Bagaimana sebuah tim ilmuwan muda bisa meyakinkan Intel Capital — salah satu korporasi teknologi paling ketat dalam due diligence — untuk menanam modal di startup kuantum yang belum punya produk komersial, bahkan belum keluar dari laboratorium? Jawabannya terletak pada tiga hal: keunikan arsitektur qubit mereka, kecepatan konversi teori menjadi prototipe perangkat keras, dan timing yang tepat — saat dunia mulai menyadari bahwa perlombaan komputasi kuantum tak lagi hanya soal skala, tapi juga soal stabilitas dan integrasi sistem.
Q-Factor didirikan pada 2026 oleh empat fisikawan lulusan Weizmann Institute of Science dan Technion – Israel Institute of Technology, dua lembaga riset paling prestisius di Timur Tengah untuk bidang fisika kuantum dan rekayasa material. Berbeda dengan banyak startup kuantum yang fokus pada superconducting qubit atau ion trap, Q-Factor mengembangkan platform hybrid berbasis spin qubit dalam semikonduktor silikon karbon (SiC), yang menawarkan koherensi lebih panjang pada suhu relatif lebih tinggi — sekitar 1,5 Kelvin, bukan 0,01 Kelvin seperti kebanyakan pesaing. Dilansir TechInAsia, putaran benih $24 juta ini melibatkan Intel Capital sebagai lead investor, disusul oleh OurCrowd dan beberapa angel investor dari lingkaran akademik Eropa.
Apa yang membuat angka $24 juta ini signifikan bukan hanya karena besarnya, tetapi karena konteksnya: ini adalah putaran benih tertinggi yang pernah diraih startup kuantum berbasis material semikonduktor di luar AS dalam tiga tahun terakhir. Untuk perbandingan, startup kuantum serupa di Jerman dan Prancis rata-rata mengumpulkan antara $8–12 juta dalam fase sama. Teknologi Q-Factor juga sudah melewati uji validasi independen di Laboratorium Nasional Argonne, dengan hasil menunjukkan error rate qubit tunggal di bawah 0,001% — angka yang mendekati ambang batas kesalahan koreksi kuantum praktis.
Baca juga: Zero Shot VC: Dana Ventur Baru dari Mantan Tim OpenAI
Mengapa Ini Penting
Kebanyakan startup kuantum global masih terjebak dalam siklus 'publish-prototype-silence': publikasi di jurnal bereputasi, lalu demo di konferensi, lalu diam selama bertahun-tahun. Q-Factor justru mengejar pendekatan reverse engineering — memulai dari spesifikasi sistem level aplikasi (misalnya simulasi molekul katalis untuk amonia hijau), lalu merancang qubit dan kontrol elektroniknya secara bersamaan. Pendekatan ini mengurangi celah antara teori dan insinyur perangkat keras hingga 40%, menurut internal roadmap mereka yang bocor ke TechInAsia. Dampaknya nyata: mereka menargetkan prototipe sistem 64-qubit terintegrasi dalam waktu 22 bulan — jauh lebih cepat daripada rata-rata industri yang butuh 36–48 bulan untuk tahap serupa.
Yang lebih menarik adalah strategi kolaborasi mereka. Alih-alih membangun fabrikasi sendiri, Q-Factor menjalin kerja sama eksklusif dengan STMicroelectronics untuk produksi wafer SiC khusus, serta dengan Keysight Technologies untuk pengembangan stack kontrol real-time. Model ini mengurangi biaya awal hingga 65% dibanding startup kuantum yang membangun infrastruktur fabrikasi dari nol — sebuah pelajaran penting bagi negara berkembang yang ingin masuk ke ranah ini tanpa harus membangun gedung senilai miliaran dolar.
Konteks Indonesia
Di Indonesia, riset kuantum masih berada di tahap sangat awal. Pusat Riset Fisika – BRIN baru membentuk kelompok kerja kuantum pada 2023, dengan anggaran riset tahunan kurang dari Rp 15 miliar — setara dengan sekitar $1 juta. Sementara itu, Universitas Gadjah Mada dan ITB memiliki laboratorium spektroskopi kuantum, tetapi belum ada satu pun kelompok yang fokus pada rekayasa qubit berbasis semikonduktor. Yang ada justru dominasi pendekatan teoretis dan simulasi kuantum menggunakan software open-source seperti Qiskit dan PennyLane. Padahal, pasar global komputasi kuantum diproyeksikan tumbuh 32,1% per tahun hingga 2030, menurut Statista — dan Indonesia belum punya satu pun startup kuantum yang terdaftar di database Crunchbase.
Baca juga: Netflix Playground: Game Anak Tanpa Iklan, Tantangan Baru untuk Startup Lokal
Ini bukan soal kurangnya talenta. Lulusan fisika ITB dan UI rutin diterima di program PhD kuantum di MIT, ETH Zurich, dan University of Oxford. Tantangannya adalah ekosistem: tidak ada insentif fiskal khusus untuk riset kuantum, tidak ada jalur komersialisasi dari universitas ke industri, dan regulasi impor peralatan cryogenic masih rumit. Sebagai perbandingan, Israel memberikan insentif pajak hingga 50% untuk R&D kuantum dan mempercepat izin ekspor perangkat keras sensitif bagi startup yang bekerja sama dengan lembaga pertahanan nasional. Tanpa langkah serupa, Indonesia berisiko hanya menjadi konsumen teknologi kuantum — bukan pemain, apalagi penentu standar.
Sejak 2019, Indonesia telah mengalami tiga gelombang investasi besar di bidang AI dan cloud computing — namun semua berujung pada akuisisi oleh perusahaan asing atau migrasi talenta ke luar negeri. Kasus Q-Factor mengingatkan kita pada kegagalan awal riset nanoteknologi di Indonesia pada awal 2000-an: potensi besar, publikasi ilmiah tinggi, tetapi tanpa strategi manufaktur dan aliansi industri, hasilnya hanya menjadi catatan kaki di jurnal internasional. Perbedaannya kali ini: peluang masih terbuka — asal keputusan politik dan kebijakan riset tidak lagi ditunda hingga generasi berikutnya.
