Lebih dari 80 persen kreator di platform X yang terdaftar dalam program revenue sharing sebelumnya tidak pernah menerima pembayaran lebih dari USD 100 dalam tiga bulan berturut-turut—data internal yang bocor ke Engadget menunjukkan ketimpangan struktural dalam mekanisme lama.
Bagaimana Sistem Lama Mengabaikan Kreator Mikro
Sistem revenue sharing X yang berjalan sejak 2023 memang menjanjikan bagi hasil dari iklan berbasis jumlah tayangan dan interaksi. Namun, syarat partisipasi ketat: minimal 15 juta tayangan dalam 90 hari, akun diverifikasi, dan konten harus memenuhi kriteria 'originality score' algoritmik yang tidak diungkap secara transparan. Banyak kreator lokal Indonesia—terutama yang fokus pada edukasi teknologi, bahasa daerah, atau literasi keuangan—gagal memenuhi ambang batas ini meski memiliki engagement rate di atas rata-rata platform.
Dilansir Engadget, hanya 12 persen dari 2,4 juta akun yang terdaftar dalam program tersebut menerima pembayaran rutin selama Q2 2024. Sisanya, termasuk puluhan ribu akun berbasis komunitas di Bandung, Yogyakarta, dan Makassar, terjebak dalam siklus 'tayangan tinggi tapi pendapatan nol' karena algoritma prioritas menilai durasi tayangan dan retensi—bukan kedalaman interaksi atau dampak sosial konten.
Baca juga: AI Slop Ancam Kepercayaan Visual di Dunia Hewan Digital
Padahal, riset Kominfo tahun 2023 menunjukkan bahwa konten berbahasa Indonesia dengan format naratif panjang (lebih dari 90 detik) memiliki tingkat share ulang 2,3 kali lipat dibanding konten berdurasi kurang dari 30 detik. Tapi sistem lama tidak menghargai parameter itu.
Apa yang Berubah dalam Program Baru
Program baru yang diluncurkan X mulai 7 September tidak lagi mengandalkan pembagian pendapatan iklan, melainkan skema hadiah langsung berbasis verifikasi konten asli—dengan penekanan pada orisinalitas, kebaruan narasi, dan kontribusi terhadap ekosistem pengetahuan publik. Kreator tidak perlu mencapai ambang tayangan tertentu; cukup mengunggah konten berdurasi minimal 60 detik dengan label 'Original Content', lalu menunggu proses review manusia dan AI bersamaan dalam waktu maksimal 72 jam.
Baca juga: Mosseri Klaim Tak Tahu Data Keselamatan Remaja Dibatasi
Menurut Engadget, sistem review baru menggunakan model hybrid: AI mengecek duplikasi dan manipulasi metrik, sementara tim editorial X di Manila dan Nairobi menilai nilai naratif dan relevansi budaya. Untuk konten berbahasa Indonesia, tim lokal juga terlibat dalam uji coba fase awal—meski belum diumumkan resmi sebagai bagian permanen dari struktur review.
Hadiah diberikan dalam bentuk kredit X Premium senilai USD 5–50 per konten, tergantung kategori dan dampak. Konten edukasi teknologi, misalnya, mendapat bobot 1,4 kali lipat dibanding konten hiburan umum—keputusan yang justru menyelaraskan dengan prioritas Kemenkominfo dalam Gerakan Literasi Digital Nasional.
X tidak lagi membatasi akses ke program ini hanya untuk akun berbayar. Akun gratis pun bisa mengajukan konten, asalkan telah aktif minimal 30 hari dan memiliki setidaknya lima unggahan orisinal tanpa pelanggaran kebijakan komunitas. Ini berbeda signifikan dari skema TikTok Creativity Program yang masih mensyaratkan akun Pro dan minimal 10 ribu pengikut.
Kreasi konten bukan lagi soal mengejar angka, tapi membangun jejak kredibilitas. Di tengah maraknya AI-generated content yang membanjiri feed, X justru memilih menguatkan posisi manusia sebagai sumber narasi autentik—sebuah langkah yang nyatanya lebih cocok dengan karakter komunitas digital Indonesia yang masih sangat menghargai suara pribadi dan keaslian cerita.
Apakah sistem baru ini benar-benar bisa mengangkat kreator lokal yang selama ini terpinggirkan—atau justru menciptakan hierarki baru berbasis akses ke alat produksi dan kapasitas bahasa Inggris untuk mengisi formulir review?
