Ainesia
Startup & Bisnis AI

Unitree IPO Rp13,2 Triliun: Robot Anjing China yang Raup Laba Rp1,3 Triliun

Unitree mengantongi laba bersih Rp1,3 triliun dari pendapatan Rp2,5 triliun — angka langka untuk startup robotika global. IPO-nya dijadwalkan akhir 2024.

(10 Agustus 2026)
4 menit baca
Humanoid robots on display: Unitree IPO Rp13,2 Triliun: Robot Anjing China yang Raup Laba Rp1,3 Triliun
Ilustrasi Unitree IPO Rp13,2 Triliun: Robot Anjing China yang Raup Lab.

Sebanyak 591 juta yuan — setara Rp1,3 triliun — menjadi laba bersih Unitree pada tahun buku terakhir. Angka ini tidak hanya pencapaian teknis, tapi juga sinyal kuat bahwa robot anjing bukan lagi mainan laboratorium, tapi bisnis dengan margin sehat dan skala operasional nyata.

Bagaimana Unitree Membuat Robot Anjing Menguntungkan?

Unitree tidak menjual robot sebagai barang eksklusif untuk peneliti atau militer. Mereka membangun ekosistem berbasis volume: harga dasar robot anjing Go2 mulai dari $1.600, sementara model industri B2 berada di kisaran $9.000–$12.000. Dengan harga itu, perusahaan bisa menjangkau kontraktor infrastruktur, tim inspeksi pipa minyak, hingga operator tambang di wilayah terpencil. Menurut TechInAsia, strategi penetapan harga rendah namun skalabel ini memungkinkan Unitree mencatat 1,7 miliar yuan (Rp2,5 triliun) pendapatan — lebih dari tiga kali lipat pendapatan Boston Dynamics pada periode serupa sebelum diakuisisi Hyundai.

Yang membedakan Unitree dari pesaing adalah keputusan sadar untuk tidak mengandalkan dana pemerintah atau subsidi riset. Mereka memilih jalur komersial murni: sistem operasi berbasis Linux yang terbuka, SDK gratis, dan dokumentasi teknis lengkap dalam bahasa Inggris dan Mandarin. Hasilnya? Komunitas developer independen di Indonesia, Vietnam, dan Nigeria mulai memodifikasi robot Unitree untuk survei lahan sawit, pemantauan banjir, dan inspeksi jaringan listrik pedesaan — tanpa izin resmi dari perusahaan.

Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi

Apa yang Hilang dari Peta Robotika Indonesia?

Di tengah gelombang investasi global ke robotika mobile, Indonesia belum punya satu pun startup yang masuk dalam daftar 20 besar produsen robot anjing dunia — meski pasar lokal menunjukkan permintaan nyata. PT PLN sudah menguji robot anjing untuk inspeksi gardu induk di Jawa Barat sejak 2023. Perusahaan tambang di Kalimantan juga mengimpor unit Unitree secara paralel lewat distributor Singapura, karena proses impor resmi melalui agen lokal memakan waktu 6–8 bulan. Dilansir TechInAsia, biaya logistik dan bea masuk membuat harga robot Unitree di Jakarta naik 42% dibandingkan harga langsung dari Shenzhen.

Padahal, kemampuan teknis Unitree tidaklah mutakhir secara mutlak: mereka menggunakan lidar 16-channel dan IMU generasi ketiga — spesifikasi yang sudah tersedia di pasaran global sejak 2021. Keunggulan mereka justru terletak pada integrasi perangkat keras dan perangkat lunak yang ringkas, serta kecepatan iterasi produk. Dalam 18 bulan terakhir, Unitree merilis empat generasi robot anjing — Go1, B1, Go2, dan X3 ; dengan siklus rata-rata enam bulan per model. Bandingkan dengan perusahaan Jepang atau Korea Selatan yang butuh dua hingga tiga tahun untuk meluncurkan versi baru.

Baca juga: Stripe Masuk Singapura: Apa Artinya untuk UMKM Indonesia?

Ini membuka pertanyaan penting: mengapa ekosistem manufaktur robotika di Indonesia belum mampu meniru model Unitree? Jawabannya bukan soal teknologi semata, tapi struktur insentif. Di China, Unitree mendapat akses ke klaster produksi elektronik di Dongguan dan Shenzhen, termasuk pabrik PCB, assemblers mikro-motor, dan vendor sensor lokal. Di Indonesia, rantai pasok komponen robotika masih terfragmentasi: motor brushless harus diimpor dari Taiwan, baterai lithium dari Korea Selatan, dan modul komunikasi 4G dari Tiongkok — semua melewati prosedur bea cukai yang tidak ramah prototipe cepat.

Ilustrasi pabrik robotika di Shenzhen dengan robot anjing Unitree sedang diuji di lintasan berbatu dan jalan beton
Ilustrasi: Ilustrasi pabrik robotika di Shenzhen dengan robot anjing Unitree sedang diuji di lintasan berbatu dan jalan beton

Unitree juga tidak mengunci platformnya. Berbeda dengan banyak perusahaan robotika Barat yang membatasi akses API atau mematikan fitur navigasi otonom di versi komersial, Unitree membiarkan pengguna mengakses seluruh lapisan kontrol — dari low-level motor command hingga high-level path planning. Ini memungkinkan universitas di Bandung dan Yogyakarta mengembangkan modul deteksi kebocoran gas berbasis AI yang terintegrasi langsung ke robot Unitree, tanpa harus membangun platform dari nol.

Ketika IPO senilai $904 juta — setara Rp13,2 triliun — diumumkan, fokus pasar bukan lagi pada 'apakah robot anjing bisa berjalan', tapi 'berapa cepat industri lokal bisa memanfaatkannya'. Seperti dikatakan CEO Unitree Wang Xingyu dalam wawancara terakhirnya: 'Kami tidak menjual robot. Kami menjual waktu ; waktu yang dihemat operator lapangan, waktu yang dihemat insinyur pemeliharaan, dan waktu yang dihemat manajer proyek saat keputusan harus diambil di bawah tekanan cuaca atau kondisi medan.'

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar