Ainesia
Startup & Bisnis AI

AI di Asia Tenggara: Optimisme Tinggi, Tapi Implementasi Masih 'Kosong di Dalam'

Survei Alibaba Cloud di Singapura menunjukkan 96% perusahaan optimistis soal AI — tapi TechInAsia mengungkap kesenjangan antara niat dan kapasitas teknis di lapangan.

(28 Juli 2026)
4 menit baca
Alibaba Cloud office: AI di Asia Tenggara: Optimisme Tinggi, Tapi Implementasi Masih 'Kosong di Dalam'
Ilustrasi AI di Asia Tenggara: Optimisme Tinggi, Tapi Implementasi Mas.

Di sebuah ruang rapat di kawasan Marina Bay, seorang direktur teknologi startup fintech Singapura menekan tombol presentasi. Slide berjudul 'Roadmap AI 2025' muncul — lengkap dengan timeline, anggaran, dan nama vendor cloud. Namun ketika ditanya apakah tim internal sudah bisa menjalankan fine-tuning model bahasa kecil atau mengintegrasikan RAG ke sistem CRM, ia diam sejenak lalu menjawab: 'Kami masih menunggu vendor selesaikan dokumentasi API-nya.'

Optimisme Tanpa Peta Teknis

Angka 96% tidak hanya angka — ini adalah sinyal kuat bahwa AI telah melewati tahap eksperimen dan masuk ke daftar prioritas strategis perusahaan di Asia Tenggara. Menurut survei Alibaba Cloud yang dilansir TechInAsia, hampir seluruh responden di Singapura menyatakan sikap 'sangat positif' atau 'optimistis dengan hati-hati' terhadap adopsi AI. Tingkat optimisme ini justru lebih tinggi daripada di pasar Jepang atau Korea Selatan, dua negara dengan infrastruktur digital jauh lebih matang.

Tapi di balik angka itu, ada celah besar: tidak ada satu pun pertanyaan dalam survei tersebut yang menanyakan kesiapan SDM, ketersediaan data bersih, atau kematangan arsitektur IT internal. Artinya, optimisme ini dibangun di atas keyakinan pada janji vendor — bukan pada kemampuan operasional sendiri. Di Jakarta dan Bandung, banyak perusahaan justru memulai dengan membeli solusi 'AI-ready' dari penyedia asing, lalu menyadari belakangan bahwa integrasi ke sistem legacy memakan waktu tiga kali lebih lama dari perkiraan.

Baca juga: Runable Raup $21 Juta: Saat AI Agent Beralih dari Membangun ke Mengembangkan Bisnis

Siapa yang Benar-Benar Menggunakan AI Hari Ini?

Jawabannya bukan perusahaan besar dengan tim data science puluhan orang — tapi juga UMKM di bidang e-commerce dan layanan pelanggan yang menggunakan fitur bawaan platform seperti Shopify atau Tokopedia. Mereka tidak menulis kode, tidak mengatur GPU cluster, tapi memanfaatkan chatbot otomatis, rekomendasi produk berbasis perilaku pengguna, dan analisis sentimen ulasan — semua dalam satu klik. Data dari Asosiasi E-commerce Indonesia (iDEA) menunjukkan bahwa 41% pelaku usaha mikro yang aktif di marketplace telah mengaktifkan setidaknya satu fitur AI bawaan sejak awal 2024.

Dilansir TechInAsia, tren ini menciptakan paradoks baru: semakin murah dan mudah akses ke AI, semakin kabur batas antara 'menggunakan AI' dan 'mengandalkan AI'. Perusahaan tidak lagi membangun model, tapi memilih template — dan risiko utamanya bukan gagal teknis, melainkan kehilangan kendali atas logika keputusan bisnis. Seorang manajer operasional di Surabaya mengakui bahwa sistem rekomendasi AI di toko online-nya meningkatkan konversi 22%, tapi ia tidak tahu mengapa produk tertentu tiba-tiba muncul di halaman utama — karena algoritma vendor tidak transparan.

Baca juga: Asisten AI yang Ikut Rapat Sales — Apa Artinya untuk Tim Penjualan Indonesia?

Alibaba Cloud memang menawarkan paket 'AI Adoption Accelerator' dengan pelatihan dan sandbox gratis. Namun program ini hanya mencakup 12 jam pelatihan dasar dan tidak menyentuh isu krusial seperti governance model, auditabilitas output, atau mitigasi bias data lokal. Di Indonesia, misalnya, model bahasa multilingual sering gagal memahami konteks bahasa gaul Jakarta atau istilah daerah dalam ulasan pelanggan — tapi tidak ada modul pelatihan khusus untuk itu.

Yang mengejutkan, survei yang sama juga mengungkap bahwa 68% perusahaan di Singapura belum memiliki kebijakan internal tentang etika penggunaan AI — padahal 83% di antaranya sudah menerapkan AI di fungsi HR untuk screening CV dan penilaian kinerja. Artinya, mesin sedang mengambil keputusan tentang karier manusia, tanpa pedoman etis yang disepakati secara internal. Ini bukan soal regulasi pemerintah, tapi soal tanggung jawab manajerial yang belum tersentuh oleh gelombang optimisme.

Fakta tambahan yang jarang dibahas: dari 96% perusahaan yang optimistis, hanya 17% yang menyatakan telah mengalokasikan anggaran khusus untuk pelatihan ulang karyawan — bukan untuk membeli lisensi, tapi untuk membangun literasi AI di tingkat operasional. Sisanya mengandalkan 'on-the-job learning' atau menunggu vendor menyediakan webinar gratis.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar