Bayangkan seorang desainer grafis di Jakarta sedang menyiapkan presentasi klien. Ia mengetik di ChatGPT: 'Buatkan konsep visual untuk kampanye keberlanjutan kota Bandung — tampilkan petani muda, sungai bersih, dan teknologi pertanian presisi'. Dalam tiga detik, muncul tiga sketsa berbasis teks yang terlihat profesional. Satu di antaranya bahkan memuat foto realistis petani dengan latar belakang sawah beririgasi modern — bukan hasil jepretan kameranya sendiri, tapi gambar dari perpustakaan Getty Images yang telah diotorisasi OpenAI.
Siapa yang Mengendalikan Gambar di Era AI Generatif?
Pertanyaan ini tak lagi teoretis setelah OpenAI dan Getty Images mengumumkan kerja sama eksklusif pada awal Mei 2024. Dilansir Engadget, kesepakatan itu memungkinkan OpenAI menggunakan konten visual Getty — yang mencakup lebih dari 450 juta aset foto, ilustrasi, dan video — dalam produk pencarian berbasis AI dan antarmuka ChatGPT. Ini bukan kolaborasi pertama OpenAI dengan penyedia konten, tapi yang paling ambisius dalam hal cakupan hak penggunaan dan integrasi teknis.
Yang membedakan adalah model lisensinya: Getty tidak hanya menjual akses, tapi turut serta dalam pelatihan model OpenAI melalui data berlabel tinggi. Foto-foto profesional dari fotografer seperti David Grossman atau dokumenter lingkungan seperti Paula Bronstein — yang selama puluhan tahun menjadi acuan jurnalistik global — kini menjadi bagian dari dataset yang membentuk cara AI memahami 'petani muda', 'sungai bersih', atau 'teknologi pertanian presisi'. Artinya, citra visual yang dulu dikontrol ketat oleh hak cipta dan lisensi komersial, kini menjadi bahan baku pembelajaran mesin.
Baca juga: Komposter Dapur AI: Uji Coba 2 Tahun dan Realitas di Rumah Jakarta
tidak hanya Lisensi, Tapi Rekonstruksi Nilai Kreatif
Kesepakatan ini bukan transaksi satu arah. Getty Images mendapat royalti berbasis penggunaan, plus akses ke teknologi OpenAI untuk memperkuat sistem pencarian internalnya. Namun dampaknya jauh melebihi soal pendapatan. Di Indonesia, misalnya, ratusan fotografer lepas dan agensi lokal seperti Antara Photo atau Liputan6 Visual selama ini mengandalkan lisensi mikro (microstock) sebagai sumber utama penghasilan. Sementara itu, platform seperti Shutterstock dan Adobe Stock sudah mengintegrasikan AI-generasi gambar sejak 2023 — tetapi masih membatasi outputnya agar tidak meniru gaya spesifik fotografer tertentu. Getty justru memilih jalur berbeda: memasukkan karyanya secara eksplisit ke dalam mesin pencipta.
Menurut Engadget, langkah ini juga memicu diskusi baru di kalangan kurator visual dan lembaga kekayaan intelektual di ASEAN. Di Indonesia, UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta belum mengatur secara eksplisit penggunaan karya untuk pelatihan model AI. Pasal 40A yang mengizinkan penggunaan karya tanpa izin untuk 'tujuan penelitian' pun tidak mencakup pelatihan komersial skala besar. Banyak fotografer lokal justru kehilangan kendali atas distribusi karyanya — tanpa mekanisme kompensasi yang transparan.
Baca juga: Apa Sebenarnya yang Terjadi Saat Video Di-Upgrade ke 4K?
industri kreatif Indonesia mulai merasakan tekanan ganda. Permintaan klien untuk konten visual instan meningkat, tetapi anggaran produksi justru menyusut. Sebuah studi Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) tahun 2023 menunjukkan bahwa 68% agensi kreatif di Jakarta kini menerima permintaan 'gambar AI-ready' dalam brief proyek — namun hanya 12% yang memiliki kebijakan internal soal atribusi atau royalti jika gambar tersebut berasal dari database berlisensi seperti Getty.
OpenAI tidak mengunci akses ke platform ini hanya untuk klien korporat. Fitur integrasi gambar Getty sudah aktif di versi ChatGPT Plus dan Enterprise — artinya, startup teknologi di Yogyakarta atau tim pemasaran UMKM di Makassar bisa mengakses visual berkualitas tinggi tanpa harus membeli lisensi per gambar. Ini memang mempercepat produksi konten, tetapi juga mengaburkan garis antara karya orisinal dan output sintetis yang dibangun dari fondasi karya orang lain.
Bagi Getty, ini adalah strategi bertahan di tengah ancaman AI yang semakin mampu mensimulasikan gaya visual manusia. Bagi OpenAI, ini adalah cara memperkuat akurasi dan kepercayaan pengguna terhadap hasil generatif — karena gambar yang dihasilkan bukan fiksi abstrak, tapi juga representasi visual yang diverifikasi oleh pakar. Namun bagi para pencipta, pertanyaannya tetap sama: siapa yang benar-benar mengendalikan gambar ketika mesin mulai belajar dari karya mereka — tanpa diminta izin, tanpa transparansi proses, dan tanpa mekanisme pembagian nilai yang adil?
'This partnership is about building the future of visual storytelling — responsibly and collaboratively', kata Craig Peters, CEO Getty Images, dalam pernyataan resminya.
