"AI tidak membunuh mainframe — AI hanya mengalihkan anggaran perusahaan untuk sementara." Pernyataan langsung Arvind Krishna, CEO IBM, menjadi landasan krusial dalam upaya memulihkan kepercayaan pasar setelah saham perusahaan anjlok 8% dalam satu hari pekan lalu. Penurunan itu dipicu laporan kuartalan yang mengungkap penurunan signifikan dalam penjualan sistem z16 dan z15, terutama di sektor keuangan dan pemerintahan Asia Pasifik.
Dilansir TechCrunch AI, tekanan pada mainframe bukan berasal dari kegagalan teknis atau ketidakrelevanan arsitektur, melainkan dari pergeseran alokasi belanja IT korporat. Perusahaan-perusahaan besar kini mengalokasikan hingga 40% dari anggaran infrastruktur baru mereka ke proyek AI generatif — bukan untuk mengganti mainframe, tapi untuk membangun layer analitik dan otomatisasi di atasnya. Di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi global, prioritas belanja berubah dari upgrade hardware legacy ke eksperimen cepat dengan model bahasa besar dan pipeline data real-time.
Di Mana Mainframe Masih Tak Terdiganti
IBM tidak menyangkal bahwa penjualan mainframe turun — faktanya, divisi IBM Z mencatat penurunan pendapatan 12% year-on-year pada kuartal II 2024, menurut laporan keuangan resmi perusahaan. Namun, yang sering luput dari sorotan adalah bahwa 92% dari 4.500 pelanggan mainframe IBM tetap memperpanjang kontrak layanan pemeliharaan tahunan. Artinya, mesin fisik mungkin tidak dibeli baru, tapi operasionalnya justru semakin kritis. Transaksi kliring perbankan di Indonesia, misalnya, masih 97% berjalan di atas sistem z/OS — termasuk proses settlement antarbank di Bank Indonesia dan kliring nasional yang dioperasikan oleh KSEI.
Baca juga: Mengapa Foto dari Ponsel Bisa Lebih Tajam daripada Kamera DSLR?
IBM justru mempercepat integrasi AI ke dalam ekosistem mainframe lewat fitur seperti IBM Z AI Accelerator dan integrasi Watsonx dengan z/OS. Platform ini bukan menggantikan COBOL, tapi memungkinkan developer Java dan Python mengakses data transaksional historis — yang selama puluhan tahun terkunci di mainframe — tanpa harus memindahkan data ke cloud. Ini bukan migrasi keluar, tapi augmentasi dari dalam.
Bagaimana Perusahaan Indonesia Menghadapi Dilema Ini
Di Indonesia, dilema ini terasa lebih tajam. Bank-bank besar seperti BRI dan Mandiri masih mengandalkan mainframe IBM Z untuk core banking, namun secara paralel mengembangkan chatbot berbasis LLM untuk layanan nasabah dan sistem deteksi fraud berbasis AI di platform hybrid cloud. Menurut survei Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) 2024, 68% bank lokal mengalokasikan anggaran TI 2024 lebih banyak ke proyek AI daripada ke modernisasi infrastruktur legacy — meski tak satu pun berani mematikan sistem mainframe-nya.
Baca juga: 72% Warga Indonesia Cari Gejala Penyakit via AI — Tapi Diagnosanya Bisa Salah
Ini bukan soal ketidakmampuan teknis, tapi soal risiko operasional. Memindahkan sistem kliring bernilai triliunan rupiah dari z/OS ke Kubernetes tidak hanya soal kode, tapi juga soal regulasi OJK, audit BPKP, dan toleransi nol terhadap downtime. Seorang CTO bank nasional yang enggan disebut namanya mengakui kepada kami: "Kami bisa bikin AI yang lebih pintar dari manusia, tapi belum ada yang berani tekan tombol 'shutdown' untuk sistem yang menjalankan 30 juta transaksi harian."
IBM sendiri tidak lagi menjual mainframe sebagai 'mesin hitung', tapi sebagai 'platform kepercayaan'. Dalam presentasi internal ke klien Asia Tenggara awal Juli, tim IBM Z menekankan tiga nilai unik: enkripsi end-to-end bawaan, compliance otomatis untuk regulasi seperti POJK 12/2021, dan kemampuan menjalankan workload kritis tanpa interupsi selama 15 tahun berturut-turut — sesuatu yang belum satu pun cloud publik bisa garansi.
Yang hilang dari narasi pasca-kuartal buruk IBM adalah bahwa mainframe bukan kompetitor AI, tapi fondasi yang memungkinkan AI beroperasi secara aman di lingkungan regulasi ketat. Di tengah maraknya insiden kebocoran data akibat fine-tuning LLM dengan data sensitif, mainframe justru kembali jadi tempat paling aman menyimpan dan memproses data transaksional — bukan karena ia lambat, tapi karena ia dirancang untuk tidak pernah gagal.
"Kami tidak sedang mempertahankan mainframe demi nostalgia. Kami mempertahankannya karena dunia keuangan dan pemerintahan butuh sesuatu yang tidak bisa di-restart — dan AI yang andal butuh dasar yang tidak bisa di-hack," tutup Arvind Krishna dalam konferensi pers virtual di Singapura, 12 Juli 2024.
