan menghadapi pilihan: menyesuaikan API mereka ke platform baru, atau tertinggal di belakang standar interaksi baru yang ditentukan dari Palo Alto.

Rockwell bukan satu-satunya talenta Apple yang berpindah ke perusahaan AI. Sejak 2023, setidaknya tujuh insinyur senior dari tim Vision Pro dan AR/VR Apple telah bergabung dengan perusahaan seperti Humane, Rabbit, dan Inflection AI — semua sedang membangun perangkat AI-native. Tren ini bukan kebocoran, tapi migrasi strategis: para pembangun perangkat masa depan kini lebih percaya pada visi AI-first daripada ekosistem device-first.

Fakta tambahan yang jarang disorot: Rockwell pernah menjabat sebagai direktur teknologi di Magic Leap antara 2014–2016 — perusahaan yang gagal mempertahankan posisi di pasar AR karena terlalu fokus pada teknologi daripada pengalaman pengguna. Kini, ia membawa pelajaran itu ke OpenAI: hardware bukan soal spesifikasi, tapi soal kepercayaan pengguna bahwa AI bisa dipercaya untuk mengambil alih tugas-tugas sehari-hari — tanpa delay, tanpa error, dan tanpa kehilangan kendali.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar