"Kami tidak menjual drone. Kami menjual waktu tempur — waktu yang bisa dikendalikan, ditunda, dan diputuskan di medan nyata." Pernyataan langsung dari CEO UVision, Ido Aharoni, seperti dilansir TechInAsia, menjadi kunci memahami mengapa startup pertahanan Israel ini tidak hanya satu lagi nama dalam daftar startup AI yang sedang naik daun.
HERO Bukan Drone, tapi juga Munisi yang Bisa Berpikir Sebelum Meledak
UVision tidak membuat platform pengintai atau pengiriman paket udara. Produk utamanya — rangkaian sistem loitering munitions bernama HERO — dirancang sebagai "munisi mengambang": senjata yang lepas dari peluncur, terbang dalam radius operasional tertentu selama puluhan menit, lalu baru menyerang target setelah identifikasi final oleh operator manusia atau algoritma onboard. Versi HERO-120 misalnya, mampu mengudara hingga 60 menit dengan jangkauan maksimal 100 km, sementara HERO-400EC ; yang dikembangkan khusus untuk kapal perang , punya daya ledak setara 3 kg TNT dan akurasi sub-meter. Ini bukan teknologi otonom penuh, melainkan sistem human-in-the-loop yang memadukan kecepatan pengambilan keputusan mesin dengan tanggung jawab etis manusia.
TechInAsia mencatat bahwa UVision telah mengirimkan sistem HERO ke lebih dari 25 negara, termasuk beberapa mitra strategis di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Di Indonesia, meski belum ada kontrak resmi yang diumumkan, uji coba lapangan oleh TNI AL dan Kostrad pada 2023 terhadap sistem serupa dari produsen Eropa menunjukkan minat kuat terhadap kemampuan loitering munitions — terutama untuk mengamankan wilayah maritim yang luas dan terfragmentasi. Perbedaan mendasar antara HERO dan drone komersial adalah pada arsitektur sistem: HERO tidak dirancang untuk kembali, tidak punya sistem pemeliharaan berat, dan tidak memerlukan landasan — cukup peluncur portabel seberat 12 kg atau integrasi ke kendaraan tempur ringan.
Baca juga: Huawei dan HP Sepakat Bayar Royalti Wi-Fi 6, Tapi Siapa yang Menang di Pasar Indonesia?
Apa yang Hilang dari Narasi "AI untuk Pertahanan"?
Narasi global tentang AI militer sering kali terjebak pada dua kutub ekstrem: entah digambarkan sebagai ancaman eksistensial karena otonomi penuh, atau diromantisasi sebagai solusi ajaib tanpa risiko operasional. UVision justru mengambil jalur ketiga: AI sebagai penunjang keputusan taktis, bukan pengganti komando. Sistem HERO menggunakan algoritma visi komputer untuk mengenali pola kendaraan, kapal, atau instalasi, tetapi keputusan akhir — apakah menyerang, menunda, atau beralih ke target lain — tetap berada di tangan operator. Ini bukan soal kurangnya kemampuan teknis, melainkan pilihan desain yang disengaja untuk memenuhi standar hukum perang internasional dan aturan engagement nasional.
Di tengah gelombang investasi besar ke startup AI pertahanan — seperti Anduril di AS atau Helsing di Jerman — UVision unik karena fokus sempitnya: hanya pada loitering munitions, tanpa diversifikasi ke cyber, elektronik perang, atau satelit. Strategi ini memungkinkannya menguasai rantai pasok kritis ; mulai dari baterai tahan suhu ekstrem hingga chip image processing khusus , yang sulit ditiru pemain baru. Menurut TechInAsia, pendekatan spesialis ini juga mempercepat proses sertifikasi ekspor ke negara-negara dengan regulasi ketat seperti Kanada dan Australia.
Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi
Bagi industri pertahanan Indonesia, kehadiran UVision di pasar global tidak hanya soal potensi impor. Ini adalah cermin bagi pengembangan lokal: PT Dirgantara Indonesia dan PT Pindad sedang mengembangkan prototipe loitering munitions berbasis platform UAV buatan dalam negeri, namun masih bergantung pada komponen impor untuk sistem panduan dan deteksi target. Ketergantungan pada sensor optik asing dan modul AI onboard — yang saat ini masih didominasi oleh vendor Eropa dan Israel — menjadi celah kritis yang belum terjamah oleh kebijakan substitusi impor dalam Rencana Strategis Industri Pertahanan 2024–2044.
Valuasi $4 miliar yang ditargetkan UVision bukan angka spekulatif semata. Angka itu mencerminkan nilai pasar nyata: permintaan global untuk sistem loitering munitions diperkirakan tumbuh 18% per tahun hingga 2029, menurut laporan Defence Market Intelligence Center. Yang lebih penting, valuasi ini dibangun di atas kontrak nyata — bukan demo teknologi — dengan angkatan bersenjata yang sudah mengoperasikan HERO dalam misi nyata di zona konflik aktif sejak 2021. Di Ukraina, sistem HERO-120 dilaporkan berhasil menghancurkan posisi artileri Rusia dalam kondisi cuaca buruk dan gangguan elektronik tinggi ; bukan skenario simulasi, tapi juga medan tempur sesungguhnya.
Rangkuman dampak langsung dari rencana IPO UVision adalah tiga hal konkret: pertama, legitimasi global bagi loitering munitions sebagai kategori senjata mandiri — tidak hanya varian drone; kedua, tekanan baru bagi industri pertahanan nasional untuk mempercepat pengembangan sistem panduan lokal, terutama dalam visi komputer taktis dan manajemen energi baterai berperforma tinggi. Ketiga, pergeseran dalam cara negara-negara berkembang membeli teknologi pertahanan — bukan lagi lewat tender besar, tapi juga melalui akuisisi langsung sistem modular yang bisa diintegrasikan ke platform eksisting dalam waktu kurang dari enam bulan.
