Bayangkan seorang pendiri startup kecerdasan buatan duduk di ruang rapat tertutup. Ia menawarkan saham perusahaan yang sama kepada dua investor berbeda pada waktu yang hampir bersamaan. Namun, lembar term sheet yang mereka terima menunjukkan angka valuasi yang tidak sama sama sekali. Praktik ini kini menjadi rahasia terbuka di kalangan pendiri teknologi tingkat tinggi.
Laporan terbaru menyoroti fenomena manipulasi valuasi yang semakin marak terjadi. TechCrunch Startups mengungkap strategi baru yang diadopsi oleh sebagian pendiri AI ambisius. Mereka menjual ekuitas identik dengan dua harga berbeda secara simultan dalam satu putaran. Tujuannya jelas, yaitu menciptakan status unicorn secara artifisial tanpa pertumbuhan organik.
Mekanisme ini memungkinkan perusahaan terlihat lebih berharga daripada kondisi sebenarnya di mata publik. Investor tertentu mungkin mendapatkan harga masuk yang lebih rendah daripada investor lain yang kurang informasi. Perbedaan harga ini terjadi pada putaran pendanaan yang sama tanpa disclosure yang memadai. Hal ini membingungkan standar penilaian industri yang biasa berlaku secara universal.
Baca juga: Pelacak TechInAsia Soroti Pendanaan Teknologi India
Strategi Valuasi Ganda
Praktik ini mengubah cara pasar menilai kesehatan perusahaan teknologi secara mendasar. Pendiri memanfaatkan celah dalam struktur kesepakatan pendanaan swasta yang tidak transparan. Mereka mencatat valuasi tinggi berdasarkan harga yang dibayar segelintir investor terpilih. Sementara investor lain masuk pada harga yang jauh lebih rendah untuk risiko yang sama.
Hasilnya adalah laporan valuasi yang terlihat mengesankan di atas kertas publikasi media. Status unicorn menjadi lebih mudah dicapai melalui rekayasa angka keuangan yang sistematis. TechCrunch mencatat ini sebagai mekanisme valuasi yang novel dalam industri startup global. Namun, integritas data keuangan perusahaan menjadi pertaruhan utama bagi semua pihak.
Dampak Terhadap Ekosistem
Ketidakseragaman harga saham menimbulkan risiko serius bagi pemegang kepentingan jangka panjang. Investor awal bisa merasa dirugikan jika mengetahui perbedaan perlakuan harga tersebut nanti. Transparansi menjadi korban dalam pursuit status prestisius tersebut di pasar yang kompetitif. Pasar modal membutuhkan konsistensi harga untuk fungsi yang sehat dan adil.
Baca juga: AWS dan Cerebras Klaim Inferensi AI 10 Kali Lebih Cepat
Fenomena ini menunjukkan tekanan besar untuk tumbuh cepat di sektor kecerdasan buatan. Kompetisi mendapatkan label unicorn sangat ketat saat ini di antara ribuan perusahaan baru. Pendiri merasa perlu menampilkan angka besar untuk menarik perhatian media dan talenta terbaik. Akibatnya, metode konvensional sering kali dikesampingkan demi kecepatan pencapaian target.
Laporan ini memberikan peringatan keras bagi investor untuk lebih teliti sebelum menandatangani kesepakatan. Due diligence harus mencakup pemeriksaan harga per saham secara mendetail dan menyeluruh. Jangan hanya melihat total valuasi perusahaan yang diumumkan melalui siaran pers resmi. Perbedaan harga bisa menyembunyikan kelemahan fundamental bisnis yang sebenarnya.
Industri teknologi telah lama bergulat dengan masalah inflasi valuasi selama dekade terakhir. Namun, penjualan ekuitas sama dengan dua harga berbeda menunjukkan eskalasi baru dalam rekayasa keuangan. Ini tidak hanya optimisme berlebihan, tapi juga rekayasa struktur keuangan yang disengaja. Investor kini dihadapkan pada tantangan membedakan antara pertumbuhan nyata dan ilusi angka semata.
