Uber resmi menjadi operator pertama yang menjalankan layanan robotaxi komersial di London — bukan Waymo, bukan Cruise, dan bukan perusahaan China seperti Baidu Apollo atau Pony.ai. Layanan ini mulai beroperasi pada awal Juli 2024 di zona terbatas di utara kota, menggunakan kendaraan Toyota Prius dan Lexus RX yang dimodifikasi dengan sistem otonom buatan Wayve, startup asal London. Meski masih mengandalkan safety driver di kursi pengemudi, peluncuran ini menandai titik balik nyata: Inggris memilih mitra domestik daripada raksasa AS untuk memulai era transportasi tanpa sopir di ibu kotanya.
Kenapa Wayve, Bukan Waymo, yang Dipilih Uber?
Alasan utamanya bukan karena Wayve lebih canggih secara teknis — justru sebaliknya. Waymo telah menguji lebih dari 30 juta mil di jalan umum AS sejak 2009, sementara Wayve baru mencapai 1 juta mil uji coba pada akhir 2023, menurut laporan internal yang dikutip The Verge. Namun, Wayve membangun sistem berbasis pembelajaran mendalam (end-to-end neural network) yang tidak bergantung pada peta presisi tinggi atau infrastruktur khusus. Itu membuatnya lebih adaptif terhadap kompleksitas jalanan London: tikungan tajam, lampu lalu lintas tanpa sensor, pejalan kaki tak terduga, dan bus dua tingkat yang kerap berhenti di tengah jalan.
Dilansir The Verge, Uber memilih Wayve setelah tiga tahun kolaborasi intensif, termasuk pengujian eksklusif di lingkungan urban London sejak 2021. Keputusan ini juga dipengaruhi oleh tekanan regulasi: otoritas transportasi Inggris (DVSA dan CCA) mensyaratkan sistem harus diverifikasi dalam kondisi lokal — tidak hanya porting dari data AS. Waymo, meski punya lisensi uji coba di London sejak 2022, belum menyelesaikan proses validasi teknis lengkap untuk operasi komersial. Uber-Wayve justru menyelesaikan semua audit keselamatan dan simulasi skenario ekstrem pada Maret 2024.
Baca juga: Labor Day Sale REI: Apa yang Hilang dari Diskon Perlengkapan Outdoor?
Apa yang Hilang dari Peta Jalan Regulasi Otomotif Inggris?
bukan hanya siapa menang, tapi juga bagaimana Inggris membangun aturan tanpa meniru AS atau China. Di AS, regulasi robotaxi bersifat fragmentaris — tiap negara bagian punya aturan sendiri. Di China, izin diberikan secara sentral tetapi hanya untuk kota-kota pilot seperti Shenzhen dan Wuhan. Inggris justru mengembangkan kerangka 'type approval' nasional berbasis performa sistem, bukan merek atau asal teknologi. Artinya, Wayve bisa disetujui tanpa harus membuktikan kesetaraan dengan Waymo — cukup membuktikan bahwa sistemnya aman dalam kondisi spesifik London.
Ini membuka celah bagi startup lokal untuk masuk ke pasar tanpa harus bersaing langsung dalam skala data global. Namun, risiko tetap ada: standar performa yang longgar bisa memicu insiden awal yang merusak kepercayaan publik. Survei YouGov pada Mei 2024 menunjukkan 62% warga London masih ragu naik kendaraan tanpa sopir — angka tertinggi di antara 12 kota Eropa yang disurvei. Uber menyiasatinya dengan batasan ketat: layanan hanya tersedia antara pukul 07.00–22.00, hanya di area Camden dan Islington, dan hanya untuk penumpang yang sudah mendaftar lewat aplikasi Uber dengan verifikasi identitas dua tahap.
Baca juga: Burn-in TV OLED: Masih Ancaman atau Sudah Usang?
Bagi industri otomotif Indonesia, pelajaran utamanya bukan soal teknologi, tapi tentang kesiapan regulasi sebagai faktor penentu. Di Indonesia, UU Lalu Lintas No. 22/2009 belum mengakomodasi kendaraan otonom sama sekali. Bahkan uji coba di kawasan tertutup seperti Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Jabar belum memiliki payung hukum jelas. Sementara itu, startup lokal seperti Qlue dan Xurya baru fokus pada AI untuk manajemen lalu lintas — bukan kendaraan otonom. Tanpa kerangka regulasi yang proaktif, Indonesia berisiko hanya jadi konsumen teknologi impor, bukan pemain dalam rantai nilai robotaxi.
Keberhasilan Uber-Wayve juga menegaskan satu hal: masa depan mobilitas otonom tidak ditentukan oleh siapa yang paling dulu menguji di gurun Nevada, tapi oleh siapa yang paling cepat memahami logika jalan kota tua. London bukan kota dengan infrastruktur paling modern, tapi justru menjadi laboratorium paling menantang — dan paling relevan — bagi dunia. Di sini, algoritma harus belajar menghormati tradisi: bus berhenti di tempat tak terduga, sepeda listrik melaju di trotoar, dan pejalan kaki sering menyeberang tanpa menunggu lampu hijau. Teknologi yang gagal membaca budaya jalan, akan gagal di mana-mana.
"This isn't about replacing drivers — it's about expanding access to safe, reliable mobility in places where human drivers are scarce or expensive," kata Alex Dvorkin, Chief Technology Officer Wayve, dalam konferensi pers peluncuran. Kalimat itu bukan retorika kosong. Di London, biaya operasional sopir taksi rata-rata £28 per jam — dua kali upah minimum nasional. Robotaxi bukan ancaman bagi pekerjaan, tapi solusi logistik untuk wilayah pinggiran yang minim layanan transportasi publik.
