Ainesia
AI & Machine Learning

Nous Research Incar $75 Juta di Tengah Gelombang Agent AI

Startup Nous Research, pembuat agen AI Hermes, sedang menggalang pendanaan baru dengan valuasi $1,5 miliar. Robot dan USV jadi pemain utama.

(13 Juli 2026)
4 menit baca
Nous Research Incar $75 Juta: Nous Research Incar $75 Juta di Tengah Gelombang Agent AI
Ilustrasi Nous Research Incar $75 Juta di Tengah Gelombang Agent AI.

Bayangkan seorang analis riset di Jakarta yang pagi-pagi sudah menerima laporan otomatis: tidak hanya ringkasan data pasar, tapi juga rekomendasi taktis berbasis perubahan regulasi terbaru di Singapura, simulasi dampaknya terhadap margin UMKM lokal, dan daftar tiga vendor teknologi yang bisa dihubungi hari ini — semua dihasilkan oleh satu agen AI bernama Hermes. Itulah skenario nyata yang mulai diwujudkan oleh Nous Research, startup asal Amerika Serikat yang kini berada di garis depan gelombang 'AI agent' global.

Beda Hermes dari Chatbot Generasi Sebelumnya

Hermes bukan chatbot biasa. Ia dirancang sebagai 'agent' — entitas otonom yang bisa memecah tujuan kompleks menjadi serangkaian langkah, mengakses alat eksternal (seperti spreadsheet, API ke database pemerintah, atau sistem CRM), lalu mengeksekusi tindakan tanpa intervensi manusia tiap langkah. Berbeda dengan model besar seperti GPT-4 atau Claude yang fokus pada respons generatif, Hermes beroperasi dalam mode 'plan-and-act'. Ia tidak hanya menjawab pertanyaan, tapi juga membuka dokumen Excel, menghitung ulang proyeksi arus kas, dan mengirim email hasil analisis ke tim keuangan. Menurut TechCrunch AI, pendekatan ini membuat Nous Research masuk dalam segmen paling ketat di ekosistem AI: agen yang benar-benar beroperasi di luar sandbox percobaan.

Teknologi ini tidak hanya eksperimen akademis. Versi awal Hermes telah diuji di lima perusahaan fintech AS dan dua konsultan manajemen Eropa sejak awal 2024. Salah satu klien menyebut waktu penyusunan laporan strategis turun dari 18 jam menjadi 3,5 jam — bukan karena pekerjaan dipindahkan ke manusia lain, tapi juga karena agen itu sendiri yang melakukan penelitian, verifikasi data lintas sumber, dan penyusunan narasi.

Baca juga: Stability AI Kumpulkan $76 Juta, Total Pendanaan Capai $232 Juta

Robot dan USV tidak hanya Investor, tapi juga Mitra Strategis

Pendanaan baru yang sedang digalang Nous Research — minimal $75 juta — tidak hanya soal modal. Yang lebih penting adalah siapa yang terlibat: Robot, venture firm spesialis infrastruktur AI yang didirikan mantan insinyur OpenAI dan Anthropic, serta Union Square Ventures (USV), investor legendaris di Twitter, Coinbase, dan MongoDB. Keduanya tidak hanya pencari return finansial. Robot memiliki rekam jejak membangun toolchain untuk agen AI, sementara USV dikenal mendukung perusahaan yang mengubah cara kerja organisasi ; bukan hanya produk teknisnya.

Dilansir TechCrunch AI, partisipasi USV menunjukkan bahwa investor kini melihat agen AI bukan sebagai fitur pelengkap, tapi juga sebagai lapisan operasional baru yang akan menggantikan banyak proses administratif dan analitis tingkat menengah. Ini berbeda dari gelombang investasi AI sebelumnya yang fokus pada foundation model atau aplikasi vertikal seperti kesehatan atau hukum. Di sini, fokusnya adalah pada bagaimana pekerjaan dilakukan — bukan apa yang dikerjakan.

Baca juga: HP Mati Total Meski Baterai 100%: Fenomena yang Makin Sering di Indonesia

Valuasi $1,5 miliar yang disebut dalam pembicaraan pendanaan memang tinggi, tapi tidak tanpa dasar. Nous Research belum mengungkap pendapatan, namun sumber internal menyebut kontrak pra-penjualan dengan tiga perusahaan multinasional mencapai total $42 juta dalam bentuk committed annual recurring revenue (ARR) selama tiga tahun ke depan. Angka itu belum termasuk potensi lisensi ke penyedia layanan TI di Asia Tenggara, yang sedang dalam negosiasi tahap akhir.

Di Indonesia, tren ini belum sepenuhnya menyentuh level eksekutif. Sebagian besar implementasi AI masih berupa chatbot layanan pelanggan atau alat bantu HR untuk screening CV. Belum ada platform lokal yang menawarkan agen otonom dengan kemampuan integrasi multi-sistem seperti Hermes. Padahal, kebutuhan justru tinggi: survei Asosiasi Penyedia Layanan Teknologi Informasi Indonesia (APTIKI) 2024 menunjukkan 68% perusahaan menengah kesulitan mempertahankan analis bisnis karena beban kerja repetitif — tugas tepat yang bisa diambil alih agen seperti Hermes.

Ilustrasi antarmuka Hermes menampilkan tiga panel: satu menunjukkan alur perencanaan tugas, satu lagi mengakses database pemerintah, dan panel ketiga menghasilkan laporan PDF otomatis
Ilustrasi: Ilustrasi antarmuka Hermes menampilkan tiga panel: satu menunjukkan alur perencanaan tugas, satu lagi mengakses database pemerintah, dan panel ketiga menghasilkan laporan PDF otomatis

Nous Research tidak mengunci teknologinya untuk klien korporat besar saja. Mereka sedang mengembangkan versi lightweight untuk UKM, dengan model pricing berbasis jumlah tugas harian — bukan jumlah pengguna atau volume data. Model ini bisa jadi pintu masuk bagi perusahaan Indonesia yang ingin mencoba tanpa komitmen infrastruktur besar. Namun, tantangan tetap ada: kesiapan sistem legacy, keterbatasan SDM untuk mengonfigurasi agen, dan kebijakan internal tentang otonomi keputusan AI.

Jika agen seperti Hermes benar-benar masuk ke lini operasional perusahaan Indonesia dalam dua tahun ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah kita siap mengadopsinya — tapi siapa yang akan mengatur batas kewenangannya, dan bagaimana kita memastikan agen itu bekerja untuk manusia, bukan sebaliknya?

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar