Empat puluh tujuh halte bus di London tiba-tiba berubah menjadi galeri protes visual pekan lalu — semua dipenuhi poster besar bergaya iklan produk teknologi canggih: 'Meta Glasses', dengan tagline 'Lihat Dunia Seperti yang Seharusnya'. Nyatanya, kacamata itu tidak pernah ada. Itu adalah karya kelompok aktivis anonim bernama 'The Glitch Mob', yang sengaja memanfaatkan celah estetika iklan digital untuk menyampaikan kritik tentang normalisasi pengawasan dan manipulasi persepsi melalui AI.
Bagaimana Ilusi Optik Mengungkap Realitas Pengawasan
Salah satu poster paling viral menampilkan efek optical illusion mirip film 'They Live' — ketika dilihat melalui kacamata hitam biasa, teks di poster berubah dari kalimat promosi jadi peringatan: 'Anda sedang diawasi', 'Data Anda dijual', 'Realitas ini dikurasi'. Teknik ini bukan hanya trik grafis; ia menghidupkan kembali gagasan kritis dari tahun 1988 bahwa teknologi tidak netral — ia selalu membawa agenda kekuasaan. Poster-poster itu dicetak di kertas daur ulang berlapis UV ink, sehingga hanya terlihat saat disinari lampu senter atau cahaya matahari miring. Dilansir Engadget, tim aktivis menghabiskan tiga minggu memetakan rute bus, menguji sudut pandang penumpang, dan mensimulasikan respons publik lewat survei kecil di area Camden dan Shoreditch.
Mereka sengaja memilih lokasi strategis: halte dekat kantor Meta UK di Kings Cross, kawasan universitas UCL tempat riset visi komputer berkembang pesat, serta jalur komuter padat seperti Oxford Street. Tidak ada satu pun poster yang menyebut nama kelompok secara eksplisit — hanya logo berbentuk lensa retak dengan kode QR yang mengarah ke arsip dokumenter berjudul 'The Seeing Machine', berisi rekaman wawancara dengan mantan insinyur Meta, akademisi etika AI dari University of Edinburgh, dan transkrip sidang parlemen Inggris soal regulasi augmented reality tahun 2023.
Baca juga: Mosseri Klaim Tak Tahu Data Keselamatan Remaja Dibatasi
Apa yang Hilang dari Narasi 'Tech for Good'
Narasi resmi industri teknologi kerap menyamarkan kapasitas pengawasan sebagai 'pengalaman personalisasi' atau 'peningkatan interaksi manusia-mesin'. Padahal, menurut laporan terbaru dari European Digital Rights (EDRi), 68% prototipe kacamata AR generasi ketiga sudah dilengkapi sensor biometrik pasif — termasuk deteksi denyut nadi, ekspresi wajah, dan pola pergerakan pupil — tanpa persetujuan eksplisit pengguna. The Glitch Mob tidak menyerang teknologinya, tapi cara narasi itu dibangun: dengan mengadopsi bahasa iklan, mereka memaksa publik mengenali betapa mudahnya kita menerima pengawasan sebagai fitur, bukan pelanggaran.
Di Indonesia, tren serupa mulai muncul dalam bentuk lain: kampanye 'Stop Facial Recognition di TransJakarta' oleh Koalisi Masyarakat Sipil untuk Privasi Digital pada 2022, yang menggunakan stiker bertuliskan 'Wajah Anda Bukan Tiket' di pintu masuk halte. Namun berbeda dengan aksi di London, kampanye lokal belum menyentuh lapisan estetika teknologi — masih dominan poster tulisan langsung, bukan ilusi yang mengundang partisipasi visual. Ini bukan soal keterbatasan sumber daya, tapi perbedaan pendekatan: di London, kritik disampaikan lewat bahasa sistem itu sendiri — sehingga lebih sulit diabaikan sebagai 'propaganda anti-teknologi'.
Baca juga: Komposter Dapur AI: Uji Coba 2 Tahun dan Realitas di Rumah Jakarta
Meta tidak merilis pernyataan resmi selama seminggu setelah aksi. Baru pada hari kedelapan, akun Twitter resmi Meta Reality Labs memposting gambar kacamata nyata versi beta dengan caption 'Real glasses. Real privacy controls.' — tanpa menyebut aksi aktivis. Sikap diam itu justru memperkuat pesan The Glitch Mob: korporasi besar tidak perlu membantah ilusi, karena ilusi itu sudah jadi bagian dari operasi sehari-hari mereka. Menurut Engadget, internal memo Meta yang bocor awal tahun ini menyebut 'user perception shaping' sebagai salah satu prioritas utama tim UX untuk Q4 2024.
mirip dengan aksi serupa di Berlin tahun 2001, ketika kelompok 'Zentrum für Kunst und Medientechnologie' menempelkan stiker 'Big Brother is Watching You — With Your Permission' di 23 ATM di pusat kota. Saat itu, stiker itu memicu debat nasional tentang UU perlindungan data Jerman dan berkontribusi pada revisi Pasal 13a Bundesdatenschutzgesetz. Aksi di London kali ini tidak menuntut perubahan undang-undang spesifik — tapi menuntut perubahan cara kita membaca iklan, memandang kacamata, dan mempercayai apa yang tampak 'canggih'. Karena dalam era di mana kamera bisa mengenali emosi, kritik tidak lagi cukup ditulis ; ia harus dilihat, dirasakan, dan diuji dari sudut pandang yang berbeda.
