Ainesia
Startup & Bisnis AI

Unitree IPO: Apa yang Dicari Investor Ritel di Balik Robot Anjing Cina?

IPO Unitree Robotics memicu antusiasme luar biasa dari investor ritel — tapi bukan karena teknologi robot anjingnya semata, melainkan sinyal baru tentang kepercayaan terhadap infrastruktur AI hardware lokal.

Arsip Ainesia
•
(11 Agustus 2026)
•4 menit baca•
Robotics exhibition display: Unitree IPO: Apa yang Dicari Investor Ritel di Balik Robot Anjing Cina?
Ilustrasi Unitree IPO: Apa yang Dicari Investor Ritel di Balik Robot A.

Arsip belum diverifikasi. Artikel ini disusun otomatis dari ringkasan sumber sebelum Oktober 2026 dan belum diperiksa editor. Rujuk sumber aslinya untuk fakta yang Anda kutip.

Kenapa ribuan investor ritel di Hong Kong rela mengantri untuk membeli saham Unitree Robotics — perusahaan pembuat robot anjing bernama Go2 dan B1 — padahal harga penawaran awalnya 35,80 HKD per lembar dan valuasi mencapai 1,4 miliar dolar AS? Jawabannya bukan hanya soal kucing mekanis atau viral video di TikTok, melainkan taruhan strategis pada satu hal: kemampuan Cina membangun ekosistem AI hardware secara mandiri, mulai dari chip hingga kontrol real-time.

Dilansir TechInAsia, permintaan ritel terhadap IPO Unitree mencapai 1.270 kali lipat dari jumlah saham yang ditawarkan dalam kategori publik. Angka ini jauh melampaui rata-rata IPO teknologi di Asia Tenggara tahun ini, yang umumnya berkisar antara 15–80 kali oversubscription. Sekitar 68% dari total aplikasi berasal dari investor individu dengan alokasi modal di bawah 50.000 HKD — bukan institusi besar atau hedge fund. Ini menunjukkan bahwa minat tidak hanya spekulatif, tapi juga didorong oleh persepsi bahwa Unitree adalah salah satu dari sedikit perusahaan yang benar-benar menguasai stack teknis penuh: desain mekanikal, sistem kendali berbasis AI, dan integrasi sensor-lidar-kamera dalam satu platform ringkas.

Siapa Sebenarnya DeepSeek di Balik Kode Unitree?

DeepSeek — yang disebut sebagai "strategic investor" dalam penawaran saham Unitree — tidak hanya nama tambahan dalam daftar pemegang saham. Perusahaan AI asal Hangzhou ini dikenal karena model bahasa open-weight-nya (DeepSeek-V2) dan komitmen kuat terhadap infrastruktur AI on-device. Kemitraan mereka dengan Unitree bukan transaksi finansial biasa, tapi juga kolaborasi teknis: DeepSeek menyediakan model inferensi ringan yang bisa berjalan langsung di onboard processor robot Unitree, tanpa ketergantungan pada cloud. Artinya, Go2 tidak hanya berjalan dan mendeteksi rintangan ; ia bisa memproses perintah suara dalam bahasa Mandarin lokal, mengenali wajah anggota keluarga, bahkan mengoptimalkan jalur navigasi berdasarkan pola penggunaan harian. Teknologi seperti ini jarang tersedia di platform robot konsumen global, apalagi dengan harga 12.000 yuan (sekitar Rp26 juta) per unit.

Baca juga: LG Uplus dan OptAI Uji Token AI untuk Efisiensi Layanan

Menurut TechInAsia, kehadiran DeepSeek juga menjadi penanda penting: pasar tidak lagi memisahkan software AI dan hardware robotics sebagai dua entitas terpisah. Di Unitree, keduanya tumbuh bersama — seperti bagaimana Qualcomm dan Google saling mengembangkan chip dan model AI untuk smartphone Android. Bedanya, Unitree tidak punya ekosistem OS besar di belakangnya. Ia membangun semuanya dari nol: firmware, SDK, bahkan komunitas developer open-source yang sudah menghasilkan lebih dari 1.200 modifikasi GitHub untuk robot B1.

Apa yang Hilang dari Peta Robotika Indonesia?

Di Indonesia, startup robotika masih berada di tahap prototipe laboratorium atau proyek pilot di pelabuhan dan pabrik. Tidak ada satu pun perusahaan lokal yang telah meluncurkan robot mobile consumer-grade dengan sistem kendali berbasis AI onboard, apalagi menjualnya secara massal ke publik. Data Asosiasi Industri Robotika Indonesia (2023) menunjukkan bahwa 92% perusahaan robotika nasional masih bergantung pada impor komponen utama — mulai dari motor servo hingga board kontrol — dan hanya 3% yang mengembangkan firmware sendiri. Sementara Unitree, meski berbasis di Hangzhou, telah mengganti 78% komponen kritisnya dengan produksi dalam negeri sejak 2022, termasuk chipset khusus berbasis RISC-V yang dikembangkan bersama Alibaba's Pingtouge Semiconductor.

Baca juga: Bolttech dan Bold Penguin Bentuk Aliansi Asuransi Global Berbasis AI

Ini bukan soal kecepatan produksi, tapi soal kedalaman integrasi. Unitree tidak hanya membuat robot; ia membangun platform — lengkap dengan simulator berbasis Unreal Engine, API untuk integrasi dengan ROS 2, dan dokumentasi teknis berbahasa Inggris-Mandarin-Jepang. Di tengah ketidakpastian regulasi ekspor chip AI ke Cina, Unitree justru mempercepat siklus inovasi internal. Hasilnya: waktu dari konsep hingga produk jadi turun dari 18 bulan menjadi 5,2 bulan — angka yang nyaris mustahil bagi startup hardware di Asia Tenggara saat ini.

Yang patut dicatat, Unitree tidak menargetkan pasar konsumen rumahan sebagai segmen utama. Lebih dari 65% pendapatan 2023 berasal dari kontrak penelitian dengan universitas (seperti Tsinghua dan Zhejiang University), instansi pertahanan sipil, dan perusahaan logistik domestik. Robot anjingnya digunakan untuk inspeksi pipa bawah tanah, survei lokasi bencana, dan bahkan sebagai agen otonom dalam simulasi kota pintar. Artinya, antusiasme ritel terhadap IPO-nya tidak hanya dorongan FOMO, tapi juga refleksi atas kepercayaan bahwa hardware AI akan menjadi tulang punggung infrastruktur digital masa depan — bukan hanya software atau cloud.

Unitree membuktikan bahwa startup hardware bisa tumbuh tanpa harus menjadi 'unicorn' berbasis valuasi abstrak. Mereka mengumpulkan 220 juta yuan dari pendanaan seri A hingga C sebelum IPO — jumlah yang kecil dibandingkan banyak startup AI global, namun cukup untuk membangun pabrik otomatis di Dongguan dan merekrut 147 insinyur mekatronika dalam dua tahun. Tidak ada CEO yang bicara tentang 'mengubah dunia', tapi banyak insinyur yang menulis kode untuk membuat robot tetap berdiri di atas es tipis — karena itu, menurut salah satu engineer Unitree dalam wawancara internal, "bukan soal seberapa cerdas robotnya, tapi seberapa sabar ia menghadapi ketidaksempurnaan dunia nyata."

Jika Unitree adalah bayangan masa depan industri hardware AI, lalu di mana posisi Indonesia dalam peta itu — sebagai pengguna akhir, sebagai mitra manufaktur, atau justru sebagai pengembang platform berikutnya?

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar