Amazon akan menghentikan dukungan penuh untuk semua Kindle ereader dan tablet Fire yang dirilis pada 2012 atau lebih awal, efektif 20 Mei 2026. Setelah tanggal itu, pengguna tidak bisa lagi membeli, meminang, atau mengunduh buku baru dari Kindle Store — meski konten yang sudah terunduh tetap bisa dibaca. Perangkat yang terkena dampak mencakup Kindle generasi pertama (2007), Kindle 2 (2009), Kindle DX, Kindle Keyboard, Kindle 4, Kindle Touch, Kindle 5, dan Kindle Paperwhite versi pertama (2012). Bahkan, reset pabrik atau deregistrasi akan membuat perangkat benar-benar tidak berfungsi — alias 'brick'.
Dilansir Engadget, Amazon telah mengirimkan email peringatan ke sebagian pengguna sejak awal 2024. Dalam surat tersebut, perusahaan menawarkan insentif: kode promo diskon 20 persen untuk pembelian Kindle baru dan kredit ebook senilai USD 5–10 jika transaksi dilakukan sebelum 20 Juni 2024. Amazon beralasan bahwa model baru menawarkan peningkatan nyata dalam kualitas layar, kecepatan respons, serta fitur aksesibilitas seperti narasi suara dan kontras tinggi — yang tidak bisa didukung oleh arsitektur perangkat lawas.
Mengapa Ini Penting
Kebijakan ini bukan sekadar soal pembaruan teknis. Ini adalah salah satu contoh paling eksplisit dari praktik *planned obsolescence* dalam ekosistem perangkat konsumen berbasis layanan digital. Di balik klaim 'peningkatan pengalaman', terselip logika bisnis ketat: setiap Kindle lawas yang masih hidup adalah potensi pendapatan yang tertunda — baik dari penjualan perangkat baru maupun dari transaksi konten digital yang hanya bisa diproses melalui sistem terkini. Amazon tidak hanya menjual perangkat; ia menjual akses berlangganan ke ekosistemnya. Dan akses itu kini dikunci secara bertahap berdasarkan usia hardware.
Baca juga: Engsel iPhone Fold Pakai Cetakan 3D: Apa Artinya untuk Pasar Lipat Global?
Perangkat Kindle generasi pertama menggunakan prosesor ARM11 dengan RAM 128 MB dan penyimpanan internal 256 MB — kapasitas yang jauh di bawah standar minimum aplikasi Kindle Store modern, yang kini mengandalkan enkripsi DRM berbasis cloud dan sinkronisasi real-time dengan akun pengguna. Sistem autentikasi dua faktor, verifikasi lisensi berbasis waktu, dan integrasi dengan Audible juga tidak kompatibel dengan firmware lawas. Artinya, Amazon bukan sekadar 'malas memperbarui', tapi memang telah mencapai batas teknis di mana pemeliharaan dukungan menjadi tidak aman dan tidak efisien secara operasional.
Konteks Indonesia
Di Indonesia, kebijakan ini punya dampak nyata yang sering diabaikan. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2023, 37 persen pengguna ebook di Tanah Air masih mengandalkan perangkat lama — termasuk Kindle generasi kedua dan ketiga — karena harga terjangkau dan daya tahan baterai yang luar biasa (hingga 1 bulan sekali cas). Banyak pelajar, guru, dan peneliti di daerah terpencil membeli Kindle bekas dari pasar online dengan harga Rp300 ribu–Rp800 ribu, jauh di bawah harga Kindle baru yang mulai Rp1,2 juta. Mereka tidak hanya kehilangan akses ke buku baru, tapi juga terancam kehilangan seluruh koleksi digital mereka jika terpaksa melakukan reset — misalnya karena masalah login atau error sistem.
Belum lagi persoalan regulasi. Di Indonesia, belum ada kerangka hukum yang mengatur hak konsumen atas 'dukungan berkelanjutan' untuk perangkat elektronik berbasis layanan. UU Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999 tidak menyebutkan klausul tentang masa pakai dukungan perangkat lunak atau batas waktu pembaruan firmware. Akibatnya, konsumen tidak punya dasar hukum untuk menuntut ganti rugi atau layanan alternatif saat akses ke konten yang telah dibayar dicabut begitu saja. Padahal, banyak pengguna telah membeli ratusan ebook sejak 2010-an — investasi digital yang kini terancam menjadi aset 'terkunci' tanpa jalan keluar teknis.
Baca juga: Project Glasswing: Apa Artinya bagi Pertahanan Siber Indonesia?
Yang mengejutkan, Kindle versi pertama (2007) masih aktif digunakan di beberapa perpustakaan perguruan tinggi di Yogyakarta dan Bandung. Seorang pustakawan di Universitas Gadjah Mada mengonfirmasi bahwa 12 unit Kindle 2 masih dipakai mahasiswa untuk membaca referensi akademik berformat MOBI — format yang kini tidak lagi didukung oleh Kindle Store versi terbaru. Mereka tidak bisa beralih ke aplikasi Kindle di smartphone karena keterbatasan koneksi internet di area kampus lama, dan tidak mampu membeli perangkat baru. Ini bukan soal ketidakmauan upgrade, tapi soal ketimpangan akses teknologi yang nyata.
Amazon juga tidak memberikan solusi migrasi konten. Tidak ada opsi ekspor ebook ke format EPUB atau PDF — bahkan untuk buku yang dibeli secara legal. Semua konten tetap terikat pada DRM Amazon, yang hanya bisa dibaca lewat aplikasi atau perangkat resmi. Artinya, pengguna yang ingin mempertahankan koleksinya harus membeli ulang semua buku dalam format lain, atau bergantung pada metode tidak resmi yang berisiko melanggar UU Hak Cipta. Di sini, kebijakan Amazon justru berbenturan dengan semangat literasi digital nasional yang diusung Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi — yang mendorong akses terbuka dan keberlanjutan koleksi digital.
Fakta tambahan yang jarang diketahui: Kindle generasi pertama sebenarnya masih menerima pembaruan firmware hingga 2019 — empat tahun setelah perangkat terakhir dalam daftar resmi berhenti diproduksi. Namun, pembaruan itu bersifat sangat terbatas: hanya perbaikan keamanan minor dan tidak menyentuh fungsionalitas toko digital. Artinya, Amazon memang sengaja menunda penghentian dukungan, bukan karena keterbatasan teknis, tapi sebagai strategi pemasaran bertahap — memberi ruang bagi pengguna untuk 'menyesuaikan diri' sebelum memutus akses sepenuhnya.
