Ainesia
Gadget & Hardware

Dokumenter The AI Doc Bedah Kecemasan Masa Depan Teknologi

Film dokumenter terbaru Daniel Roher menyoroti kecemasan terhadap AI melalui wawancara dengan para ahli industri dan kritikus teknologi terkemuka.

(2 jam yang lalu)
5 menit baca
AI question in sketchbook: Dokumenter The AI Doc Bedah Kecemasan Masa Depan Teknologi
Ilustrasi Dokumenter The AI Doc Bedah Kecemasan Masa Depan Teknologi.

Daniel Roher merilis film dokumenter terbaru yang menyoroti kecemasan manusia terhadap masa depan kecerdasan buatan secara mendalam. Judul lengkap karya sinematik ini adalah The AI Doc: Or How I Became an Apocaloptimist yang tayang di bioskop mulai akhir pekan ini. Film tersebut tidak benar-benar membawa cahaya baru bagi para ahli teknologi yang sudah mendalami bidang ini secara intensif. Fokus utama narasi justru terletak pada ketegangan antara rigor teknologi dan kecemasan emosional yang dirasakan sutradara.

Sutradara merasa gelisah mengenai dunia yang akan diwariskan kepada anaknya nanti dalam kondisi ketidakpastian ini. Ia mempertanyakan apakah masa depan tersebut akan menjadi utopia yang digerakkan oleh AI atau justru menuju kehancuran tertentu. Narasi semacam ini sebenarnya sudah sering dieksplorasi dalam countless sci-fi stories sebelumnya namun tetap relevan. Roher berusaha mencari jawaban atas kekhawatiran pribadi tersebut melalui proses produksi film ini.

Untuk mencari jawaban, Roher mewawancarai sejumlah pendukung dan kritikus AI paling terkenal di industri teknologi global. Dilansir Engadget, narasumber tersebut mencakup penulis buku The Empire of AI Karen Hao yang mencatat kenaikan OpenAI. Ia juga berbicara dengan peneliti AI Emily Bender serta CEO Anthropic Dario Amodei untuk mendapatkan perspektif berimbang. Buku Hao sendiri menggambarkan sifat bisnis yang genting dari perusahaan teknologi tersebut.

Baca juga: Panduan SSD Eksternal Terbaik 2026 Menurut Wired

Penonton utama film ini bukanlah mereka yang sudah mendalami teknologi secara intensif atau tech-heads. Roher berusaha memecahkan keadaan AI untuk audiens arus utama yang mungkin hanya sesekali menggunakan ChatGPT. Kelompok ini seringkali belum menyadari mengapa teknologi seperti Google's Gemini menjadi kontroversial di masyarakat luas. Film ini berupaya menjembatani kesenjangan pengetahuan tersebut bagi pengguna biasa.

Poster film dokumenter The AI Doc menampilkan wajah Daniel Roher dengan latar belakang grafis jaringan saraf tiruan
Ilustrasi: Poster film dokumenter The AI Doc menampilkan wajah Daniel Roher dengan latar belakang grafis jaringan saraf tiruan

Film ini secara khusus menyoroti pengabdian hampir religius yang dimiliki banyak orang di dunia teknologi terhadap AI. Roher pada akhirnya mengadopsi pandangan yang disebut sebagai apocaloptimist dalam dokumenter berdurasi satu jam 43 menit itu. Ia sadar potensi bahaya AI akan memberikan dampak sosial yang serius bagi struktur masyarakat manusia. Namun demikian, ia percaya manusia memiliki kemampuan untuk membentuk arah perkembangan teknologi tersebut.

Para pendukung AI memiliki keyakinan hampir religius tentang kejadian artificial general intelligence atau AGI yang dianggap inevitabel. AGI didefinisikan sebagai AI yang dapat menyamai dan melampaui kemampuan manusia dalam berbagai tugas kognitif. Roher berargumen bahwa AGI bukanlah sesuatu yang tak terhindarkan dan ada ruang bagi publik untuk menolak. Kritikus dan masyarakat umum memiliki peran penting dalam menentukan nasib teknologi ini.

Baca juga: Elon Musk Bangun Pabrik Chip di Texas Karena Keluhan Kecepatan

Kita sudah melihat contoh kecil perlawanan AI yang terjadi di lapangan saat ini sebagai bukti nyata. Respons negatif terhadap AI upscaling DLSS 5 milik NVIDIA menjadi salah satu indikator penolakan pengguna. Microsoft juga memiliki rencana terbaru untuk menarik kembali fitur Copilot AI di Windows 11 karena berbagai pertimbangan. Langkah perusahaan besar ini menunjukkan adanya tekanan dari pasar terhadap implementasi AI.

OpenAI bahkan menutup aplikasi generasi video AI bernama Sora mereka meskipun alasannya mungkin karena biaya besar. Sora certainly seen plenty of criticism selama pengembangannya sebelum keputusan penutupan tersebut diambil. Jika cukup banyak orang mengatakan tidak pada berbagai implementasi AI, perusahaan teknologi kemungkinan akan merespons. Tekanan publik terbukti mampu mempengaruhi keputusan bisnis di sektor ini.

Dokumenter ini membagi narasi antara true believers seperti CEO OpenAI Sam Altman dan kritikus seperti Tristan Harris. Harris adalah co-founder dan president dari Center of Humane Technology yang memberikan pandangan kritis tajam. Ada juga profesor linguistik Emily M. Bender yang memberikan pandangan ekstrem tentang akhir umat manusia. Namun perspektif Timnit Gebru tentang techno-fascism di Silicon Valley tidak sepenuhnya tergali dalam film ini.

Perbandingan dengan dokumenter lain seperti Ghost in the Machine menunjukkan The AI Doc kurang menggali kekuatan pendorong di balik AI. Ghost in the Machine akan tayang musim panas ini dan mengudara di PBS musim gugur dengan fokus pada eugenics. Harris menyebutkan beberapa temannya yang bekerja dalam penilaian risiko AI percaya anak-anak mereka tidak akan melihat sekolah menengah. Kecemasan itu kembali muncul sebagai penutup yang menggugah pikiran penonton.

Bagikan artikel ini

Komentar