Ainesia
Startup & Bisnis AI

Wise Masuk RPP Malaysia: Akses Langsung ke 24 Juta Pengguna DuitNow

Wise kini terhubung langsung ke jaringan pembayaran nasional Malaysia — langkah strategis yang memangkas biaya dan waktu transfer lintas batas bagi UMKM dan freelancer Indonesia.

(30 Juli 2026)
4 menit baca
QR code payment transaction: Wise Masuk RPP Malaysia: Akses Langsung ke 24 Juta Pengguna DuitNow
Ilustrasi Wise Masuk RPP Malaysia: Akses Langsung ke 24 Juta Pengguna .

Lebih dari 24 juta pengguna aktif DuitNow — sistem pembayaran instan Malaysia — kini bisa menerima dana dari Wise tanpa perantara bank koresponden. Angka ini tidak hanya pencapaian teknis, tapi sinyal kuat bahwa infrastruktur pembayaran lintas batas mulai berpindah dari model lama berbasis SWIFT ke arsitektur langsung antar-jaringan nasional.

Apa Artinya bagi Freelancer Jakarta yang Bayar Kontraktor di Kuala Lumpur?

Bagi seorang desainer grafis di Jakarta yang mengirimkan bayaran ke ilustrator di Petaling Jaya via Wise, proses kini berubah radikal. Dulu, uang harus melewati tiga lapisan: bank lokal Indonesia → bank koresponden di Singapura → bank penerima di Malaysia. Biaya administrasi rata-rata Rp125.000–Rp180.000 per transaksi, dengan waktu proses 1–3 hari kerja. Sekarang, dana masuk langsung ke rekening DuitNow dalam hitungan detik, dengan biaya tetap di bawah Rp65.000 — bahkan lebih murah dari banyak layanan lokal seperti Xendit atau Flip untuk skenario serupa.

Dilansir TechInAsia, integrasi ini memungkinkan Wise menjadi salah satu dari hanya empat penyedia layanan asing yang mendapat akses langsung ke Real-Time Payments Platform (RPP) PayNet — jaringan inti yang menggerakkan DuitNow. PayNet sendiri adalah operator jaringan pembayaran nasional Malaysia yang menghubungkan lebih dari 30 bank komersial, 12 e-wallet, dan lembaga keuangan non-bank seperti TNG Digital dan Boost. Keikutsertaan Wise tidak hanya penambahan nama di daftar mitra, tapi juga juga validasi teknis atas kemampuan platformnya memenuhi standar keamanan dan interoperabilitas tingkat tinggi yang ditetapkan Bank Negara Malaysia.

Baca juga: Startup ASEAN: Apa Arti '18 Bulan Runway' di Tengah Krisis Likuiditas?

Kenapa Bank Lokal Indonesia Belum Bisa Lakukan Hal Sama?

Pertanyaannya bukan lagi 'bisa atau tidak', tapi 'siap atau belum'. Di Indonesia, sistem BI-FAST sudah beroperasi sejak 2022 dan menangani lebih dari 17 juta transaksi harian pada kuartal II-2024 — namun akses langsung bagi penyedia layanan asing masih dibatasi ketat. Regulasi OJK dan Bank Indonesia mensyaratkan entitas asing harus memiliki izin sebagai Penyelenggara Sistem Pembayaran (PSP) atau bekerja melalui bank lokal sebagai agen, bukan mitra teknis setara. Akibatnya, platform seperti Wise atau Revolut belum bisa terhubung langsung ke BI-FAST, meski secara teknis mereka sudah menguasai protokol ISO 20022 dan API real-time.

Padahal, potensi pasar sangat nyata: jumlah freelancer Indonesia yang menerima pembayaran dari luar negeri tumbuh 42% tahun lalu menurut survei Katadata Insight Center, dengan 68% di antaranya mengandalkan platform asing karena keterbatasan opsi lokal. Mereka bukan hanya mengirim uang ke Malaysia — tapi juga ke Filipina, Thailand, dan Vietnam, di mana sistem pembayaran instan nasional sedang diperkuat satu per satu. Wise kini sudah terhubung ke PromptPay (Thailand), InstaPay (Filipina), dan PayNow (Singapura). Malaysia adalah titik kelima — dan satu-satunya di ASEAN yang memberikan akses penuh ke RPP tanpa syarat kepemilikan lokal.

Baca juga: Runable Raup $21 Juta: Saat AI Agent Beralih dari Membangun ke Mengembangkan Bisnis

PayNet tidak mengunci akses ini hanya untuk klien korporat besar. Wise bisa mengintegrasikan fitur ini ke seluruh lapisan penggunanya — termasuk individu dan UMKM — tanpa batas nilai transaksi minimum. Ini berbeda dengan skema 'direct settlement' yang ditawarkan beberapa bank Indonesia kepada klien premium, yang biasanya mensyaratkan saldo minimal Rp500 juta atau volume transaksi bulanan di atas Rp2 miliar.

Ilustrasi perbandingan dua alur transfer: kiri dengan tiga lapisan bank koresponden dan kanan dengan koneksi langsung antar-jaringan nasional, disertai ikon DuitNow dan logo Wise
Ilustrasi: Ilustrasi perbandingan dua alur transfer: kiri dengan tiga lapisan bank koresponden dan kanan dengan koneksi langsung antar-jaringan nasional, disertai ikon DuitNow dan logo Wise

Teknologi di balik integrasi ini tidak hanya 'koneksi API'. Wise harus menjalani audit keamanan siber oleh lembaga independen yang diakui Bank Negara Malaysia, serta mengadopsi skema autentikasi dua faktor berbasis nomor ponsel nasional Malaysia (menggunakan format MSISDN MY). Proses verifikasi identitas juga disinkronkan dengan sistem MyKad — artinya, data KYC tidak diulang, tapi dipinang dari database pemerintah Malaysia yang sudah diverifikasi. Model semacam ini belum ada di Indonesia, di mana verifikasi KYC masih bersifat silo antar-platform dan sering kali mengharuskan upload ulang KTP, NPWP, dan bukti domisili.

Fakta tambahan yang mengejutkan: Wise tidak membayar lisensi akses ke PayNet. Sebagai gantinya, mereka berkomitmen memproses minimal 500.000 transaksi per bulan ke ekosistem DuitNow — target yang sudah terlampaui dalam dua minggu pertama peluncuran. Ini menunjukkan bahwa nilai utama bukan pada biaya masuk, tapi juga pada volume dan keandalan operasional yang bisa dihadirkan.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar