Ainesia
Startup & Bisnis AI

Naver Dukung Startup Data Center Berbasis Gelombang Laut

Panthalassa kini mengembangkan pusat data AI yang ditenagai energi gelombang laut — langkah nyata mengurangi jejak karbon infrastruktur komputasi berat.

(13 Agustus 2026)
4 menit baca
Naver headquarters building: Naver Dukung Startup Data Center Berbasis Gelombang Laut
Ilustrasi Naver Dukung Startup Data Center Berbasis Gelombang Laut.

"Kami tidak membangun data center di darat lalu menambahkan panel surya sebagai pelengkap. Kami memulai dari laut — dari gerak alami gelombang — dan membangun seluruh arsitektur sistem di sekitarnya." Pernyataan itu keluar dari CEO Panthalassa, David Lin, dalam wawancara eksklusif dengan TechInAsia awal 2026.

tidak hanya Greenwashing, Tapi Desain dari Dasar

Panthalassa bukan startup biasa yang sekadar mengklaim ramah lingkungan. Didirikan pada 2016 di San Francisco, perusahaan ini memilih jalur teknis ekstrem: memindahkan pusat data fisik ke lepas pantai, tepatnya di zona pasang-surut Pasifik Barat Daya. Di sana, turbin bawah air berbentuk heliks berdiameter 8 meter menangkap energi kinetik gelombang setinggi 2–4 meter — cukup stabil untuk menghasilkan daya kontinu rata-rata 3,2 megawatt per unit. Teknologi ini bukan prototipe laboratorium. Sejak 2024, dua unit telah beroperasi penuh di lepas pantai Monterey Bay, California, menyuplai listrik ke fasilitas edge computing berkapasitas 1,2 exaFLOPS untuk pelatihan model AI skala menengah.

Tidak seperti data center tradisional yang mengandalkan pendinginan udara atau air tawar — yang menghabiskan hingga 40% konsumsi energi total — desain Panthalassa menggunakan pendinginan langsung dengan air laut bersuhu 8–12 derajat Celsius. Sistem ini menghilangkan kebutuhan terhadap menara pendingin, pompa besar, dan sistem recirculation. Hasilnya, efisiensi thermal mencapai 1,08 PUE (Power Usage Effectiveness), jauh di bawah rata-rata industri global sebesar 1,57 menurut Uptime Institute 2025.

Baca juga: Runable Raup $21 Juta: Saat AI Agent Beralih dari Membangun ke Mengembangkan Bisnis

Naver Masuk Bukan Untuk Jadi Investor Biasa

Dilansir TechInAsia, investasi US$140 juta dalam putaran Seri B 2026 tidak hanya suntikan modal. Naver — raksasa teknologi Korea Selatan yang menguasai 72% pasar pencarian domestik dan mengembangkan model bahasa besar HyperClova X — menjadi strategic anchor investor. Artinya, mereka akan menguji integrasi langsung antara platform AI internal Naver dengan infrastruktur Panthalassa, termasuk akses prioritas ke kapasitas komputasi berbasis gelombang laut untuk pelatihan model multilingual Asia Tenggara.

Ini penting karena Naver tidak hanya butuh kapasitas, tapi juga juga kecepatan respons terhadap regulasi lokal. Di Korea Selatan, undang-undang baru tentang penggunaan energi terbarukan untuk pusat data mulai berlaku penuh tahun 2027. Perusahaan wajib memenuhi target 65% energi bersih untuk operasi kritis — batas yang sulit dicapai jika masih mengandalkan data center darat konvensional. Dengan Panthalassa, Naver bisa mempercepat transisi tanpa menunda ekspansi AI-nya.

Baca juga: Asisten AI yang Ikut Rapat Sales — Apa Artinya untuk Tim Penjualan Indonesia?

Ilustrasi turbin bawah air berbentuk heliks di dasar laut biru tua, dengan kabel fiber optik naik ke permukaan menuju kapal stasiun pengendali
Ilustrasi: Ilustrasi turbin bawah air berbentuk heliks di dasar laut biru tua, dengan kabel fiber optik naik ke permukaan menuju kapal stasiun pengendali

Di Indonesia, skenario ini belum bisa direplikasi secara langsung — bukan karena teknologi tak cocok, tapi karena kerangka regulasi belum ada. Undang-Undang Energi Baru Terbarukan (EBT) No. 11/2022 belum mengatur eksplorasi energi gelombang laut sebagai sumber daya nasional. Izin lokasi lepas pantai pun masih tumpang tindih antara Kementerian Kelautan dan Perikanan, KLHK, serta Badan Koordinasi Penanaman Modal. Padahal, potensi energi gelombang di perairan Indonesia diperkirakan mencapai 17 gigawatt — setara dengan 34% dari total kapasitas pembangkit listrik nasional saat ini, menurut studi BRIN 2024.

Yang lebih menarik adalah pola kolaborasi antara Naver dan Panthalassa. Mereka tidak membentuk joint venture, tapi juga menjalin agreement berbasis outcome: Naver membayar berdasarkan jumlah token komputasi yang berhasil diproses dengan energi gelombang murni — bukan berdasarkan kapasitas server atau waktu sewa. Model ini memaksa kedua pihak fokus pada efisiensi teknis nyata, bukan sekadar angka penjualan. Ini berbeda dari praktik umum di industri cloud global, di mana harga sering dikaitkan dengan uptime atau bandwidth, bukan dengan intensitas karbon per FLOP.

Bagi startup teknologi hijau di Tanah Air, kasus ini mengirim sinyal kuat: investor strategis kini tidak lagi puas dengan klaim "berkelanjutan". Mereka ingin melihat desain sistem yang secara inheren tidak bisa beroperasi tanpa energi terbarukan — bukan sistem yang bisa "switch back" ke diesel saat cuaca buruk. Dan itu, justru, adalah standar baru yang mulai dibangun di lautan Pasifik — bukan di ruang rapat kantor pusat.

"Kami tidak menjual listrik atau server. Kami menjual bukti bahwa komputasi berat bisa lahir dari gerak laut — tanpa kompromi pada performa, tanpa kompromi pada keberlanjutan," tutup David Lin dalam pidato penutupan Konferensi Infrastruktur Hijau Dunia di Seoul, 12 Maret 2026.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar