Kenapa headphone Bluetooth Rp2 juta terasa lebih 'datar' daripada earbud Rp800 ribu saat dipasangkan ke ponsel tertentu? Jawabannya bukan di driver atau desain akustik—melainkan di lapisan tak terlihat: codec.
Apa itu codec Bluetooth—dan mengapa tidak semua 'LDAC' sama?
Codec Bluetooth adalah algoritma kompresi yang mengubah sinyal audio digital menjadi format yang bisa dikirim lewat gelombang radio tanpa kabel. Ia bekerja seperti kurir yang memilih antara mengirim paket utuh (lossless), memotong bagian 'tidak penting' (lossy), atau menyesuaikan kecepatan kirim sesuai kondisi jalur. Di sini, nama-nama seperti SBC, AAC, aptX, aptX Adaptive, dan LDAC tidak hanya label—tapi kontrak teknis antara ponsel dan headphone tentang berapa banyak data suara yang boleh dilewatkan, dengan toleransi distorsi berapa, dan seberapa cepat koneksi harus pulih saat gangguan muncul. Menurut Engadget, perbedaan nyata antar-codec baru terasa ketika sistem end-to-end—ponsel, codec, dan perangkat penerima; saling kompatibel penuh.
Contohnya: LDAC dari Sony memang mendukung bitrate hingga 990 kbps, tapi juga hanya aktif jika ponselnya menjalankan Android 8.0 ke atas dan vendor tidak mematikannya di firmware—seperti yang dilakukan beberapa produsen lokal di ponsel entry-level. AptX Adaptive dari Qualcomm bisa menyesuaikan bitrate antara 279–420 kbps secara real-time, tapi tidak berjalan di ponsel berbasis chipset MediaTek tanpa lisensi eksplisit. Artinya, spesifikasi 'dukungan LDAC' di kardus earbud belum menjamin Anda benar-benar mendengarnya—kecuali ponsel Anda juga memenuhi syarat teknis dan tidak dibatasi oleh kebijakan perangkat lunak.
Baca juga: Mosseri Klaim Tak Tahu Data Keselamatan Remaja Dibatasi
Di toko elektronik Jakarta, codec masih dijual sebagai 'fitur tambahan'—bukan parameter kritis
Di pusat perbelanjaan seperti Electronic City atau Tokopedia, deskripsi produk headphone Bluetooth masih didominasi oleh 'baterai 30 jam', 'ANC aktif', dan 'desain ergonomis'. Codec disebut dalam small print—sering hanya sebagai 'dukungan AAC & SBC', tanpa penjelasan bahwa SBC adalah codec bawaan Bluetooth versi lama dengan bitrate maksimal 345 kbps dan kompresi agresif yang menghilangkan detail frekuensi tinggi di atas 16 kHz. Padahal, menurut uji pembanding independen oleh Audio Science Review pada 2023, perbedaan antara SBC dan LDAC terukur jelas dalam tes blind listening: 78% pendengar terlatih mampu membedakan keduanya dalam trek instrumen klasik—terutama pada reproduksi petikan gitar dan resonansi cello.
Yang lebih krusial: mayoritas ponsel Android di bawah Rp3 juta—segmen terbesar pasar Indonesia—masih menggunakan chipset MediaTek Helio G series atau Snapdragon 4 Gen 1. Chipset-chipset ini secara default tidak menyertakan dukungan hardware untuk aptX Adaptive atau LDAC. Mereka hanya menjalankan SBC dan AAC. Artinya, konsumen yang membeli earbud 'bercodec premium' tanpa memeriksa kompatibilitas ponselnya justru membayar fitur yang tidak aktif; seperti membeli mobil bertransmisi otomatis, lalu memakainya hanya di gigi satu karena tidak tahu cara mengaktifkan mode sport.
Baca juga: Komposter Dapur AI: Uji Coba 2 Tahun dan Realitas di Rumah Jakarta
Beberapa merek lokal mulai merespons. Realme, misalnya, mengaktifkan aptX Adaptive di ponsel Realme GT Neo 5 SE (rilis Februari 2024) setelah kolaborasi teknis dengan Qualcomm—tapi hanya untuk model tertentu, bukan seluruh jajaran. Oppo dan Vivo masih mengandalkan AAC sebagai codec utama di ponsel mid-range mereka, padahal AAC sendiri punya keterbatasan: ia dirancang untuk efisiensi streaming, bukan fidelitas audio tinggi, dan tidak mendukung multi-channel atau resolusi di atas 24-bit/48 kHz.
Ketidakselarasan ini bukan hanya masalah teknis—melainkan celah edukasi. Tidak ada panduan resmi dari Kemenperin atau Asosiasi Industri Elektronik Indonesia (AIEI) tentang standar minimum codec untuk perangkat audio nirkabel. Konsumen tidak diberi label 'kompatibel LDAC' seperti label 'Water Resistant IP67'—padahal dampaknya lebih langsung terhadap pengalaman pengguna. Di Jepang, Sony bahkan mencantumkan logo LDAC di kemasan ponsel dan headphone sejak 2019; di Korea Selatan, Samsung menampilkan notifikasi 'codec aktif: aptX HD' di status bar. Di Indonesia, notifikasi semacam itu masih langka. Bahkan di ponsel flagship.
Rangkuman dampak langsung dari ketidaksesuaian codec ini jelas: konsumen membayar lebih untuk fitur yang tidak berfungsi, produsen gagal memaksimalkan potensi perangkatnya, dan ekosistem audio nirkabel nasional tetap terkunci di level kualitas dasar—meski teknologi sudah siap naik level. Tanpa standarisasi minimal dan transparansi spesifikasi di tingkat ritel, 'kualitas suara terbaik' lewat Bluetooth akan tetap menjadi klaim marketing, bukan pengalaman nyata.
