Bayangkan seorang guru SD di Salt Lake City yang mengalami kecemasan kronis sejak pandemi. Ia sudah rutin minum sertraline selama tiga tahun, kontrol berkala via telehealth, dan kini ingin memperbarui resep. Tahun lalu, ia harus menunggu dua minggu untuk janji dengan psikiater—yang saat itu sedang overload. Tahun ini, cukup membuka aplikasi, menjawab 12 pertanyaan skrining berbasis AI, dan dalam 48 jam, resep baru dikirim ke apotek langganannya. Tidak ada wajah dokter, tidak ada rekam medis manual, hanya algoritma yang menilai stabilitas gejala, riwayat efek samping, dan interaksi obat.
Skema ini bukan fiksi ilmiah. Mulai April 2024, negara bagian Utah secara resmi meluncurkan uji coba satu tahun yang memungkinkan sistem kecerdasan buatan Legion Health memperpanjang resep obat psikiatri tertentu—tanpa konsultasi langsung dengan dokter atau psikiater. Ini hanya kali kedua di Amerika Serikat setelah Arizona pada 2023, dan menjadi preseden paling kontroversial dalam regulasi AI kesehatan hingga kini. Dilansir The Verge, pilot program ini berfokus pada obat-obatan seperti sertraline, escitalopram, dan bupropion—semua golongan antidepresan generasi baru dengan profil keamanan relatif tinggi, namun tetap berisiko jika digunakan tanpa evaluasi klinis menyeluruh.
Konteks Indonesia
Di Indonesia, regulasi obat psikiatri justru semakin ketat. Sejak 2022, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mewajibkan semua layanan telepsikiatri—termasuk platform seperti Halodoc dan KlikDokter—untuk memastikan setiap resep ditandatangani digital oleh psikiater terdaftar, dengan verifikasi identitas pasien lewat KTP dan foto wajah real-time. Tidak ada celah bagi sistem otomatis. Bahkan, Kementerian Kesehatan melarang penggunaan chatbot sebagai pengganti konsultasi awal untuk gangguan mental berat seperti skizofrenia atau bipolar. Fakta ini membuat eksperimen Utah justru menjadi cermin tajam: sementara negara maju mulai mendelegasikan otoritas klinis ke algoritma, Indonesia masih berada di tahap membangun infrastruktur dasar—dengan hanya 1.200 psikiater aktif untuk 275 juta jiwa, atau rasio 0,4 psikiater per 100.000 penduduk, jauh di bawah standar WHO sebesar 3 per 100.000.
Baca juga: 40 Truk Angkut Sampah Pasar Induk: Ketika AI Tak Bisa Gantikan Petugas Kebersihan
Legion Health menawarkan model berlangganan $19/bulan, setara Rp280 ribu—harga yang justru lebih mahal dari biaya konsultasi psikiater di puskesmas (gratis) atau klinik swasta kelas menengah (Rp150–250 ribu). Di Jakarta atau Bandung, pasien berpenghasilan menengah ke bawah justru lebih mungkin mengandalkan layanan gratis melalui aplikasi SehatQ atau layanan kolaboratif RSJ dr. Soeharto Heerdjan yang bekerja sama dengan Komunitas Peduli Skizofrenia. Artinya, risiko bukan hanya pada kesalahan klinis, tapi juga pada penajaman ketimpangan akses: AI mungkin mempercepat layanan bagi yang mampu bayar, sementara kelompok rentan tetap terjebak dalam antrean panjang atau stigma yang belum terurai.
Mengapa Ini Penting
Yang paling mengkhawatirkan bukan bahwa AI bisa salah mendiagnosis—melainkan bahwa kesalahannya tak bisa dilacak. Legion Health tidak mengungkap arsitektur model, dataset pelatihan, maupun metrik validasi klinisnya. Tidak ada audit independen dari American Psychiatric Association atau FDA. Menurut laporan The Verge, sistem ini hanya diuji internal terhadap 1.200 rekam medis anonim, tanpa publikasi hasil sensitivitas dan spesifisitas terhadap populasi berisiko tinggi seperti remaja atau lansia. Padahal, studi JAMA Psychiatry 2023 menunjukkan bahwa 37% pasien usia 16–24 tahun yang menggunakan antidepresan tanpa pemantauan intensif mengalami peningkatan pikiran bunuh diri dalam 4 minggu pertama—risiko yang tidak bisa diabaikan oleh algoritma statis.
Di sisi lain, tekanan sistem kesehatan memang nyata. Di Utah, rasio psikiater per kapita hanya 1,8 per 100.000—lebih rendah dari rata-rata nasional AS sebesar 2,5. Namun, solusi teknologis tidak boleh mengorbankan prinsip dasar kedokteran: *primum non nocere* (pertama-tama jangan membahayakan). Alih-alih menggantikan dokter, pendekatan lebih aman adalah augmentasi—misalnya, AI yang membantu triase awal, lalu mengarahkan pasien ke profesional sesuai tingkat urgensi. Model seperti itu sudah diuji di RSUD Dr. Soetomo Surabaya sejak 2023, dengan chatbot skrining depresi yang hanya menghasilkan rekomendasi rujukan, bukan resep.
Baca juga: Sony Beli Startup AI untuk Ubah Foto Jadi 3D — Apa Artinya bagi Game Masa Depan?
Fakta tambahan yang jarang disorot: Legion Health bukan startup biasa. Pendirinya termasuk mantan eksekutif di OptumHealth, anak usaha UnitedHealth Group—perusahaan asuransi kesehatan terbesar di AS yang memiliki insentif finansial langsung atas pengurangan kunjungan rawat jalan. Dalam model bisnis mereka, setiap resep yang diproses tanpa kunjungan dokter menghemat biaya administrasi sekitar $120–$180. Itu bukan sekadar inovasi klinis—melainkan rekayasa ekonomi yang memindahkan risiko ke pasien, sambil mempercepat aliran pendapatan.
