Ainesia
Startup & Bisnis AI

Bahan Pendingin Tanpa Baterai untuk Pekerja Lapangan

Eztia mengembangkan material pendingin tanpa baterai yang turunkan suhu kulit 10°C — solusi nyata bagi buruh konstruksi, petani, dan pekerja logistik di iklim tropis.

(24 Juli 2026)
4 menit baca
Workers using cooling material: Bahan Pendingin Tanpa Baterai untuk Pekerja Lapangan
Ilustrasi Bahan Pendingin Tanpa Baterai untuk Pekerja Lapangan.

"Kami tidak menunggu listrik untuk menyelamatkan nyawa." Kalimat itu bukan retorika pemasaran, melainkan prinsip desain inti dari Eztia — startup teknologi material asal Jepang yang baru saja memperkenalkan lapisan pendingin pasif berbasis fase perubahan termal. Material ini tidak memerlukan baterai, kabel, atau sumber energi eksternal sama sekali, namun mampu menurunkan suhu permukaan kulit hingga 10°C selama lebih dari empat jam dalam kondisi paparan matahari langsung di atas 40°C.

Bukan Wearable, Tapi Lapisan yang 'Bekerja Sendiri'

Eztia tidak membuat rompi pintar atau jaket berpendingin aktif seperti kebanyakan startup wearable global. Mereka justru menghilangkan semua komponen elektronik — tidak ada pompa mikro, tidak ada kipas mini, tidak ada sensor suhu. Yang mereka kembangkan adalah lapisan polimer berpori yang terintegrasi dengan mikrokapsul berisi garam hidrat. Saat suhu naik, garam tersebut meleleh secara endotermik: menyerap panas dari lingkungan sekitar tanpa menghasilkan limbah panas balik. Proses ini bersifat reversibel — saat suhu turun, kristalisasi kembali terjadi dan material siap digunakan ulang tanpa pengisian daya.

Dilansir TechInAsia, pendekatan ini lahir dari observasi lapangan di wilayah Asia Tenggara, di mana infrastruktur pendinginan sering gagal karena pemadaman listrik, biaya operasional tinggi, atau ketidakpraktisan perangkat berteknologi tinggi bagi pekerja harian. Di Jakarta atau Surabaya, misalnya, pekerja konstruksi kerap mengandalkan kain basah atau topi anyaman — solusi tradisional yang efektivitasnya cepat memudar di bawah terik pukul 13.00 WIB.

Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi

Bagaimana Ini Bisa Dipakai di Proyek Infrastruktur RI?

Pertanyaannya bukan apakah teknologi ini bisa diimpor, tapi bagaimana ia bisa diadaptasi ke rantai pasok lokal. Material Eztia saat ini diproduksi di pabrik skala pilot di Osaka, dengan kapasitas 500 meter persegi per minggu. Namun, kuncinya bukan pada impor bahan jadi, melainkan pada transfer proses: formulasi mikrokapsul, teknik pelapisan pada kain tenun katun-poliester lokal, dan validasi performa di kondisi kelembaban 85% — angka rata-rata di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Kementerian Perindustrian RI telah mengidentifikasi 17 UMKM tekstil di Jawa Tengah yang potensial menjadi mitra lisensi teknologi semacam ini, asalkan standar uji termal dan ketahanan cuci bisa diverifikasi oleh Balai Besar Tekstil Bandung.

Menurut TechInAsia, Eztia sedang menjajaki kolaborasi dengan dua perusahaan konstruksi nasional — salah satunya PT Wijaya Karya — untuk uji coba terbatas di proyek jalan tol Trans-Jawa. Targetnya bukan hanya perlindungan pekerja, tapi juga penurunan insiden heat stress yang menyumbang 12% dari total kecelakaan kerja di sektor infrastruktur menurut data BPJS Ketenagakerjaan 2023. Di sini, nilai tambah editorialnya jelas: ini bukan soal inovasi teknis semata, melainkan upaya mengubah standar keselamatan kerja dari responsif (penanganan setelah sakit) menjadi preventif (pengendalian risiko sejak awal).

Baca juga: Stripe Masuk Singapura: Apa Artinya untuk UMKM Indonesia?

Material ini juga bisa diaplikasikan di luar pakaian kerja. Bayangkan pelapis dinding bangunan sekolah di Nusa Tenggara Timur, atau pelindung atap gudang logistik di Makassar — semua tanpa kabel, tanpa AC sentral, tanpa tagihan listrik tambahan. Dalam konteks Indonesia, di mana 68% konsumsi listrik komersial berasal dari pendingin ruangan (data Kementerian ESDM 2022), solusi pasif seperti ini justru bisa mengurangi beban puncak di jaringan PLN — terutama saat siang hari ketika produksi surya belum optimal dan pembangkit batubara harus bekerja maksimal.

Eztia tidak mematenkan seluruh proses. Mereka membuka lisensi non-eksklusif untuk negara berpenghasilan rendah dan menengah, dengan syarat produksi lokal minimal 70%. Artinya, jika PT Rajawali Nusantara Indonesia atau PT Astra International tertarik, mereka tak perlu impor rompi jadi — cukup impor formula mikrokapsul, lalu produksi massal di pabrik tekstil dalam negeri. Model ini jauh lebih realistis dibanding mimpi membangun ekosistem AI lokal dari nol.

Ilustrasi laboratorium material di Jepang dengan sampel kain berlapis biru muda yang diuji di bawah lampu sinar matahari buatan
Ilustrasi: Ilustrasi laboratorium material di Jepang dengan sampel kain berlapis biru muda yang diuji di bawah lampu sinar matahari buatan

Di tengah gelombang startup yang berlomba membangun aplikasi berbasis AI untuk UMKM, Eztia justru mundur selangkah: mereka memilih menyentuh lapisan paling dasar — tubuh manusia yang bekerja di bawah terik. Tidak ada algoritma di sini, tidak ada cloud computing, tidak ada model prediktif. Hanya fisika murni, rekayasa material presisi, dan empati terhadap pekerja yang tidak punya akses ke pendingin ruangan. Di era di mana banyak solusi teknologi justru memperlebar jurang antara yang punya dan yang tak punya, Eztia mengingatkan: inovasi terbaik kadang justru yang paling diam — dan paling bisa dijangkau.

Lalu, pertanyaannya: jika teknologi ini bisa diproduksi lokal dengan harga di bawah Rp150.000 per unit, siapa yang akan memastikan pekerja di proyek bendungan di Papua benar-benar menggunakannya — bukan hanya sebagai atribut simbolis di foto laporan CSR?

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar