Ainesia
Startup & Bisnis AI

Ayati Raih $1,6 Juta untuk Teknologi Deteksi Dini Luka Diabetes

Startup medtech India Ayati dapatkan pendanaan $1,6 juta dari Inflexor Ventures. Fokusnya: alat non-invasif deteksi dini kerusakan saraf dan sirkulasi di kaki penderita diabetes.

(11 Agustus 2026)
4 menit baca
Ayati team members: Ayati Raih $1,6 Juta untuk Teknologi Deteksi Dini Luka Diabetes
Ilustrasi Ayati Raih $1,6 Juta untuk Teknologi Deteksi Dini Luka Diabe.

Inflexor Ventures memimpin putaran pendanaan senilai $1,6 juta untuk Ayati, startup medtech asal India yang mengembangkan sistem penilaian fisiologis berbasis AI untuk perawatan kaki diabetes. Dana ini tidak hanya suntikan modal—melainkan pengakuan bahwa teknologi deteksi dini luka kaki tidak lagi bisa ditunda di negara dengan beban diabetes tertinggi kedua di dunia setelah Tiongkok.

Apa yang Membedakan Ayati dari Alat Diagnostik Konvensional?

Ayati tidak menjual alat ukur tekanan atau termografi biasa. Platform utamanya mengintegrasikan tiga dimensi penilaian sekaligus: sensation (persepsi rasa), circulation (aliran darah), dan perfusion (penyaluran oksigen ke jaringan). Ketiganya diukur secara simultan lewat sensor portabel yang terhubung ke aplikasi klinis, lalu dianalisis menggunakan model pembelajaran mesin yang dilatih dari ribuan kasus riil di klinik endokrinologi India. Berbeda dengan monosensor tunggal seperti monofilamen Semmes-Weinstein—yang hanya menguji satu titik rasa—sistem Ayati memetakan pola degradasi saraf dan mikrosirkulasi secara spasial, sehingga bisa menangkap perubahan subklinis sebelum luka terbentuk.

Dilansir TechInAsia, pendekatan multidimensi ini menjadi pembeda utama Ayati di pasar global, di mana mayoritas kompetitor masih mengandalkan metode silo: satu alat untuk neuropati, satu lagi untuk iskemia, dan satu lagi untuk infeksi. Sementara itu, riset dari Indian Council of Medical Research (ICMR) menunjukkan bahwa lebih dari 68% amputasi kaki pada pasien diabetes bisa dicegah jika intervensi dilakukan saat fase pre-ulcer—yakni ketika sudah terjadi gangguan sensasi dan perfusi, tapi belum ada luka terbuka.

Baca juga: Huawei dan HP Sepakat Bayar Royalti Wi-Fi 6, Tapi Siapa yang Menang di Pasar Indonesia?

Kenapa Pasar Indonesia Belum Siap Mengadopsi Teknologi Serupa?

Di Indonesia, angka prevalensi diabetes mencapai 10,3 juta orang—menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023—dengan proporsi komplikasi kaki yang terus naik: 14,7% pasien diabetes dewasa pernah mengalami ulkus kaki dalam lima tahun terakhir. Namun, infrastruktur deteksi dini masih sangat terbatas. Hanya 23% puskesmas di wilayah urban memiliki alat monofilamen standar, apalagi sistem berbasis AI seperti Ayati. Sebagian besar rumah sakit daerah masih mengandalkan pemeriksaan klinis manual; yang rentan subjektivitas dan sering melewatkan tanda awal.

Menurut TechInAsia, Ayati belum menyasar pasar Asia Tenggara secara aktif. Fokus mereka saat ini adalah validasi klinis di India dan peluncuran komersial bertahap di Amerika Serikat melalui jalur FDA 510(k). Artinya, teknologi ini belum tersedia di Indonesia—baik sebagai alat bantu diagnosis maupun sebagai solusi skrining massal di puskesmas. Padahal, biaya amputasi kaki di rumah sakit tipe A rata-rata Rp127 juta per kasus (data BPJS Kesehatan 2022), sementara harga sistem Ayati diperkirakan di kisaran $8.500–$12.000 per unit—setara dengan 1–2 kali biaya satu kali amputasi.

Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi

Yang lebih krusial: regulasi alat kesehatan berbasis AI di Indonesia belum punya kerangka khusus. Badan POM baru menerbitkan panduan umum 'Alat Kesehatan Cerdas' pada 2023, tanpa mekanisme validasi klinis berbasis data real-world atau persyaratan audit algoritma. Tanpa itu, sistem seperti Ayati akan kesulitan mendapat izin edar—bukan karena kualitas teknisnya buruk, tapi juga karena celah antara inovasi dan regulasi masih lebar.

Ilustrasi klinis di puskesmas pedesaan dengan perawat sedang memeriksa kaki pasien diabetes menggunakan alat portabel berlayar sentuh
Ilustrasi: Ilustrasi klinis di puskesmas pedesaan dengan perawat sedang memeriksa kaki pasien diabetes menggunakan alat portabel berlayar sentuh

Perkembangan Ayati juga mengungkap ironi struktural: sementara startup India mulai mengekspor teknologi deteksi dini ke pasar maju, Indonesia justru masih bergantung pada impor alat diagnostik dasar—seperti tensimeter digital dan glucometer—yang sebagian besar diproduksi di Tiongkok dan Vietnam. Investasi lokal di medtech berbasis AI masih minim: dari total 127 startup kesehatan yang tercatat di Startup Ranking Indonesia 2023, hanya 9 yang fokus pada alat diagnostik fisik, dan tak satu pun mengembangkan platform multimodal seperti Ayati.

Pertanyaannya bukan apakah teknologi semacam ini relevan bagi Indonesia—tapi mengapa kita masih menunggu solusi datang dari luar, padahal beban klinis dan ekonomi komplikasi diabetes justru semakin berat tiap tahun?

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar