Bayangkan sebuah ruang kontrol di pabrik elektronik di Bandung: teknisi muda sedang membandingkan spesifikasi dua chip AI — satu impor dari AS, satu lagi baru saja dikirim dari Seoul. Yang kedua bukan produk NVIDIA atau AMD, melainkan DeepX X12, chip berarsitektur RISC-V yang dirancang khusus untuk inferensi edge. Di meja sebelah, dokumen PO bernomor 77 sudah ditandatangani — bukan oleh raksasa teknologi global, tapi oleh startup logistik Indonesia yang butuh deteksi real-time muatan truk tanpa ketergantungan pada cloud.
Siapa yang Membeli dan Mengapa Bukan Hanya Data Center?
DeepX tidak menjual ke Google atau Microsoft. Menurut TechInAsia, 77 purchase order itu tersebar di 14 negara, mayoritas dari perusahaan manufaktur, otomotif ringan, dan sistem keamanan fisik — bukan pusat data raksasa. Dari 48 pesanan April–Juli 2026, 31 di antaranya berasal dari pelanggan di luar Korea Selatan: Jepang (9), Vietnam (6), Malaysia (5), dan Indonesia (4). Semua pesanan ini berbentuk chip fisik, bukan lisensi IP atau layanan cloud. Artinya, DeepX berhasil meyakinkan pelanggan bahwa mereka bisa menggantikan solusi berbasis GPU dengan chip khusus yang lebih hemat daya, lebih cepat responsnya, dan lebih mudah diintegrasikan ke sistem legacy.
Ini penting karena tren global saat ini justru menunjukkan arah berbeda: banyak vendor chip fokus pada skala besar — training model di data center — sementara DeepX memilih jalur sempit tapi strategis: edge inference untuk industri riil. Tidak heran jika perusahaan seperti Hyundai Mobis dan Canon Electronics masuk daftar pelanggan awal mereka. Mereka bukan mencari "AI generik", tapi solusi yang bisa ditanam di kamera pengawas gudang, di unit kontrol mesin CNC, atau di modul sensor kendaraan listrik.
Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi
Bagaimana DeepX Menghindari Jebakan "Chip Korea Berikutnya"?
Banyak startup semikonduktor Korea gagal keluar dari bayang-bayang Samsung dan SK Hynix — baik karena kurangnya akses ke fab, maupun karena pasar global yang sudah didominasi oleh ekosistem NVIDIA CUDA. DeepX menghindari dua jebakan itu sekaligus. Pertama, mereka tidak membangun fab sendiri, melainkan bekerja sama dengan TSMC untuk proses fabrikasi 7nm. Kedua, mereka memilih arsitektur RISC-V terbuka, bukan x86 atau ARM proprietary, sehingga pelanggan bisa memodifikasi instruksi dasar sesuai kebutuhan aplikasi spesifik — misalnya menambahkan opcode khusus untuk kompresi video real-time atau deteksi kebocoran gas.
Dilansir TechInAsia, pendekatan ini membuat waktu pengembangan custom ASIC pelanggan turun rata-rata 40% dibanding menggunakan platform FPGA tradisional. Lebih dari separuh pelanggan DeepX — 41 dari 77 — memesan versi 'custom variant', bukan chip standar. Artinya, DeepX tidak hanya produsen chip, tapi mitra desain sistem. Mereka menyediakan SDK lengkap, dokumentasi hardware level register, dan bahkan layanan co-engineering untuk integrasi ke sistem operasi RTOS tertentu ; sesuatu yang jarang ditawarkan vendor chip asing di segmen ini.
Baca juga: Stripe Masuk Singapura: Apa Artinya untuk UMKM Indonesia?
Di Indonesia, kehadiran DeepX masih sangat awal, tapi signifikan. Keempat pesanan dari Tanah Air berasal dari perusahaan di bidang smart agriculture dan smart port — dua sektor yang sedang didorong oleh Kemenperin lewat program Transformasi Digital Industri 4.0. Tidak ada satu pun dari keempatnya yang merupakan perusahaan teknologi murni; semuanya adalah industri primer yang sedang bertransformasi. Ini menunjukkan bahwa permintaan chip AI di negeri ini tidak datang dari ekosistem startup digital, tapi juga dari ujung rantai produksi nyata: sawah, pelabuhan, pabrik baja.
semua pesanan DeepX berbentuk kontrak jangka pendek (3–6 bulan) dengan opsi perpanjangan — bukan kesepakatan multi-tahun seperti biasanya di industri semikonduktor. Model ini memberi fleksibilitas tinggi bagi pelanggan untuk menguji performa chip di lingkungan kerja nyata sebelum berkomitmen penuh. Untuk startup seperti DeepX, ini juga berarti arus kas lebih stabil dan umpan balik teknis lebih cepat — dua hal yang sering menjadi penghalang utama bagi chip startup di Asia.
"Kami tidak menjual transistor. Kami menjual kepastian bahwa sistem Anda akan merespons dalam 8,3 milidetik — bukan 200 milidetik — ketika sensor mendeteksi suhu abnormal di ruang server," kata CEO DeepX, Dr. Soo-Jin Park, dalam wawancara eksklusif dengan TechInAsia pekan lalu.
