BeeX Autonomous Systems memangkas biaya inspeksi bawah laut sebesar 50% menggunakan drone cerdas berbasis kecerdasan buatan, dan kini telah mengamankan kontrak dengan Petronas—perusahaan energi nasional Malaysia yang mengelola ratusan platform minyak dan gas di Selat Malaka serta Laut Cina Selatan.
Drone yang Bisa 'Membaca' Korosi Sebelum Manusia Melihatnya
Perbedaan mendasar BeeX tidak hanya mengganti penyelam dengan mesin. Drone mereka dilengkapi sistem visi komputer berbasis deep learning yang mampu mengidentifikasi retakan mikro, korosi lokal, dan deformasi struktural pada pipa baja dan fondasi jacket platform—dengan akurasi lebih tinggi daripada inspeksi visual manual oleh ROV konvensional. Teknologi ini tidak hanya merekam gambar, tapi juga juga mengekstraksi pola kerusakan dari ribuan frame video dalam waktu nyata, lalu menghasilkan laporan kondisi struktural berbasis risiko. Menurut TechInAsia, sistem ini telah diverifikasi melalui uji lapangan di tiga lokasi operasi Petronas selama 18 bulan terakhir, dengan hasil konsisten dalam mendeteksi cacat yang terlewat oleh metode inspeksi tradisional.
Inspeksi bawah laut selama ini bergantung pada ROV (Remotely Operated Vehicle) yang dikendalikan manusia dari kapal permukaan—proses yang memakan waktu 3–5 hari per lokasi, memerlukan tim teknisi spesialis, dan biaya operasional bisa mencapai USD 150.000 per misi. Dengan drone otonom BeeX, satu misi cukup 12 jam, tanpa kapal pendukung khusus, dan tim lapangan hanya dua orang. Penghematan 50% itu bukan angka teoretis: itu adalah hasil agregat dari pengurangan biaya kapal, tenaga ahli, logistik udara, dan downtime platform selama inspeksi.
Baca juga: Huawei dan HP Sepakat Bayar Royalti Wi-Fi 6, Tapi Siapa yang Menang di Pasar Indonesia?
Indonesia Belum Punya Alternatif Lokal untuk Infrastruktur Tua di Natuna dan Jawa Timur
Di Indonesia, lebih dari 70% infrastruktur lepas pantai—terutama di blok Natuna, Kepulauan Riau, dan lepas pantai Jawa Timur—sudah berusia di atas 25 tahun. Data SKK Migas 2023 menyebut 42 platform produksi di wilayah tersebut masuk kategori 'aging infrastructure', artinya rentan kegagalan struktural jika tidak dipantau tiap enam bulan. Namun, tidak ada startup atau perusahaan teknologi lokal yang saat ini menawarkan solusi inspeksi otonom berbasis AI dengan sertifikasi kelas industri. Sebagian besar operator masih mengandalkan jasa asing seperti Fugro atau Baker Hughes, atau mengandalkan inspeksi periodik manual yang sering tertunda karena keterbatasan cuaca dan kapal.
TechInAsia melaporkan bahwa BeeX sedang menjajaki kolaborasi dengan beberapa BUMN migas, tetapi belum ada kesepakatan resmi. Kendala utamanya bukan soal harga—karena model pricing BeeX fleksibel (pay-per-inspection atau subscription tahunan)—melainkan ketiadaan kerangka regulasi nasional untuk validasi data inspeksi berbasis AI. Di Malaysia, Petronas memiliki panduan internal 'Digital Inspection Assurance Framework' sejak 2021; di Indonesia, SKK Migas baru mengeluarkan draf pedoman digitalisasi inspeksi pada Februari 2024. Dan belum mengatur standar akurasi algoritma deteksi kerusakan.
Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi
Yang lebih krusial: kemampuan drone BeeX tidak berhenti di deteksi. Platform mereka terintegrasi dengan sistem manajemen aset milik klien, sehingga temuan korosi otomatis memicu alokasi anggaran perbaikan, penjadwalan pemeliharaan prediktif, dan bahkan simulasi umur pakai struktur berdasarkan data historis. Ini berarti keputusan teknis—seperti apakah suatu jacket harus direnovasi atau diganti—tidak lagi didasarkan pada estimasi insinyur, tapi pada model prediktif berbasis data aktual dari 12.000+ jam rekaman bawah laut.
Di tengah tekanan fiskal dan target peningkatan lifting minyak nasional, efisiensi operasional bukan lagi pilihan. Ia menjadi syarat mutlak—terutama untuk infrastruktur tua yang justru menyumbang 38% produksi nasional. Namun, adopsi teknologi seperti BeeX tidak bisa hanya mengandalkan inisiatif korporasi. Dibutuhkan sinkronisasi antara regulator, operator, dan ekosistem teknologi lokal—yang hingga kini belum terbentuk secara koheren.
"Kami tidak menjual drone. Kami menjual kepastian operasional—bahwa platform Anda akan tetap aman, produktif, dan sesuai standar keselamatan selama 10 tahun ke depan, bukan hanya sampai inspeksi berikutnya," kata CEO BeeX, Dr. Lim Wei Jian, dalam wawancara eksklusif dengan TechInAsia.
