Lebih dari 17 gugatan hukum telah diajukan terhadap Google sejak awal 2024 — semua menyasar cara perusahaan itu melatih model kecerdasan buatan Gemini dengan data publikasi tanpa lisensi eksplisit. Angka ini bukan perkiraan: menurut pencatatan resmi Pengadilan Distrik Selatan New York, jumlah tuntutan terhadap Google terkait pelatihan AI mencapai 17 kasus dalam kurun waktu kurang dari enam bulan. Ini menjadikan Google target litigasi paling intensif di antara raksasa teknologi global dalam isu hak cipta dan pelatihan model bahasa besar.
Siapa yang Menggugat dan Apa yang Mereka Klaim
Gugatan tidak datang dari satu kelompok homogen. Di antara para penggugat terdapat penerbit besar seperti Hachette Book Group, Penguin Random House, dan HarperCollins — tiga dari lima penerbit utama Amerika Serikat. Juga hadir penulis ternama seperti Scott Turow, penulis novel hukum bestseller 'Presumed Innocent', serta penulis fiksi ilmiah Cory Doctorow dan penulis nonfiksi Sarah Silverman. Mereka menuduh Google melakukan 'pengambilan sistematis' terhadap karya berhak cipta — mulai dari buku cetak, edisi digital, hingga arsip koran dan majalah ; untuk memperkaya dataset pelatihan Gemini tanpa kompensasi atau persetujuan.
Dilansir TechInAsia, gugatan-gugatan ini mengacu pada praktik web crawling yang dilakukan Googlebot, yang menurut penggugat tidak dibatasi oleh robots.txt atau batas legal fair use. Para penggugat menegaskan bahwa pelatihan model AI tidak hanya 'penggunaan transformatif' seperti yang diklaim Google, tapi juga reproduksi massal konten intelektual untuk keuntungan komersial langsung — terutama lewat integrasi Gemini ke dalam produk seperti Gmail, Docs, dan Search.
Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi
Beda dengan Kasus Meta dan Microsoft: Mengapa Google Jadi Sasaran Utama
Meta dan Microsoft juga menghadapi gugatan serupa, tapi skala dan fokusnya berbeda. Gugatan terhadap Meta lebih banyak menyoroti penggunaan data media sosial dan gambar; sementara Microsoft digugat karena kolaborasi dengan OpenAI dan penggunaan data GitHub. Google justru menjadi pusat tembakan karena dua alasan: pertama, cakupan data pelatihan Gemini jauh lebih luas — mencakup teks akademik, koran bersejarah, ensiklopedia digital, dan ribuan judul buku fiksi/nonfiksi — dan kedua, Google adalah satu-satunya perusahaan yang secara eksplisit mengintegrasikan model AI-nya ke dalam seluruh lapisan infrastruktur pencarian dan produktivitas konsumen. Artinya, setiap kali pengguna mengetik pertanyaan di Google Search dan mendapat jawaban yang dihasilkan Gemini, mereka sedang berinteraksi langsung dengan output yang dilatih dari materi berhak cipta tanpa izin.
Tidak ada klaim bahwa Google 'mencuri' isi buku halaman demi halaman. Tapi penggugat menunjukkan bukti konkret: dalam dokumen pengadilan, disebutkan bahwa model Gemini mampu mereproduksi paragraf lengkap dari novel Scott Turow dengan akurasi tinggi, termasuk struktur kalimat dan gaya naratif unik sang penulis. Ini bukan kebetulan statistik — ini indikator kuat bahwa model benar-benar 'mengingat' dan meniru karya asli, bukan hanya memahami pola bahasa umum.
Baca juga: Stripe Masuk Singapura: Apa Artinya untuk UMKM Indonesia?
Di Indonesia, dampaknya belum terasa langsung, tapi implikasinya strategis. Sejumlah penerbit lokal seperti Gramedia dan Mizan sudah mulai membatasi akses crawler ke situs mereka sejak awal 2023. Namun, tidak ada regulasi nasional yang mengatur pelatihan AI dengan konten berhak cipta. UU Hak Cipta No. 28 Tahun 2014 belum menyebut eksplisit soal 'pelatihan model', sehingga celah hukum tetap terbuka — baik bagi platform asing maupun startup lokal yang ingin membangun model bahasa Indonesia.
beberapa penggugat justru menawarkan solusi kolaboratif: Hachette dan Penguin Random House menyatakan kesiapan membentuk kerja sama lisensi berbasis royalti jika Google bersedia mengakui nilai karya intelektual sebagai bahan baku AI. Ini bukan permintaan penghentian teknologi, tapi tuntutan agar ekosistem kreatif ikut dinilai dalam rantai nilai baru. Sayangnya, Google belum memberikan respons substantif selain pernyataan umum tentang 'komitmen terhadap hak cipta' — tanpa detail mekanisme kompensasi atau transparansi dataset.
Perkara ini bukan hanya soal uang atau kontrol teknologi. Ini ujian pertama apakah sistem hukum hak cipta abad ke-20 masih relevan di era di mana mesin bisa meniru suara, gaya, dan bahkan logika kreatif manusia — tanpa meninggalkan jejak reproduksi fisik. Jika pengadilan memutuskan bahwa pelatihan AI memang melanggar hak cipta, maka seluruh industri harus merancang ulang cara membangun model bahasa — dari sumber data, proses akuisisi, hingga mekanisme pembagian nilai.
Bagaimana kita memastikan bahwa kemajuan AI tidak dibangun di atas fondasi yang menghapus insentif bagi penulis, jurnalis, dan penerbit — orang-orang yang justru menciptakan bahan baku utama mesin itu sendiri?
