Bayangkan Anda berdiri di bawah Las Vegas Boulevard pada pukul 15.00, udara 42 derajat Celsius, aspal memancarkan panas seperti wajan. Di depan Anda, pintu lift berlapis baja terbuka — bukan ke lantai atas gedung, tapi ke terowongan bawah tanah. Dua menit kemudian, Anda sudah meluncur di dalam kapsul listrik tanpa pengemudi, kecepatan 24 km/jam, menuju T-Mobile Arena. Tidak ada lampu merah, tidak ada kemacetan, tidak ada parkir yang mahal. Ini bukan adegium film fiksi ilmiah. Ini Vegas Loop — sistem transportasi bawah tanah pertama di Amerika Serikat yang dioperasikan swasta, dan satu-satunya proyek operasional nyata dari The Boring Company.
Vegas Loop tidak hanya Terowongan, Tapi Uji Coba Skala Nyata
Vegas Loop telah mengangkut lebih dari 3,3 juta penumpang sejak peluncuran komersial penuh pada Maret 2023. Delapan stasiun tersebar di sepanjang koridor utama kota — mulai dari Las Vegas Convention Center hingga Resorts World dan Allegiant Stadium. Semua stasiun dibangun dalam waktu kurang dari dua tahun, dengan biaya per kilometer jauh lebih rendah daripada proyek kereta bawah tanah konvensional di kota besar lain. Menurut TechInAsia, angka 3,3 juta itu tidak hanya pencapaian teknis, tapi juga juga bukti bahwa sistem transit berbasis terowongan bisa diterima publik — asalkan tarif terjangkau, frekuensi tinggi, dan integrasi dengan destinasi utama terjamin.
Tarifnya memang murah: USD 5–10 per perjalanan, tergantung rute dan waktu. Bandingkan dengan taksi atau layanan ride-hailing yang bisa mencapai USD 35 untuk jarak serupa. Namun, di balik angka penumpang yang mengesankan, laporan internal yang bocor ke media teknologi menunjukkan bahwa operasional Vegas Loop masih defisit. Biaya pemeliharaan terowongan, penggantian baterai kapsul, dan keamanan 24 jam belum tertutupi oleh pendapatan tiket. Artinya, ini bukan bisnis yang menguntungkan — setidaknya belum.
Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi
Siapa yang Bayar Kalau Bukan Penumpang?
Jawabannya: Elon Musk sendiri — lewat suntikan modal berulang. The Boring Company bukan startup biasa yang mengandalkan venture capital untuk ekspansi. Perusahaan ini didanai langsung oleh Musk, baik dari saham Tesla maupun SpaceX. Pada 2024, TechInAsia melaporkan bahwa valuasi perusahaan menyentuh USD 20 miliar — angka yang tampak fantastis jika dibandingkan dengan pendapatan operasionalnya yang masih nol. Valuasi itu bukan berdasarkan arus kas, melainkan pada potensi lisensi teknologi, kontrak infrastruktur pemerintah, dan nilai paten terkait mesin bor otomatis 'Prufrock' serta sistem manajemen lalu lintas bawah tanah.
Ini menjelaskan mengapa proyek-proyek lain seperti Chicago Loop atau Miami Loop belum bergerak: mereka menunggu bukan hanya izin, tapi juga skema pendanaan hybrid — kombinasi investasi swasta, insentif pemerintah, dan pendapatan non-tiket seperti iklan dalam kapsul atau data mobilitas. Di Vegas, pendapatan tambahan justru datang dari penyewaan stasiun sebagai ruang promosi bagi merek besar — contohnya, stasiun di dekat T-Mobile Arena dipenuhi branding eksklusif operator telekomunikasi itu.
Baca juga: Stripe Masuk Singapura: Apa Artinya untuk UMKM Indonesia?
Bagi Indonesia, pelajaran utamanya bukan soal teknologi bor, melainkan desain ekosistem finansial. Proyek MRT Jakarta atau LRT Palembang mengandalkan APBN dan pinjaman multilateral — tetapi tidak punya mekanisme pendapatan sampingan yang terukur. Sementara Vegas Loop membuktikan bahwa bahkan sistem transit kecil bisa bertahan jika dirancang sebagai bagian dari ekosistem pariwisata dan ritel, tidak hanya fasilitas umum.
tidak satu pun dari delapan stasiun Vegas Loop berlokasi di permukiman padat. Semua berada di area komersial, hiburan, atau konvensi. Ini bukan kebetulan. Model ini tidak ditujukan untuk menggantikan angkutan umum massal, tapi juga menjadi 'last-mile connector' — penghubung antar titik tujuan utama di kota yang tidak memiliki sistem transit terintegrasi. Di Jakarta, misalnya, konsep ini bisa diterapkan antara Stasiun Sudirman dan kawasan SCBD, atau antara Bandara Soekarno-Hatta dan kawasan bisnis di BSD City — asalkan regulasi lahan dan izin konstruksi tidak mengunci proyek selama satu dekade.
Fakta tambahan yang jarang diungkap: semua kapsul Vegas Loop menggunakan sistem navigasi berbasis kamera dan lidar — bukan GPS, karena sinyal satelit tidak menembus beton. Teknologi ini dikembangkan secara in-house dan kini sedang diuji coba untuk aplikasi logistik gudang otomatis di pabrik Tesla di Austin. Artinya, terowongan bukan lagi tentang mobil bawah tanah — tapi tentang infrastruktur digital yang berjalan di bawah permukaan kota.
