Ainesia
Startup & Bisnis AI

SK Telecom Uji Empat Vendor untuk Jaringan AI Nasional Korea

SK Telecom memimpin proyek jaringan AI nasional Korea Selatan dengan menguji perangkat dari Samsung Electronics, HFR, Ericsson, dan Nokia — langkah strategis yang mengubah peran operator telekomunikasi dari penyedia koneksi menjadi arsitek infrastruktur kecerdasan buatan.

(14 Juli 2026)
4 menit baca
SK Telecom logo: SK Telecom Uji Empat Vendor untuk Jaringan AI Nasional Korea
Ilustrasi SK Telecom Uji Empat Vendor untuk Jaringan AI Nasional Korea.

SK Telecom akan menguji dan membandingkan perangkat keras jaringan AI dari empat vendor global: Samsung Electronics, HFR, Ericsson, dan Nokia. Proyek ini tidak hanya upgrade infrastruktur, tapi juga upaya sistematis membangun fondasi teknis bagi seluruh ekosistem AI nasional Korea Selatan — mulai dari pusat data hingga edge computing di lokasi industri.

Operator Telekom Bukan Lagi Sekadar Penyedia Bandwidth

Dilansir TechInAsia, SK Telecom tidak berperan sebagai konsumen pasif dalam proyek ini, melainkan sebagai integrator utama dan penentu spesifikasi teknis. Perusahaan menetapkan parameter ketat soal latensi maksimal, throughput real-time, kemampuan orkestrasi model AI distribusi, serta kompatibilitas dengan platform AI lokal seperti K-AI Cloud dan NIA's AI Hub. Ini berarti operator telekomunikasi kini turun langsung ke lapisan hardware — sesuatu yang dulu menjadi domain eksklusif vendor jaringan atau produsen chip.

Tantangan terbesar bukan pada ketersediaan perangkat, tetapi pada interoperabilitas antar sistem. Samsung Electronics membawa arsitektur RAN-optimized AI inference berbasis Exynos, sementara HFR — startup Korea Selatan yang didukung K-Semiconductor Fund — fokus pada low-power AI accelerator untuk edge node. Ericsson menawarkan solusi AI-aware radio access network (RAN) dengan fitur predictive network slicing, dan Nokia mengandalkan platform AVA untuk manajemen jaringan berbasis reinforcement learning. Semua solusi harus bisa saling berbicara dalam satu kerangka kerja standar nasional yang sedang dirancang oleh KCC (Korea Communications Commission).

Baca juga: Asisten AI yang Ikut Rapat Sales — Apa Artinya untuk Tim Penjualan Indonesia?

Apa yang Hilang dari Peta Teknologi Indonesia

Di Indonesia, belum ada operator yang mengambil langkah serupa — baik dari sisi skala maupun ambisi teknis. Telkomsel dan Indosat Ooredoo Hutchison memang telah meluncurkan layanan AI seperti Telkomsel AI Assistant dan IOH's AI Studio, tetapi semuanya berbasis cloud publik (AWS, Azure, GCP) atau platform pihak ketiga. Tidak ada uji coba terkoordinasi terhadap hardware AI-native di lapisan jaringan fisik. Padahal, menurut laporan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2023, 68% penggunaan AI di sektor manufaktur dan logistik nasional terhambat oleh latensi jaringan — bukan oleh kurangnya model atau data.

Perbedaan mendasar terletak pada pendekatan regulasi. Di Korea Selatan, KCC mewajibkan semua proyek infrastruktur digital strategis — termasuk jaringan 5G-Advanced dan AI backbone — untuk menyertakan minimum 30% komponen lokal dalam uji coba tahap awal. Itu yang memungkinkan HFR, meski masih startup, masuk dalam shortlist bersama raksasa global. Di Indonesia, aturan seperti itu belum ada. Regulasi masih berfokus pada lisensi penyedia layanan, bukan pada standarisasi hardware AI di tingkat jaringan.

Baca juga: Huawei dan HP Sepakat Bayar Royalti Wi-Fi 6, Tapi Siapa yang Menang di Pasar Indonesia?

Yang lebih mencolok adalah kecepatan siklus pengambilan keputusan. SK Telecom mengumumkan timeline uji coba: evaluasi vendor selesai akhir Q2 2024, integrasi sistem di tiga lokasi uji (Seoul, Busan, Daegu) rampung Q4 2024, dan rollout nasional dimulai Maret 2025. Dibandingkan dengan proyek serupa di ASEAN — seperti Singtel's AI Fabric di Singapura yang membutuhkan 18 bulan hanya untuk fase desain — SK Telecom mempercepat proses hampir dua kali lipat. Kecepatan ini dimungkinkan karena adanya mekanisme 'fast-track approval' dari KCC untuk proyek yang terdaftar dalam National AI Strategy Roadmap.

Menurut TechInAsia, proyek ini juga menjadi batu ujian bagi kapasitas industri semikonduktor Korea Selatan. Samsung Electronics tidak hanya menyediakan chip, tapi juga mengembangkan firmware khusus untuk inferensi model transformer di base station. Sementara itu, HFR berhasil memproduksi AI accelerator pertamanya dalam waktu 11 bulan — jauh lebih cepat dari rata-rata industri global yang membutuhkan 24–30 bulan untuk tape-out pertama. Ini menunjukkan bahwa kolaborasi vertikal antara operator, regulator, dan startup bisa memperpendek jarak antara kebijakan dan implementasi teknis.

Fakta tambahan yang mengejutkan: SK Telecom tidak mengunci platform ini untuk penggunaan internal. Sejak awal, perusahaan menyatakan bahwa semua API jaringan AI akan dibuka untuk developer lokal melalui portal K-AI Developer Hub — termasuk akses ke latency SLA real-time, bandwidth allocation history, dan metrik inference performance per node. Artinya, startup Indonesia yang ingin menguji aplikasi AI berbasis edge tidak perlu membangun infrastruktur sendiri, cukup memanfaatkan jaringan ini lewat skema cross-border API licensing yang sudah diuji coba dengan startup Malaysia dan Vietnam sejak Januari 2024.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar