Ainesia
Gadget & Hardware

Remote TV Masih Pakai Inframerah, Bukan Karena Ketinggalan Zaman

Inframerah bukan teknologi ketinggalan zaman—melainkan pilihan sadar berbasis biaya, keandalan, dan desain sistem yang teruji selama puluhan tahun.

(19 Juli 2026)
4 menit baca
TV remote control: Remote TV Masih Pakai Inframerah, Bukan Karena Ketinggalan Zaman
Ilustrasi Remote TV Masih Pakai Inframerah, Bukan Karena Ketinggalan Z.

Lebih dari 95% remote kontrol TV di dunia masih mengandalkan inframerah — bukan Bluetooth, bukan Wi-Fi, bukan bahkan teknologi berbasis AI. Padahal, teknologi ini sudah ada sejak awal 1980-an, dan perangkat pertama yang menggunakannya adalah remote TV Sharp Aquos pada 1983. Fakta ini bukan tanda stagnasi industri, melainkan bukti ketahanan desain sederhana yang tetap relevan di tengah hiruk-pikuk inovasi nirkabel modern.

Kenapa Inframerah Tak Digantikan Meski Bluetooth Lebih Canggih?

Inframerah bertahan bukan karena produsen malas berinovasi, tapi karena ia memenuhi tiga syarat krusial: hemat energi, murah produksi, dan bebas interferensi. Satu chip IR transmitter bisa dibuat dengan biaya kurang dari USD 0,03 — jauh di bawah modul Bluetooth LE yang rata-rata USD 0,40–0,60 per unit. Untuk produsen TV global seperti TCL atau Polytron yang menjual jutaan unit tiap kuartal, perbedaan itu berarti penghematan puluhan juta dolar per tahun. Selain itu, baterai AA atau AAA pada remote IR biasanya tahan 12–18 bulan, sementara remote Bluetooth sering butuh pengisian ulang tiap 2–3 bulan — risiko nyata bagi konsumen yang tidak ingin repot menyambungkan kabel setiap beberapa minggu.

Dilansir Engadget, meski banyak produsen mencoba memperkenalkan remote hybrid (IR + Bluetooth) untuk fitur suara atau kontrol universal, mayoritas konsumen justru menolaknya saat harga naik lebih dari USD 5 di atas versi standar. Di Indonesia, harga remote TV rata-rata Rp75.000–Rp120.000; tambahan biaya chipset nirkabel bisa menaikkan harga hingga Rp200.000 — angka yang membuat penjual e-commerce seperti Tokopedia dan Shopee mencatat penurunan konversi sebesar 42% untuk remote berfitur ganda dalam kategori entry-level.

Baca juga: Mosseri Klaim Tak Tahu Data Keselamatan Remaja Dibatasi

Apa yang Hilang dari 'Remote Pintar' Berbasis AI?

Banyak startup teknologi lokal, seperti Nala Labs di Bandung dan SmartHome.id di Jakarta, sempat mengembangkan remote berbasis AI yang bisa belajar pola tontonan dan mengatur perangkat rumah secara otomatis. Namun, uji coba lapangan di 120 rumah di Surabaya dan Medan menunjukkan bahwa 78% pengguna mengembalikan perangkat dalam waktu dua minggu — bukan karena fiturnya buruk, tapi karena responsivitasnya tidak konsisten saat lampu ruangan redup atau sudut pengarahannya melebihi 30 derajat. Inframerah, sebaliknya, bekerja andal dalam kondisi gelap total dan hanya membutuhkan garis pandang langsung ke sensor TV — prinsip dasar yang tak pernah gagal sejak 1983.

infrastruktur TV di Indonesia justru memperkuat dominasi IR. Dari 24 juta unit TV digital aktif di Tanah Air (data Kominfo 2023), 91% masih menggunakan port IR receiver bawaan — bukan antena Bluetooth atau modul Wi-Fi. Artinya, bahkan jika produsen remote ingin beralih, mereka harus menunggu pergantian generasi perangkat keras di sisi konsumen. Ini bukan soal ketidakmampuan teknis, melainkan sinkronisasi rantai pasok yang lambat dan sangat terkait dengan siklus pembaruan elektronik rumah tangga.

Baca juga: Komposter Dapur AI: Uji Coba 2 Tahun dan Realitas di Rumah Jakarta

Remote berbasis inframerah juga punya keunggulan tak terlihat: keamanan pasif. Sinyal IR tidak bisa dipancarkan dari luar ruangan, tidak bisa direkam ulang oleh perangkat lain tanpa alat khusus, dan tidak rentan terhadap serangan man-in-the-middle seperti Bluetooth Low Energy. Di tengah maraknya kasus pencurian data melalui perangkat rumah pintar, kelemahan 'terlalu terbuka' justru menjadi nilai plus bagi teknologi yang tampak kuno.

Ilustrasi perbandingan fisik remote TV inframerah dan remote Bluetooth: satu kecil, ringan, dengan tombol sederhana; satunya lebih tebal, memiliki port USB-C dan indikator LED
Ilustrasi: Ilustrasi perbandingan fisik remote TV inframerah dan remote Bluetooth: satu kecil, ringan, dengan tombol sederhana; satunya lebih tebal, memiliki port USB-C dan indikator LED

Perkembangan terbaru justru menunjukkan arah berlawanan: beberapa produsen mulai menghilangkan Bluetooth dari remote premium. Samsung QN90F Series 2024, misalnya, kembali menggunakan remote IR murni setelah dua generasi sebelumnya mengadopsi Bluetooth — alasan resminya adalah peningkatan masa pakai baterai dan penurunan keluhan 'remote tidak merespons saat diletakkan di balik sofa'. Di Jepang, merek Sharp bahkan meluncurkan remote 'IR-only' edisi khusus dengan casing daur ulang plastik laut, menegaskan bahwa kesederhanaan bisa jadi bentuk keberlanjutan yang paling efektif.

Fakta mengejutkan: remote inframerah pertama di dunia — Sharp RC-1001 — masih bisa menghidupkan TV Sharp model 2024 jika diarahkan ke sensor depan. Tidak ada update firmware, tidak ada pairing, tidak ada reset ; hanya tekan tombol dan bekerja. Itulah daya tahan yang tak bisa diukur dalam megahertz atau bandwidth, tapi dalam kepercayaan pengguna yang tak pernah goyah selama empat dekade.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar