Lebih dari 73% orang tua di Jabodetabek yang disurvei Lembaga Riset Pendidikan Anak (LRPA) pada kuartal I-2024 menyatakan mereka bersedia mengalokasikan Rp500 ribu–Rp1,2 juta per tahun untuk mainan edukatif berbasis sains atau teknologi. Angka itu naik 41% dibanding 2022 — bukan karena anak-anak jadi lebih pintar, tapi karena mainan STEM kini hadir dalam kemasan yang tak lagi eksklusif untuk sekolah internasional atau rumah dengan akses ke toko impor online.
Bukan Soal 'Robot Kecil', Tapi Soal Skala Produksi Lokal
Wired tidak hanya menguji mainan satu per satu; mereka melacak rantai pasoknya. Dari 28 produk terpilih, 19 di antaranya — termasuk kit pemrograman dasar dari Makeblock dan robot penyusun balok dari LEGO Education — sudah diproduksi secara lokal di pabrik PT Sinar Teknologi di Cikarang sejak awal 2025. Artinya, harga eceran di Tokopedia atau Blibli rata-rata 32% lebih rendah daripada versi impor tahun lalu. Ini tidak hanya efisiensi logistik: ini adalah tanda bahwa ekosistem manufaktur cerdas Indonesia mulai menangkap permintaan pasar domestik, bukan hanya menunggu tender pemerintah.
Dilansir Wired, salah satu penentu kelayakan pasar adalah kemudahan integrasi dengan kurikulum merdeka. Mainan seperti 'Koding Kancil' dari Bandung Digital Studio — yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai antarmuka pemrograman visual — berhasil masuk daftar 28 terbaik karena bisa langsung dipakai guru SD tanpa pelatihan tambahan. Berbeda dengan banyak 'coding toy' asing yang masih mengandalkan istilah Inggris seperti 'loop' atau 'boolean', versi lokal ini memakai 'ulangi' dan 'benar/salah'. Itu bukan terjemahan dangkal, tapi juga desain ulang kognitif.
Baca juga: AI Slop Ancam Kepercayaan Visual di Dunia Hewan Digital
Ketika 'Squish' dan 'Tear Apart' Jadi Metode Belajar Resmi
Wired menyoroti satu tren yang jarang dibahas dalam laporan pendidikan formal: kebangkitan mainan berbasis destructive learning. Bukan maksudnya menghancurkan, tapi memahami sistem lewat pembongkaran sadar. Contohnya, kit 'Jantung Mekanis' dari Yogyakarta Robotics Lab: anak-anak membongkar pompa udara mini, mengganti katup silikon, lalu mengujinya dengan sensor denyut nadi buatan. Di kelas IPA SMP di Sleman, alat ini digunakan untuk mengajarkan tekanan, aliran fluida, dan respons fisiologis — semua dalam satu sesi 45 menit.
Ini berbeda dari pendekatan 'assemble-only' yang dominan di mainan STEM generasi sebelumnya. Anak tidak hanya menyusun blok, tapi juga belajar apa yang terjadi ketika satu komponen gagal — sebuah pelajaran tentang toleransi kesalahan yang jarang diajarkan di kelas konvensional. Dan yang penting: harganya Rp275 ribu, bukan Rp1,8 juta seperti versi serupa dari Jerman yang masih diimpor via Jakarta.
Baca juga: Mosseri Klaim Tak Tahu Data Keselamatan Remaja Dibatasi
Perubahan ini tidak terjadi di ruang laboratorium elite. Di SDN Cipaganti Bandung, guru teknologi informasi Rani Wijaya mengatakan, 'Kami pakai dua kit lokal dan satu platform open-source dari GitHub. Anak kelas IV sudah bikin aplikasi pengingat tugas harian — bukan dengan drag-and-drop, tapi menulis kode sederhana di editor berbasis web.' Ia menambahkan, 'Yang dulu kami anggap 'terlalu sulit', ternyata hanya butuh penyesuaian bahasa dan konteks, bukan penurunan standar.'
Memang, tidak semua mainan di daftar Wired cocok untuk pasar Indonesia. Beberapa model berbasis AI generatif — seperti mainan yang menghasilkan cerita berdasarkan gambar anak — masih terkendala keterbatasan bandwidth dan latensi di daerah 3T. Namun, justru di situlah nilai tambah editorialnya: daftar ini bukan panduan belanja, tapi peta evolusi kapasitas teknis lokal. Setiap mainan yang lolos uji di laboratorium Wired adalah bukti bahwa desain interaksi, produksi skala menengah, dan adaptasi kurikulum bisa berjalan paralel ; bukan bertumpuk.
Rangkuman dampak langsung dari daftar ini jelas: mainan STEM tidak lagi menjadi barang mewah yang harus diimpor, tapi instrumen pembelajaran yang bisa diproduksi, dimodifikasi, dan diajarkan di kelas biasa. Harga turun, bahasa disesuaikan, dan metode belajar berubah dari pasif-menyusun menjadi aktif-membongkar. Yang berubah bukan hanya cara anak bermain — tapi cara sekolah, orang tua, dan industri lokal memandang batas antara mainan dan alat pendidikan.
