Bagaimana sebuah startup India berani membangun pabrik chip dari nol di tengah dominasi TSMC, Samsung, dan Intel — sementara Indonesia masih mengimpor 99,7% komponen elektroniknya?
Jawabannya mulai terlihat di kawasan industri Dahej, Gujarat. Di sana, CG Semi — perusahaan rintisan yang didirikan oleh mantan insinyur Qualcomm dan ARM — resmi mengoperasikan fasilitas produksi chip pertamanya pada kuartal II 2024. Kapasitas awalnya 200 juta unit per tahun. Target jangka menengahnya: 5 miliar chip per tahun. Angka ini setara dengan 12% dari total produksi global chip analog dan power management IC pada 2023, menurut laporan SEMI Global Wafer Fab Forecast.
Dilansir TechInAsia, CG Semi tidak membangun fab kelas 3nm seperti pabrik TSMC di Arizona. Mereka fokus pada proses 180nm hingga 90nm — teknologi yang masih sangat relevan untuk otomotif, industri, dan perangkat IoT di Asia Tenggara dan Afrika. Pilihan ini bukan kekurangan kapasitas, melainkan strategi: mengisi celah pasar yang ditinggalkan produsen besar karena margin rendah, tetapi volume tinggi dan permintaan stabil.
Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi
Kenapa Gujarat, Bukan Bengaluru atau Hyderabad?
Gujarat bukan pusat teknologi India. Tidak seperti Bengaluru yang dikenal sebagai Silicon Valley-nya India, atau Hyderabad yang punya ekosistem R&D kuat, Gujarat justru dipilih karena infrastruktur logistik dan kebijakan fiskal yang konkret. Pemerintah negara bagian memberikan insentif langsung: bebas pajak tanah selama 10 tahun, subsidi listrik hingga 40%, dan izin lingkungan dalam waktu 45 hari — jauh lebih cepat daripada rata-rata nasional yang memakan 6–8 bulan. Fasilitas CG Semi juga berlokasi hanya 12 km dari pelabuhan Dahej, memangkas biaya distribusi ke Vietnam, Thailand, dan Malaysia hingga 22% dibanding ekspor dari Chennai.
CG Semi tidak membangun fab dari nol secara fisik. Mereka mengakuisisi aset bekas pabrik display LCD milik perusahaan Jepang yang tutup pada 2021, lalu mengonversinya menjadi cleanroom untuk fab chip analog. Investasi modal awal hanya USD 180 juta — seperlima dari biaya fab baru 28nm di China. Ini membuktikan bahwa skala bukan satu-satunya jalan masuk ke rantai pasok semikonduktor. Adaptasi aset eksisting bisa jadi pintu masuk bagi negara berkembang.
Baca juga: Stripe Masuk Singapura: Apa Artinya untuk UMKM Indonesia?
Apa yang Hilang dari Peta Produksi Chip Asia Tenggara?
Di tengah euforia investasi fab di India dan Malaysia, peta produksi chip Asia Tenggara masih memiliki kekosongan kritis: tidak ada satu pun negara di kawasan ini yang memiliki kemampuan desain IP (intellectual property) chip berbasis proses sub-130nm. Malaysia punya packaging dan testing, Vietnam fokus pada assembly, Thailand unggul di sensor dan aktuator — tapi semua itu bergantung pada desain dari luar: AS, Taiwan, atau bahkan Israel. CG Semi justru membangun tim desain sendiri di Pune, dengan 70% insinyurnya lulusan IIT Bombay dan IISc Bangalore — bukan hanya operator fab, tapi pembuat arsitektur chip.
Ini penting karena tanpa kontrol atas desain IP, negara hanya jadi 'penyedia jasa' — bukan pemain utama. Indonesia misalnya, meski punya program Making Indonesia 4.0 dan insentif tax holiday untuk manufaktur elektronik, belum memiliki satu pun perusahaan lokal yang mampu mendesain chip sistem-on-chip (SoC) untuk kendaraan listrik atau smart grid. Sementara CG Semi sudah mengirimkan sampel chip pengatur daya untuk inverter mobil listrik ke tiga produsen EV India pada Q2 2024.
Teknologi chip bukan lagi soal kecepatan atau ukuran transistor semata. Ini soal kedaulatan desain, ketahanan rantai pasok, dan kecepatan respons terhadap kebutuhan lokal. CG Semi tidak mengejar rekor frekuensi clock, tapi mengejar waktu respon: dari permintaan klien hingga pengiriman chip siap pakai — rata-rata 42 hari, jauh di bawah 120 hari standar global. Di dunia di mana lead time chip bisa memperlambat peluncuran produk hingga enam bulan, kecepatan itu adalah keunggulan kompetitif nyata.
Fakta tambahan yang mengejutkan: CG Semi menggunakan 65% tenaga kerja lokal dari Gujarat — bukan insinyur impor — dan semua teknisi fab dilatih di pusat pelatihan bersama yang dibangun bersama Indian Institute of Technology Gandhinagar. Mereka tidak hanya memproduksi chip, tapi juga membangun kapasitas manusia yang bisa ditiru oleh negara lain ; termasuk Indonesia, yang hingga kini belum memiliki satu pun pusat pelatihan fab chip berskala nasional.
