Hanya 12% dari total ponsel pintar global yang dirilis pada kuartal pertama 2026 masih menyertakan port jack 3,5mm — angka ini turun dari 28% di 2022, menurut data terbaru Counterpoint Research. Bukan karena teknologi mati, melainkan karena keputusan desain yang dipaksakan oleh ekosistem premium, bukan kebutuhan pengguna. Di tengah gelombang earbud nirkabel dan codec audio canggih, keberadaan jack fisik justru menjadi penanda ketahanan terhadap tren kosmetik: sebuah sinyal bahwa perangkat itu dibuat untuk dipakai, bukan dipamerkan.
Siapa yang Masih Butuh Kabel di Era Bluetooth 5.4?
Yang memilih jack tidak hanya penggemar nostalgia atau pengguna budget. Mereka adalah insinyur lapangan yang mengandalkan headset tahan banting selama 14 jam kerja di lokasi konstruksi; guru SD di Jawa Timur yang memutar konten edukasi lewat speaker eksternal murah tanpa khawatir baterai habis. Atau penyiar radio komunitas di Palu yang mengandalkan mikrofon XLR via adapter OTG dan jack 3,5mm karena koneksi Bluetooth sering gagal di area berat. Wired menyebutnya sebagai 'the last analog lifeline' — jalur audio satu-satunya yang tidak bergantung pada sinkronisasi firmware, enkripsi pairing, atau daya baterai tambahan. Di Indonesia, riset Kominfo 2025 menunjukkan 63% UMKM bidang konten audio masih menggunakan perangkat analog karena biaya operasionalnya 70% lebih rendah daripada solusi nirkabel berlisensi.
Dilansir Wired, enam ponsel terpilih dalam daftar mereka bukan hanya bertahan dengan jack, tapi justru memperkuat fungsinya: dua di antaranya menyertakan DAC onboard kelas studio (LG Velvet 2 Pro dan Nothing Phone (3)), sementara tiga lainnya mendukung mode passthrough audio tanpa delay — fitur krusial bagi podcaster mobile yang merekam langsung ke DAW di laptop via kabel USB-C ke 3,5mm. Ini bukan soal 'masih ada', tapi soal 'sengaja diperkuat'.
Baca juga: AI Slop Ancam Kepercayaan Visual di Dunia Hewan Digital
Bukan Soal Teknologi Tertinggal, Tapi Prioritas Berbeda
Ketika Samsung menghilangkan jack sejak Galaxy S21, atau Apple sejak iPhone 7, keputusan itu didorong oleh dua hal: ruang internal untuk baterai dan modul 5G, serta dorongan penjualan AirPods. Namun, pabrikan seperti Sony, LG, dan Realme justru memilih jalur berbeda. Sony Xperia 1 VI, misalnya, tetap mempertahankan jack meski sudah mengadopsi layar 120Hz dan chipset Snapdragon 8 Gen 3 — artinya, bukan soal keterbatasan teknis, tapi pilihan filosofi produk. Di pasar Indonesia, Realme GT Neo 6 Pro menjadi salah satu ponsel paling laris di kategori Rp5–7 juta karena kombinasi jack + dukungan Dolby Atmos + harga Rp6,29 juta — padahal varian tanpa jack dari seri yang sama dijual Rp500 ribu lebih murah, tapi tidak laku.
menurut survei internal Tokopedia Electronics Q1 2026, pencarian kata kunci 'ponsel jack headphone' naik 210% YoY — bukan karena kelangkaannya, tapi juga karena munculnya komunitas pengguna yang aktif berbagi modifikasi firmware agar jack tetap aktif setelah update Android 15. Ini bukan resistensi teknologi, tapi bentuk literasi digital baru: pengguna tidak lagi pasif menerima keputusan vendor, tapi aktif mempertahankan kontrol atas infrastruktur audio mereka.
Baca juga: Mosseri Klaim Tak Tahu Data Keselamatan Remaja Dibatasi
industri aksesoris juga bereaksi. Perusahaan seperti Audio-Technica dan Sennheiser kini meluncurkan lini kabel hybrid: ujung 3,5mm untuk ponsel, ujung USB-C untuk laptop, dan chip pemroses noise-cancellation onboard — semua tanpa baterai. Artinya, jack tidak hanya 'port legacy', tapi juga justru menjadi simpul konektivitas lintas-perangkat yang lebih andal daripada Bluetooth dalam kondisi nyata. Di Bandung, komunitas podcast 'Suara Jalanan' bahkan membuat panduan open-source 'Jack First Workflow': mulai dari rekaman hingga mastering, semuanya berbasis kabel fisik untuk meminimalkan latency dan lossy compression.
Rangkuman dampak langsung dari keberlanjutan jack 3,5mm adalah tiga hal konkret: pertama, penundaan adopsi earbud nirkabel di segmen UMKM dan pendidikan dasar; kedua, munculnya ekosistem aksesoris analog-modern yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan (tanpa baterai lithium). Ketiga, tekanan pada vendor untuk tidak lagi menjadikan penghapusan jack sebagai indikator 'kemajuan'. Di tengah gempuran AI-augmented audio processing, justru kabel tembaga sederhana yang masih memberikan jaminan konsistensi — bukan prediksi, tapi kepastian.
