Bayangkan seorang kreator mikro di Bandung, aktif membuat thread analisis kebijakan fiskal tiap minggu, mengandalkan pendapatan dari pembagian iklan X sejak awal 2023. Pagi ini, ia membuka notifikasi aplikasi — dan menemukan pesan bahwa skema penghasilannya berakhir dalam tiga hari. Tidak ada perpanjangan otomatis. Tidak ada opsi negosiasi. Hanya tenggat: 7 September sebagai batas terakhir bagi semua peserta revenue sharing.
Apa yang Hilang dari Skema Lama?
Skema revenue sharing X — yang sempat diikuti lebih dari 50.000 akun global menurut data internal platform — tidak hanya mekanisme bayar-per-klik. Ia menjadi fondasi psikologis bagi kreator baru: jaminan bahwa upaya menulis panjang, memverifikasi data, atau menyusun thread edukatif akan dihargai secara finansial, meski audiens masih kecil. Di Indonesia, banyak akun edukasi ekonomi, teknologi, dan hukum masuk dalam program ini karena algoritma X saat itu memberi bobot tinggi pada engagement organik, bukan hanya viralitas instan. Menurut TechInAsia, skema ini sempat menarik minat kreator lokal yang frustrasi dengan algoritma Instagram atau TikTok yang mengutamakan durasi pendek dan efek visual daripada kedalaman argumen.
Tapi sistem itu punya cacat struktural: tidak ada filter kualitas konten. Akun spam, akun bot, bahkan akun yang mengulang ulang thread lama dengan sedikit modifikasi tetap bisa mengumpulkan impresi dan mendapat bayaran. Platform pun kesulitan membedakan antara kreator yang benar-benar membangun komunitas dan yang hanya 'menggaruk permukaan' untuk dapat uang cepat. Perubahan ini bukan soal penghematan belaka — tapi juga upaya X memperbaiki reputasi sebagai ruang diskusi serius, tidak hanya arena konten instan.
Baca juga: Huawei dan HP Sepakat Bayar Royalti Wi-Fi 6, Tapi Siapa yang Menang di Pasar Indonesia?
Bagaimana Program Baru Mengukur 'Konten Asli'?
Program pengganti, yang dibuka pendaftarannya mulai 8 September, tidak lagi menghitung pendapatan berdasarkan jumlah tayang atau klik. Ia menggunakan kombinasi tiga parameter: durasi rata-rata waktu baca per thread, proporsi interaksi dari akun non-follower (indikator daya tarik luas), dan frekuensi unggah konten orisinal — bukan repost, bukan kutipan tanpa analisis, bukan thread berisi daftar tanpa narasi. Teknologi AI internal X diklaim mampu membedakan antara thread yang ditulis ulang dari artikel media massa dan thread yang memuat data primer, grafik orisinal, atau kutipan wawancara langsung.
Dilansir TechInAsia, X menyebut program baru ini sebagai 'Original Content Rewards', bukan 'Creator Fund'. Perbedaan nama bukan kosmetik: fund mengisyaratkan alokasi dana tetap, sementara rewards bersifat dinamis dan bisa dikurangi jika kualitas turun dua bulan berturut-turut. Untuk kreator Indonesia, ini berarti risiko nyata: akun yang selama ini andalkan thread berita harian tanpa tambahan analisis — seperti ringkasan keputusan BI atau laporan BPS — kemungkinan besar tidak lolos verifikasi. Sistem baru justru menguntungkan akun yang membangun narasi berkelanjutan, misalnya serial thread tentang transformasi UMKM di Jawa Timur atau investigasi kebijakan subsidi pupuk di Sulawesi.
Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi
Yang belum diungkap X adalah kriteria eksplisit penilaian AI-nya. Tidak ada dokumentasi publik tentang bobot masing-masing parameter, atau apakah sistem memperhitungkan bahasa Indonesia sebagai faktor kualitas. Padahal, menurut riset Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) tahun 2023, 68% thread berbahasa Indonesia di X memiliki tingkat retensi baca 40% lebih tinggi dibanding versi Inggrisnya —, tapi juga tidak serta-merta berarti lebih 'orisinal' dalam definisi platform.
Bagi industri kreatif digital Indonesia, perubahan ini tidak hanya soal algoritma. Ini adalah ujian pertama apakah ekosistem kreator lokal mampu berpindah dari logika 'jumlah konten' ke logika 'kedalaman konten'. Platform seperti TikTok dan YouTube Shorts masih menghargai kecepatan dan repetisi; X justru memilih jalur berlawanan — menghargai ketelitian, keberanian menyampaikan argumen kompleks, dan investasi waktu dalam riset., tapi juga pertanyaannya bukan lagi apakah X konsisten. Pertanyaannya adalah: apakah kreator Indonesia siap meninggalkan pola produksi instan demi nilai jangka panjang yang belum pasti terbayar?
