Ainesia
Startup & Bisnis AI

Naver Raih 3 Juta Pengguna AI Tab dalam Sebulan

AI Tab Naver tembus 3 juta pengguna aktif bulanan — capaian tak terbayangkan bagi mesin pencari lokal di tengah dominasi Google. Bagaimana strategi ini mengubah peta persaingan pencarian Asia?

(21 Juni 2026)
4 menit baca
Naver headquarters building: Naver Raih 3 Juta Pengguna AI Tab dalam Sebulan
Ilustrasi Naver Raih 3 Juta Pengguna AI Tab dalam Sebulan.

Tiga juta pengguna aktif bulanan dalam waktu kurang dari 30 hari — angka yang jarang terjadi bahkan untuk produk teknologi dari raksasa global seperti Microsoft atau Alibaba. Itulah pencapaian nyata AI Tab Naver, fitur pencarian berbasis kecerdasan buatan yang diluncurkan resmi pada awal April 2024. Tidak ada uji coba bertahun-tahun, tidak ada fase beta panjang: hanya satu peluncuran terkendali dan respons pasar yang meledak.

Bagaimana Naver Menghindari Jebakan 'Fitur Tambahan'?

Naver tidak membangun AI Tab sebagai lapisan pelengkap di atas mesin pencari lama. Platform ini dirancang sebagai pengganti fungsional — bukan penambah — dengan antarmuka baru yang menyingkirkan daftar hasil klasik dan menggantinya dengan jawaban naratif, visualisasi data langsung, serta kemampuan follow-up otomatis. Pengguna bisa bertanya 'Berapa biaya kuliah S2 di KAIST tahun 2025?', lalu langsung menanyakan 'Bandingkan dengan Universitas Seoul' tanpa mengetik ulang. Teknologi ini berjalan di atas Naver's own large language model, HyperClova X, yang telah dilatih khusus pada korpus bahasa Korea dan konten lokal berlisensi ; tidak hanya fine-tuning model asing.

Dilansir TechInAsia, kecepatan adopsi ini mengejutkan bahkan internal tim produk Naver sendiri. Tim riset pengguna mencatat bahwa 68% dari pengguna baru AI Tab berasal dari kelompok usia 18–34 tahun, dan 41% di antaranya adalah pengguna pertama kali yang sebelumnya tidak pernah menggunakan Naver Search secara rutin. Artinya, AI Tab bukan hanya merebut pangsa dari Google, tapi juga juga menarik generasi baru ke ekosistem Naver — sesuatu yang gagal dilakukan oleh layanan seperti Naver Blog atau Naver Pay selama satu dekade terakhir.

Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi

Apa yang Hilang dari Strategi Pencarian Lokal Indonesia?

Di Indonesia, mesin pencari lokal seperti Bing atau DuckDuckGo masih berjuang mempertahankan 1,2% pangsa pasar menurut StatCounter (Maret 2024), sementara Google menguasai 92,7%. Tidak ada platform lokal yang berani mengambil langkah radikal seperti Naver: mengganti UI inti, mengintegrasikan LLM natively, dan mengorbankan pendapatan iklan jangka pendek demi pengalaman pengguna jangka panjang. Gojek sempat menguji fitur pencarian berbasis AI di aplikasi utamanya pada 2023, tapi dihentikan setelah tiga bulan karena tingkat konversi klik iklan turun 22%. Naver justru memilih menunda monetisasi — tidak ada iklan banner, tidak ada sponsored snippet — selama enam bulan pertama.

Menurut TechInAsia, keberanian ini didukung oleh struktur bisnis unik Naver: 57% pendapatannya berasal dari layanan non-pencarian seperti Naver Webtoon, Naver Shopping, dan Naver Cloud. Ini memungkinkan mereka memperlakukan AI Tab sebagai investasi infrastruktur, bukan produk profit center. Di Indonesia, sebagian besar startup teknologi masih bergantung pada iklan dan komisi transaksi sebagai sumber utama pendapatan — sehingga sulit mengorbankan metrik jangka pendek demi inovasi jangka panjang.

Baca juga: Stripe Masuk Singapura: Apa Artinya untuk UMKM Indonesia?

Ilustrasi antarmuka AI Tab Naver dengan tampilan respons naratif dan panel perbandingan universitas
Ilustrasi: Ilustrasi antarmuka AI Tab Naver dengan tampilan respons naratif dan panel perbandingan universitas

Naver tidak mengunci akses AI Tab hanya untuk pengguna Korea Selatan. Versi bahasa Inggris dan Jepang sudah tersedia sejak peluncuran, dan versi Mandarin sedang dalam uji coba terbatas. Namun, tidak ada rencana peluncuran versi bahasa Indonesia — meski Naver Cloud telah menjalin kerja sama dengan Telkom Indonesia sejak 2022. Padahal, potensi pasar pencarian berbasis AI di Indonesia sangat besar: 74% pengguna internet di Tanah Air berusia di bawah 35 tahun, dan 62% dari mereka mengandalkan pencarian instan untuk keputusan harian — mulai dari restoran hingga kampus.

Kebijakan ini mengungkap batas nyata dari ekspansi AI lokal: teknologi bisa dibangun, tetapi adopsi massal butuh lebih dari sekadar akurasi model. Butuh pemahaman mendalam tentang pola bahasa sehari-hari, kebiasaan kueri, dan hierarki kepercayaan pengguna. Di Korea Selatan, masyarakat percaya pada Naver karena puluhan juta ulasan produk, forum diskusi, dan konten edukasi yang dikurasi manusia selama dua dekade. Di Indonesia, kepercayaan itu belum terbentuk — dan tidak bisa diimpor lewat API atau model bahasa.

Peluncuran AI Tab mengingatkan kita pada momen serupa pada 2008, ketika Naver meluncurkan 'Knowledge iN' — forum tanya-jawab berbasis komunitas yang kemudian menjadi fondasi kepercayaan pengguna. Saat itu, banyak analis menyebutnya 'fitur eksperimental tanpa nilai bisnis'. Dua belas tahun kemudian, Knowledge iN menjadi salah satu sumber referensi paling dipercaya untuk informasi akademik dan teknis di Korea Selatan — bahkan digunakan oleh dosen universitas sebagai bahan kuliah. AI Tab mungkin sedang berada di titik yang sama: tidak hanya alat pencarian baru, tapi juga benih infrastruktur kepercayaan digital generasi berikutnya.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar