Ainesia
Gadget & Hardware

Xbox Seri S dan X Justru Makin Tak Relevan di Era AI

Harga naik, fitur tertinggal, dan ekosistem game berbasis cloud mulai menggeser perangkat konsol tradisional — terutama di pasar Indonesia yang lebih mengandalkan ponsel dan PC.

(26 Juni 2026)
4 menit baca
Xbox logo on console: Xbox Seri S dan X Justru Makin Tak Relevan di Era AI
Ilustrasi Xbox Seri S dan X Justru Makin Tak Relevan di Era AI.

Apakah membeli Xbox baru sekarang masih masuk akal — apalagi saat Microsoft justru menaikkan harga dan tak lagi memperbarui hardware intinya selama tiga tahun?

Mengapa Xbox Seri S dan X Tak Lagi Jadi Prioritas Utama

Xbox Series S dan X, yang diluncurkan November 2020, memasuki tahun keempat tanpa pembaruan generasi berikutnya. Tidak seperti PlayStation yang sudah mengisyaratkan PS5 Pro pada pertengahan 2024, Microsoft justru fokus pada layanan cloud dan integrasi AI — bukan pada chip baru atau peningkatan GPU. Dilansir Engadget, perusahaan bahkan menunda rilis konsol generasi berikutnya hingga 2026 atau lebih, sementara harga Xbox Series S di AS naik 15% menjadi USD 349 pada Mei 2024. Di Indonesia, harga resmi Xbox Series S naik dari Rp5,2 juta menjadi Rp6,1 juta — kenaikan nyata di tengah inflasi lokal yang stabil di kisaran 2,8% (BPS, April 2024).

Yang lebih krusial: daya tarik utama Xbox — yaitu Game Pass — kini semakin bergeser ke model streaming. Microsoft telah menguji Xbox Cloud Gaming di 28 negara, termasuk Indonesia sejak Maret 2023, dengan latensi rata-rata 42 ms di jaringan fiber 100 Mbps. Artinya, pengguna tidak perlu membeli konsol fisik sama sekali untuk main game AAA. Cukup ponsel Android atau laptop Windows dengan browser Chrome dan koneksi stabil.

Baca juga: Komposter Dapur AI: Uji Coba 2 Tahun dan Realitas di Rumah Jakarta

Apa yang Hilang dari Strategi Xbox di Pasar Indonesia

Di Indonesia, Xbox tak pernah mencapai penetrasi signifikan. Data Newzoo 2023 menunjukkan pangsa pasar konsol global Xbox hanya 7,4%, dan di Asia Tenggara angkanya turun menjadi 3,1%. Bandingkan dengan PlayStation (18,2%) dan Nintendo Switch (12,5%). Faktor utamanya bukan hanya harga, tapi juga ekosistem distribusi: tidak ada retail besar seperti Electronic Solution atau Erafone yang menjual Xbox secara konsisten; stok sering habis dalam hitungan jam, lalu menghilang selama berbulan-bulan. Microsoft juga tidak membangun komunitas lokal lewat turnamen resmi atau kolaborasi dengan streamer besar seperti Moonton (Mobile Legends) atau Garena (Free Fire).

Padahal, potensi pasar sangat besar: 175 juta pengguna internet aktif di Indonesia (APJII, 2023), dengan 72% di antaranya berusia di bawah 35 tahun — segmen utama gamer. Namun, mereka memilih ponsel (87% akses game via mobile) atau PC gaming entry-level (harga Rp4–6 juta) karena fleksibilitas dan ROI lebih jelas. Sebuah Xbox Series S seharga Rp6,1 juta hanya bisa main game — tidak bisa dipakai kerja, belajar, atau multitasking seperti laptop.

Baca juga: Apa Sebenarnya yang Terjadi Saat Video Di-Upgrade ke 4K?

Menurut Engadget, Microsoft kini menyebut Xbox sebagai 'platform game', bukan 'perangkat keras'. Itu tidak hanya perubahan label. Ini refleksi strategi: investasi R&D Xbox dialihkan ke Azure AI dan Copilot untuk game development — misalnya alat bantu otomatisasi NPC behavior atau generasi dunia virtual berbasis prompt. Hasilnya? Game seperti 'Pentiment' atau 'Hi-Fi Rush' memang unik, tapi tidak mendorong penjualan konsol. Justru, game eksklusif Xbox kini banyak dirilis dulu di PC, lalu baru ke konsol — seperti 'Starfield' yang rilis di PC dua bulan sebelum Xbox.

pesaing langsung bukan lagi Sony atau Nintendo, tapi juga layanan berbasis AI seperti NVIDIA GeForce NOW dan Ubitus yang bekerja sama dengan Telkomsel. Layanan ini memungkinkan main game berat seperti 'Cyberpunk 2077' lewat ponsel tanpa download — cukup streaming. Biayanya Rp129.000/bulan, setara dengan 1/48 harga Xbox Series S. Untuk konsumen Indonesia, itu bukan soal 'mampu beli atau tidak', tapi 'apakah layak investasi satu kali untuk teknologi yang sudah stagnan?'

Ilustrasi perbandingan visual antara konsol Xbox Series S, ponsel Android dengan aplikasi Xbox Cloud Gaming terbuka, dan laptop Windows menjalankan Game Pass via browser
Ilustrasi: Ilustrasi perbandingan visual antara konsol Xbox Series S, ponsel Android dengan aplikasi Xbox Cloud Gaming terbuka, dan laptop Windows menjalankan Game Pass via browser

Risiko terbesar bukan hanya ketinggalan teknologi, tapi juga ketidakpastian lisensi. Game Pass Ultimate berlangganan bulanan, dan konten bisa hilang sewaktu-waktu — seperti 'FIFA 23' yang keluar dari layanan pada Desember 2023 tanpa pemberitahuan awal. Tidak ada jaminan bahwa game yang dibeli hari ini akan tetap bisa dimainkan lima tahun mendatang, apalagi jika server cloud ditutup atau kebijakan lisensi berubah. Ini berbeda dengan game fisik atau digital di Steam, yang tetap bisa diakses meski platform utama mati — asalkan tetap ada PC yang kompatibel.

Rangkuman dampak langsung dari keputusan Microsoft ini jelas: bagi konsumen Indonesia, membeli Xbox Series S atau X sekarang tidak hanya pemborosan finansial, tapi juga komitmen terhadap ekosistem yang semakin tidak relevan. Konsol ini tidak lagi menjadi pintu masuk ke game masa depan — tapi juga monumen peralihan dari era perangkat keras ke era layanan berbasis AI dan cloud. Bagi yang ingin main game terbaru, pilihan lebih rasional adalah langganan cloud gaming, upgrade PC entry-level, atau tunggu sampai Microsoft benar-benar merilis konsol berbasis AI-native — yang belum jelas kapan waktunya.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar