Ainesia
Startup & Bisnis AI

Startup Fusion Raih $7,1 Miliar: Siapa yang Menang di Balik Gelombang Dana?

Dana $7,1 miliar mengalir ke startup fusion — tapi hanya segelintir pemain dominan. Di Indonesia, tren ini justru memperlebar jurang antara ambisi riset dan kapasitas infrastruktur.

(15 Agustus 2026)
4 menit baca
Startup Fusion Raih $7,1 Miliar:: Startup Fusion Raih $7,1 Miliar: Siapa yang Menang di Balik Gelombang Dana?
Ilustrasi Startup Fusion Raih $7,1 Miliar: Siapa yang Menang di Balik .

Apa yang sebenarnya terjadi ketika sebuah teknologi masih belum menghasilkan listrik bersih satu watt pun — namun sudah menarik lebih dari $7 miliar dalam pendanaan? Jawabannya tidak hanya antusiasme ilmiah, tapi juga pertemuan unik antara geopolitik energi, tekanan iklim global, dan strategi investasi jangka panjang yang semakin berani.

Siapa yang Mengendalikan Aliran Dana Fusion?

Dilansir TechCrunch Startups, total dana yang dikumpulkan oleh startup fusi hingga kini mencapai $7,1 miliar. Angka ini bukan hasil akumulasi ratusan perusahaan kecil, melainkan terkonsentrasi di tangan kurang dari 15 pemain utama — dengan tiga nama menyumbang lebih dari 60% totalnya: Commonwealth Fusion Systems (AS), Helion Energy (AS), dan Tokamak Energy (Inggris). Commonwealth saja telah mengumpulkan $2 miliar, termasuk suntikan $1,8 miliar dari OpenAI CEO Sam Altman dan investor strategis seperti Temasek dan Google Ventures.

Teknologi fusi memang masih dalam tahap eksperimental: tidak ada satu pun reaktor komersial yang beroperasi, dan uji coba net energy gain baru dicapai secara parsial di laboratorium pemerintah AS (NIF) pada Desember 2022. Namun, pasar modal tidak menunggu validasi teknis penuh. Mereka bertaruh pada timing — bahwa fusi akan menjadi tulang punggung energi rendah karbon di dekade 2040-an, tepat ketika batas emisi global semakin ketat dan harga baterai lithium mulai menunjukkan titik jenuh ekonomi.

Baca juga: Huawei dan HP Sepakat Bayar Royalti Wi-Fi 6, Tapi Siapa yang Menang di Pasar Indonesia?

model bisnisnya berbeda dari startup energi konvensional. Bukan soal skala kilowatt atau megawatt, melainkan pathway to regulatory approval. Commonwealth misalnya membangun tokamak HTS (high-temperature superconductor) berukuran 1/40 dari ITER, lalu menjual lisensi desain ke negara berkembang — bukan menjual listrik langsung. Ini adalah strategi 'platform licensing', bukan 'power-as-a-service'.

Kenapa Indonesia Belum Punya Satu Pun Startup Fusion Lokal?

Di tengah gelombang dana global itu, tidak ada satu pun startup fusi asal Indonesia yang masuk daftar TechCrunch Startups — bahkan tidak ada yang terdaftar di database Crunchbase sebagai 'fusion energy startup'. Padahal, Indonesia memiliki dua keunggulan potensial: cadangan litium di Kalimantan dan tenaga ahli plasma dari Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan (PTAPB) BATAN (kini BRIN), yang sejak 2010 telah mengoperasikan tokamak kecil NRE-1 di Yogyakarta.

Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi

Masalahnya bukan pada sumber daya manusia atau minat riset. Masalahnya adalah infrastruktur pendanaan berisiko tinggi. Di Indonesia, 92% pendanaan ventura masih mengalir ke sektor digital konsumen (e-commerce, fintech, logistik), menurut laporan Katadata Insight Center 2023. Sementara startup deep tech — apalagi yang membutuhkan 10–15 tahun sebelum komersialisasi — nyaris tak tersentuh. Skema co-funding pemerintah seperti LPDB-KUMKM atau KUR tidak dirancang untuk proyek dengan horizon ROI puluhan tahun.

Lebih jauh, regulasi energi nasional belum mengakomodasi fusi sebagai kategori terpisah. UU Energi No. 30/2007 masih mengatur pembangkit berbasis 'reaksi nuklir fisi', tanpa menyebut fusi sama sekali. Artinya, bahkan jika suatu hari ada tim lokal yang berhasil membangun prototipe, mereka harus melewati prosedur izin nuklir fisi — yang didesain untuk PLTN berbasis uranium, bukan reaktor plasma berbasis deuterium-tritium.

Ilustrasi tokamak kecil NRE-1 di laboratorium BRIN Yogyakarta dengan staf peneliti berbaju lab putih
Ilustrasi: Ilustrasi tokamak kecil NRE-1 di laboratorium BRIN Yogyakarta dengan staf peneliti berbaju lab putih

Kondisi ini menciptakan ironi: Indonesia aktif dalam kolaborasi fusi internasional lewat keanggotaan ITER sebagai observer sejak 2019, tetapi tidak memiliki ekosistem domestik yang bisa menyerap pengetahuan itu menjadi produk komersial. Alih-alih membangun startup, lulusan fisika plasma dari ITB atau UGM justru banyak yang direkrut oleh Commonwealth atau TAE Technologies di California — dengan gaji tiga kali lipat dan akses ke fasilitas eksperimen dunia.

Menurut Dr. Rina Sari, peneliti fusi di BRIN, 'Kita punya kemampuan menghitung, tapi belum punya ruang untuk membakar plasma secara berulang. Dana riset dasar kita masih di bawah 0,2% dari PDB — sementara negara maju rata-rata 2,5%. Tanpa itu, startup fusi tidak hanya mimpi, tapi juga kemewahan yang tak terjangkau.'

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar