Lebih dari 62% total dana ventura yang mengalir ke startup Jepang pada 2023 berasal dari hanya tiga perusahaan investasi — Global Brain, JAFCO, dan SBI Investment. Angka ini tidak hanya indikator dominasi, tapi juga cermin ketatnya filter pasar: investor lokal tidak lagi memilih secara acak, tapi fokus presisi pada startup dengan teknologi berbasis AI dan infrastruktur keuangan digital.
Global Brain vs JAFCO: Dua Model Pendanaan yang Berbeda Arah
Global Brain, yang berdiri sejak 1998 dan tercatat sebagai VC pertama di Jepang yang fokus penuh pada teknologi, menyalurkan 27 putaran pendanaan dalam 12 bulan terakhir — 41% di antaranya ke startup AI generatif dan tools untuk otomatisasi operasional bisnis. Sementara JAFCO, yang lebih tua (berdiri 1973) dan punya jaringan kuat dengan korporasi besar seperti Mitsubishi dan Sumitomo, justru memprioritaskan startup yang bisa langsung diintegrasikan ke rantai pasok industri manufaktur. Menurut TechInAsia, JAFCO menyumbang 34% dari total dana korporat yang masuk ke startup industri cerdas tahun lalu.
Perbedaan ini bukan soal preferensi semata, tapi refleksi dua strategi nasional yang saling bersaing: satu mendorong inovasi dari bawah lewat ekosistem startup, satunya lagi mempercepat transformasi dari atas lewat kolaborasi vertikal dengan grup usaha. Global Brain misalnya, baru saja memimpin putaran Seri B senilai ¥3,2 miliar untuk DeepLabs Tokyo — startup yang mengembangkan model bahasa Jepang khusus untuk dokumen hukum dan regulasi. JAFCO justru berada di belakang pendanaan ¥5,1 miliar untuk RoboForge, perusahaan yang membuat sistem pengawasan kualitas produk otomatis berbasis computer vision untuk pabrik Toyota dan Denso.
Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi
Startup Jepang Masih Bergantung pada Modal Lokal — Tapi dengan Syarat Ketat
Tidak seperti Indonesia atau Vietnam, di mana investor asing sering kali menjadi penyumbang utama putaran awal, startup Jepang justru sangat bergantung pada modal domestik. Data TechInAsia menunjukkan bahwa 78% pendanaan Seri A dan B di Jepang pada 2023 berasal dari VC lokal atau korporasi Jepang — angka tertinggi di Asia Pasifik. Namun ketergantungan ini bukan berarti mudah. Syaratnya ketat: startup harus sudah memiliki revenue minimal ¥200 juta per tahun atau telah menjalin kerja sama komersial dengan setidaknya dua perusahaan besar sebelum bisa masuk ke tahap due diligence serius.
Kondisi ini menciptakan efek domino: banyak founder muda memilih membangun produk selama 2–3 tahun tanpa pendanaan, hanya untuk memastikan mereka lolos seleksi awal. Akibatnya, rata-rata usia startup Jepang saat mendapat Seri A adalah 4,7 tahun — jauh lebih tua dibanding rata-rata 2,3 tahun di Singapura. Di sini, bukan kecepatan yang dihargai, tapi ketahanan dan kemampuan membuktikan nilai nyata di pasar nyata.
Baca juga: Stripe Masuk Singapura: Apa Artinya untuk UMKM Indonesia?
meski AI menjadi fokus utama, belum ada startup Jepang yang berhasil membangun foundation model bahasa skala global. Sebagian besar tetap bermain di niche: model khusus bahasa Jepang, sistem deteksi anomali untuk data sensor industri, atau alat verifikasi identitas berbasis biometrik wajah Jepang — yang memang berbeda karakteristiknya dari populasi Asia Tenggara atau Barat. Ini bukan kelemahan, tapi pilihan strategis: membangun keunggulan kompetitif di area yang sulit ditiru karena keterkaitannya dengan regulasi lokal dan struktur bahasa.
Di tengah semua itu, SBI Investment muncul sebagai pengecualian menarik. Perusahaan ini tidak hanya aktif di pendanaan, tapi juga membangun platform internal bernama 'SBI AI Bridge' — sebuah program inkubasi berbayar yang memberikan akses ke dataset pemerintah Jepang, API perbankan, dan pelatihan compliance untuk regulasi AI yang mulai berlaku efektif April 2024. Program ini bukan donasi, tapi investasi jangka panjang: startup yang lulus mendapat opsi pendanaan Seri A dengan syarat harga saham sudah dikunci sejak fase inkubasi.
"Kami tidak mencari unicorn, kami mencari 'workhorse' — startup yang bisa bekerja keras di lapangan, bukan hanya hebat di slide presentasi," ujar Kenji Tanaka, Managing Director SBI Investment, dalam wawancara eksklusif dengan TechInAsia pekan lalu.
