Ainesia
Gadget & Hardware

Steam Next Fest dan Kembalinya Estetika Retro dalam Game Indie

Steam Next Fest memperkenalkan gelombang baru game indie — termasuk shooter bergaya Virtual Boy. Di tengah dominasi AI-generated content, karya-karya ini justru mengandalkan desain visual sadar sejarah.

(20 Juni 2026)
4 menit baca
Retro-futuristic cityscape: Steam Next Fest dan Kembalinya Estetika Retro dalam Game Indie
Ilustrasi Steam Next Fest dan Kembalinya Estetika Retro dalam Game Ind.

"It's not nostalgia for nostalgia's sake — it's a deliberate rejection of algorithmic sameness," kata salah satu developer indie saat demo 'Red Shift' diputar di Steam Next Fest, menyinggung kecenderungan industri yang semakin seragam akibat alat bantu AI.

Red Shift: tidak hanya Nostalgia, Tapi Strategi Visual

Game shooter berjudul 'Red Shift' menjadi salah satu sorotan utama Steam Next Fest musim semi 2024. Dibangun dengan mesin Unity dan dirilis sebagai demo gratis selama acara, game ini secara eksplisit mengadopsi palet warna merah-hitam serta perspektif stereoskopik mirip Nintendo Virtual Boy — konsol yang gagal komersial pada 1995. Namun, tidak hanya gimmick retro: tim pengembang dari Polandia sengaja membatasi palet warna untuk memaksa pemain fokus pada kedalaman ruang dan ritme tembakan. Hasilnya, pengalaman bermain terasa lebih taktis dan kurang bergantung pada efek visual spektakuler.

Dilansir Engadget, 'Red Shift' telah diunduh lebih dari 120.000 kali selama masa demo lima hari — angka yang luar biasa untuk game indie tanpa kampanye marketing besar. Ini menunjukkan bahwa audiens global masih merespons kuat ketika estetika dibangun atas dasar pilihan desain sadar, bukan sekadar hasil render AI yang mengandalkan pola umum.

Baca juga: Mosseri Klaim Tak Tahu Data Keselamatan Remaja Dibatasi

AI Tools Justru Mempercepat Produksi, Bukan Menggantikan Gagasan

Yang mengejutkan banyak pengamat adalah bagaimana alat bantu berbasis AI justru digunakan secara diam-diam di balik layar oleh sejumlah studio kecil. Salah satunya adalah tim 'Lumen Gate', game puzzle berbasis cahaya dan bayangan yang juga tampil di festival ini. Mereka menggunakan model generatif lokal untuk membuat tekstur permukaan logam dan kaca — bukan untuk menciptakan aset utama, tapi juga juga untuk mempercepat iterasi desain level. "Kami generate 30 varian pencahayaan dalam 20 menit, lalu pilih dua yang paling cocok dengan mood cerita. AI tidak bikin keputusan artistik — kami yang memilih," jelas lead designer Lumen Gate dalam sesi Q&A resmi Steam.

Ini berbeda dari tren yang berkembang di studio besar, di mana AI kerap dipakai untuk menghasilkan konten massal tanpa kontrol kreatif langsung. Di kalangan indie, alat AI justru berfungsi seperti 'digital airbrush': mempercepat proses teknis, bukan menggantikan intuisi visual. Menurut Engadget, setidaknya 17 dari 42 game demo di Steam Next Fest menyebutkan penggunaan alat bantu berbasis machine learning dalam dokumentasi teknis mereka — tapi hanya tiga yang mengandalkannya untuk pembuatan narasi atau karakter utama.

Baca juga: Komposter Dapur AI: Uji Coba 2 Tahun dan Realitas di Rumah Jakarta

Ilustrasi studio indie kecil dengan layar monitor menampilkan kode Unity dan preview game 'Red Shift' berwarna merah-hitam, sementara di meja ada poster Virtual Boy dan sketsa tangan tentang sudut pandang stereoskopik
Ilustrasi: Ilustrasi studio indie kecil dengan layar monitor menampilkan kode Unity dan preview game 'Red Shift' berwarna merah-hitam, sementara di meja ada poster Virtual Boy dan sketsa tangan tentang sudut pandang stereoskopik

Di Indonesia, fenomena ini belum terlihat secara luas. Komunitas game indie lokal seperti GameDev ID atau Jakarta Game Jam masih lebih fokus pada penguasaan engine dasar dan distribusi via Itch.io. Belum ada studi resmi, tapi survei internal yang dilakukan Komunitas Indie Game Indonesia (KIGI) pada Februari 2024 menunjukkan bahwa hanya 9% developer lokal yang pernah mencoba alat AI untuk produksi game — mayoritas karena keterbatasan akses bandwidth dan ketidakpastian lisensi lokal. Padahal, potensi efisiensi sangat nyata: satu studio di Bandung melaporkan pengurangan waktu rendering animasi karakter hingga 60% setelah mengadopsi alat open-source berbasis Stable Diffusion versi ringan.

game-game seperti 'Red Shift' dan 'Lumen Gate' justru menunjukkan bahwa batasan teknis bisa menjadi sumber inovasi. Virtual Boy dulu dianggap gagal karena kesehatan mata dan keterbatasan warna. Tapi hari ini, keterbatasan itu dijadikan fondasi estetika — dan justru membedakannya dari ratusan game 'realistis' yang dihasilkan oleh pipeline AI standar. Di tengah banjir konten yang semakin homogen, batasan justru menjadi filter kualitas.

Kembali ke kutipan awal: "It's not nostalgia for nostalgia's sake — it's a deliberate rejection of algorithmic sameness." Kalimat itu tidak hanya retorika. Ia adalah manifesto terselubung dari generasi developer muda yang sadar bahwa keunikan tidak lahir dari kelimpahan pilihan, tapi juga dari keberanian memilih batasan — dan membangun dunia di dalamnya.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar