Sejak 2023, Meta telah meneken komitmen untuk membangun atau membeli kapasitas dari 10 pembangkit listrik tenaga gas alam (PLTG). Angka ini bukan proyeksi — melainkan fakta operasional yang sudah berjalan, menurut laporan internal perusahaan yang dikutip oleh Engadget. Langkah ini berbarengan dengan pengunduran diri Meta dari inisiatif kolaboratif energi bersih bernama Renewable Energy Buyers Alliance (REBA), sebuah koalisi global yang mencakup Apple, Google, dan Microsoft.
Apa Arti 10 PLTG bagi Komitmen Net-Zero Meta?
Jawabannya: kontradiksi struktural. Meta masih menyatakan target net-zero emisi langsung (Scope 1 & 2) pada 2030 dan net-zero keseluruhan rantai pasok (Scope 3) pada 2050. Namun, pembangkit gas alam — meski lebih rendah emisi dibanding batu bara — tetap menghasilkan CO₂ secara langsung dan tak bisa dikategorikan sebagai sumber energi terbarukan. PLTG juga bergantung pada pasokan gas yang rentan fluktuasi geopolitik dan harga. Dilansir Engadget, Meta tidak menjelaskan secara transparan bagaimana 10 PLTG itu akan dikompensasi lewat penyerapan karbon atau pembelian Renewable Energy Certificates (REC) dalam skala setara.
Yang lebih mencolok: keputusan ini muncul saat Meta sedang mempercepat ekspansi infrastruktur AI. Data center baru di Texas, Georgia, dan Arizona — semuanya dirancang untuk menopang pelatihan model bahasa besar dan inferensi real-time — membutuhkan daya listrik stabil dan tinggi. Gas alam memang memberi keandalan itu, tapi dengan biaya lingkungan yang justru bertentangan dengan narasi publik Meta tentang 'AI berkelanjutan'. Tidak ada satu pun dari 10 PLTG tersebut yang dikaitkan dengan proyek hidrogen hijau atau penyimpanan baterai skala besar dalam dokumen publik Meta hingga kuartal II 2024.
Baca juga: Mosseri Klaim Tak Tahu Data Keselamatan Remaja Dibatasi
Bagaimana Perbandingan dengan Pemain Lain di AS?
Google dan Microsoft tetap aktif di REBA dan memperluas kontrak jangka panjang dengan pembangkit surya dan angin — termasuk proyek hybrid dengan storage di New Mexico dan Wyoming. Apple bahkan telah mencapai 100% energi terbarukan untuk seluruh fasilitas operasionalnya sejak 2018, meski tantangan Scope 3 tetap ada. Meta justru mundur dari forum kolaborasi itu tepat ketika tekanan regulator AS terhadap transparansi emisi data center meningkat: EPA mulai mengkaji ulang aturan pelaporan emisi untuk fasilitas digital di atas 25 MW, dan California mempertimbangkan regulasi wajib pengungkapan intensitas karbon per watt komputasi.
Di Indonesia, dampaknya tidak langsung — tapi signifikan secara moral dan teknis. Banyak startup dan perusahaan lokal yang mengadopsi arsitektur cloud Meta (seperti PyTorch atau Llama) atau mengandalkan infrastruktur AI-nya melalui integrasi API. Mereka sering mengambil jalan pintas: mengandalkan klaim 'green cloud' tanpa verifikasi mendalam. Padahal, jejak karbon komputasi tidak bisa dipindahkan hanya dengan logo 'ramah lingkungan' di dashboard developer. Fakta bahwa Meta sendiri mengalihkan beban energi ke gas alam — bukan ke angin atau surya ; harus menjadi alarm bagi pengembang lokal yang ingin membangun solusi AI berkelanjutan.
Baca juga: Komposter Dapur AI: Uji Coba 2 Tahun dan Realitas di Rumah Jakarta
Perubahan strategi energi Meta juga mengungkap kelemahan sistem insentif saat ini. Di banyak negara, termasuk AS, subsidi pemerintah untuk gas alam masih lebih murah dan lebih cepat diproses daripada izin pembangunan pembangkit surya skala utilitas. Meta memilih jalan pragmatis: kecepatan ekspansi vs. Konsistensi iklim. Tapi pragmatisme ini berisiko menggerus kredibilitas — terutama ketika CEO Mark Zuckerberg secara rutin menekankan 'AI for good' dalam pidato publik.
Yang hilang dari narasi Meta adalah akuntabilitas atas intensitas energi per komputasi. Tidak cukup menyatakan 'kami menggunakan energi bersih', jika sumbernya bergeser ke gas alam tanpa offset yang diverifikasi secara independen. Laporan terbaru Carbon Disclosure Project (CDP) menunjukkan bahwa hanya 3 dari 12 perusahaan teknologi besar yang mengungkap intensitas karbon per TFLOPS — metrik kunci untuk menilai efisiensi iklim AI. Meta bukan salah satunya.
Kompleksitas ini bukan alasan untuk menyerah pada AI berkelanjutan — justru sebaliknya. Ini panggilan untuk desain ulang infrastruktur dari akar: dari chip hemat daya, arsitektur model yang lebih ringan, hingga kolaborasi lintas industri untuk standar pelaporan emisi komputasi yang bisa diverifikasi. Seperti dikatakan direktur keberlanjutan Meta dalam rapat investor Q1 2024: 'Kami memprioritaskan keandalan pasokan energi di tengah permintaan AI yang eksponensial — dan itu memerlukan fleksibilitas dalam campuran sumber daya.'
