Bayangkan sebuah lahan kosong di dekat Stoke-on-Trent, berpagar tinggi, tanpa bangunan, tanpa kabel, tapi sudah mengantongi izin penyambungan ke jaringan listrik nasional dengan kapasitas 120 megawatt — setara kebutuhan listrik 200.000 rumah. Tidak ada server, tidak ada pendingin, tidak ada klien. Hanya nama perusahaan, dokumen teknis tipis, dan janji kabur tentang 'pengembangan pusat komputasi generasi berikutnya'. Ini bukan skenario fiksi ilmiah. Ini terjadi di Inggris sepanjang 2023–2024 — dan Ofgem, regulator energi nasional, kini harus bertindak seperti detektif grid.
Bagaimana Proyek Tanpa Server Bisa Mengunci Kapasitas Jaringan?
Ofgem tidak lagi hanya menilai permohonan sambungan listrik dari segi teknis atau keuangan. Mereka mulai memeriksa 'niat nyata' pengembang: apakah proyek benar-benar akan dibangun dalam tiga tahun? Apakah ada kontrak komersial dengan pelanggan? Apakah tim teknis sudah direkrut? Dilansir Wired, regulator bahkan meminta salinan email internal dan rencana perekrutan sebagai bagian dari proses verifikasi. Jika tidak ada bukti konkret kemajuan fisik atau komersial dalam 18 bulan, izin bisa dicabut — meski sudah disetujui sebelumnya. Ini perubahan radikal dari praktik lama yang hanya mengandalkan studi kelayakan dan jaminan bank.
Alasannya jelas: permintaan daya untuk data center di Inggris melonjak 40% sejak 2021, menurut laporan National Grid ESO. Sementara kapasitas pembangkit baru — terutama dari angin lepas pantai dan nuklir modular — masih dalam tahap konstruksi atau uji coba. Di tengah tekanan itu, muncul puluhan aplikasi 'phantom data center': proyek yang lebih mirip instrumen keuangan daripada fasilitas teknologi. Sebagian besar didorong oleh investor asing yang memanfaatkan insentif lokal dan ketidakjelasan regulasi sambungan awal.
Baca juga: Samsung Odyssey G6 Capai 1.100Hz: Batas Fisika atau Teater Teknologi?
Apa yang Hilang dari Strategi AI Nasional Inggris?
Ambisi Inggris untuk menjadi 'AI superpower' — sebagaimana dinyatakan dalam Kebijakan AI Nasional 2023 — bergantung pada dua pilar: talenta dan infrastruktur. Namun, pilar kedua sedang goyah. Dengan 70% proyek data center baru di Inggris saat ini belum memiliki kontrak pelanggan tetap, menurut analisis terbaru Centre for Data Ethics and Innovation, maka risiko keterlambatan pasokan listrik tidak hanya gangguan teknis ; , tapi juga kegagalan strategis. Infrastruktur yang tidak terpakai mengunci kapasitas jaringan, sementara proyek AI riil , seperti pelatihan model bahasa lokal atau sistem prediksi cuaca berbasis AI untuk pertanian . Justru kesulitan mendapat akses prioritas.
Yang lebih mencolok: tidak semua proyek bayangan ini berasal dari perusahaan teknologi. Beberapa dimotori oleh firma real estate dan dana infrastruktur yang melihat data center sebagai aset jangka panjang — bukan sebagai sarana layanan digital. Mereka mengamankan sambungan listrik dulu, lalu menjual hak tersebut ke pihak ketiga, sering kali dengan markup hingga 30%. Ini menciptakan distorsi pasar: harga listrik untuk komputasi intensif di Inggris kini 22% lebih mahal daripada di Irlandia, menurut data Energy Statistics UK 2024 — bukan karena biaya produksi, tapi karena kelangkaan akses terkendali.
Baca juga: AI Slop Ancam Kepercayaan Visual di Dunia Hewan Digital
Di Indonesia, skenario serupa belum muncul — tapi bukan berarti aman. PLN sedang menyusun panduan teknis untuk sambungan data center di atas 5 MW, dan Kemenkominfo telah mengidentifikasi 14 lokasi potensial untuk pusat komputasi nasional. Namun, aturan verifikasi 'niat nyata' seperti yang diterapkan Ofgem belum ada dalam draft regulasi. Padahal, investasi data center di Tanah Air tumbuh 28% per tahun sejak 2022, menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Jika tidak ada mekanisme antisipatif, kita bisa mengulang kesalahan Inggris: menghabiskan kapasitas jaringan untuk proyek yang belum pasti jadi.
Ofgem tidak menutup pintu bagi inovasi. Mereka justru mempercepat proses sambungan bagi proyek dengan kontrak pelanggan nyata, komitmen penggunaan energi terbarukan minimal 60%, dan rencana mitigasi beban puncak. Artinya, bukan data center yang dihambat — tapi spekulasi berbalut teknologi. Ini pelajaran penting: ambisi digital tidak bisa dibangun di atas fondasi listrik yang tidak terverifikasi.
Rangkuman dampak langsung dari kebijakan Ofgem adalah tiga hal konkret: pertama, penundaan sambungan listrik untuk proyek spekulatif mencapai rata-rata 14 bulan; kedua, penurunan jumlah aplikasi baru sebesar 35% dalam enam bulan terakhir. Ketiga, percepatan persetujuan bagi proyek dengan komitmen pelanggan dan energi bersih — rata-rata 40% lebih cepat dari prosedur standar. Ini bukan soal memperlambat pertumbuhan, tapi memastikan pertumbuhan itu nyata, terukur, dan dapat diandalkan.
