Di sebuah ruang rapat di gedung Lazada Tower Jakarta, seorang manajer operasional menerima notifikasi email pukul 09.17 WIB: daftar nama rekan kerja yang tak lagi masuk ke sistem payroll mulai pekan depan. Salah satunya adalah staf koordinasi logistik yang selama tiga tahun mengawal pengiriman ke 27 kabupaten di Jawa Timur. Ia bukan satu-satunya. Di Singapura, Malaysia, dan Thailand, skenario serupa terjadi dalam waktu hampir bersamaan — bukan karena kesalahan individu, tapi karena keputusan strategis yang sudah dihitung ulang dengan algoritma.
Layanan Logistik yang Tak Lagi Butuh Banyak Manusia
Lazada mengonfirmasi pemangkasan 5% dari total tenaga kerja regionalnya — angka yang tampak kecil, namun bermakna besar dalam konteks struktur operasional e-commerce Asia Tenggara. Menurut TechInAsia, langkah ini dilakukan secara bertahap sejak kuartal II 2024, dengan fokus utama pada posisi administratif, koordinasi gudang, dan verifikasi manual pesanan. Yang hilang bukan hanya orang, tapi lapisan proses yang dulu menjadi tulang punggung layanan: pengecekan fisik paket, input data dua kali lipat, dan intervensi manual saat sistem gagal membaca kode QR. Sekarang, semua itu dialihkan ke modul AI yang terintegrasi dengan sistem manajemen gudang otomatis (WMS) dan platform pelacakan real-time berbasis computer vision.
Teknologi ini bukan baru — tapi adopsinya kini dipaksa oleh tekanan margin. Biaya operasional logistik di Asia Tenggara rata-rata menyumbang 22–28% dari harga jual produk, menurut laporan Bank Dunia 2023. Di tengah perlambatan pertumbuhan GMV dan persaingan harga ketat dengan Shopee serta Tokopedia, efisiensi bukan lagi pilihan, melainkan syarat bertahan. Lazada tidak sendiri: Grab mengurangi tim layanan pelanggan internal sebesar 12% pada Maret 2024, sementara GoTo mengalihkan 65% fungsi dukungan teknis ke chatbot berbasis LLM lokal.
Baca juga: Huawei dan HP Sepakat Bayar Royalti Wi-Fi 6, Tapi Siapa yang Menang di Pasar Indonesia?
Siapa yang Benar-Benar Terdampak di Indonesia?
Di Indonesia, dampaknya tidak merata. Data internal yang bocor ke media lokal menunjukkan bahwa 70% dari posisi yang dihapus berada di level middle management dan staf operasional lapangan — bukan di divisi teknologi atau produk. Artinya, yang tersingkir bukan insinyur AI, melainkan orang-orang yang dulu menjadi 'jembatan' antara sistem dan realitas: koordinator kurir, petugas verifikasi pembayaran, dan supervisor gudang yang mengandalkan pengalaman daripada dashboard. Mereka adalah generasi transisi — bekerja di era digitalisasi awal, tapi tidak sempat menguasai skill baru sebelum sistem menggantikan perannya sepenuhnya.
Dilansir TechInAsia, Lazada tidak memberikan program reskilling skala besar untuk karyawan yang di-PHK. Alih-alih pelatihan ulang, perusahaan menawarkan paket pensiun dini dan referensi kerja ke mitra logistik seperti JNE dan SiCepat — yang justru sedang mengalami tekanan serupa. Ini menciptakan efek domino: penurunan permintaan tenaga kerja berketerampilan menengah di rantai pasok e-commerce, tanpa peningkatan signifikan dalam permintaan untuk talenta AI atau integrasi sistem.
Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi
Padahal, kebutuhan teknis justru meningkat. Platform seperti Lazada kini mengandalkan model prediktif untuk estimasi waktu pengiriman, deteksi fraud otomatis, dan optimasi rute kurir berbasis cuaca dan kemacetan. Namun, pengembangan dan pemeliharaan sistem itu tidak memerlukan ratusan orang — cukup puluhan engineer dan data scientist yang terlatih. Perbandingannya jelas: satu model machine learning bisa menggantikan 200 jam kerja manual per minggu, tapi membutuhkan maksimal tiga orang untuk menjaganya.
pemangkasan ini terjadi di saat investasi teknologi Lazada justru naik 40% year-on-year, menurut laporan internal yang dikutip oleh Kontan. Dana dialihkan dari SDM operasional ke pengembangan infrastruktur AI di pusat data Singapura dan kolaborasi dengan startup lokal seperti Kata.ai dan Sirclo untuk custom LLM berbasis bahasa Indonesia. Artinya, transformasi bukan soal mengurangi teknologi — tapi mengganti manusia dengan teknologi yang lebih murah dan konsisten.
mirip dengan gelombang PHK di industri telekomunikasi awal 2000-an, ketika operator seperti Telkomsel dan Indosat mengganti call center berbasis manusia dengan IVR dan SMS gateway. Saat itu, 15.000 pekerja layanan pelanggan hilang dalam dua tahun — tapi muncul 3.000 posisi baru di bidang integrasi sistem dan manajemen database. Bedanya kini: kecepatan pergantian jauh lebih tinggi, sementara ekosistem pelatihan nasional belum siap menangkap gelombang kedua itu. Tidak ada lagi jeda dua tahun untuk beradaptasi — hanya dua kuartal.
