"Kami tidak membuat robot untuk museum teknologi, tapi untuk kapal nelayan di Lombok yang butuh cek lambung dalam 20 menit — bukan dua hari menunggu tim inspeksi dari Jakarta." Kalimat itu, meski bukan kutipan langsung dari pendiri Dubotech, mewakili filosofi desain yang justru tercermin dari pilihan strategis mereka: fokus pada portabilitas, keandalan di kondisi laut tropis, dan harga yang bisa dijangkau operator lokal.
Portabilitas sebagai Senjata Kompetitif
Dubotech bukan startup pertama yang membangun robot bawah air — tapi salah satu sangat sedikit yang secara eksplisit menolak model 'ROV kelas industri' berbobot 80 kg dan memerlukan crane kapal. Produk utama mereka, yang disebut 'DuboScan', beratnya hanya 12,3 kg, bisa dimuat dalam ransel standar, dan dioperasikan oleh satu orang dengan tablet Android. Tidak perlu lisensi khusus, tidak perlu pelatihan tiga minggu, dan tidak memerlukan generator 220 volt. Menurut TechInAsia, pendekatan ini sengaja dibangun untuk mengisi celah antara drone udara yang sudah murah dan ROV mahal yang hanya terjangkau oleh BUMN atau kontraktor migas multinasional.
Di Indonesia, lebih dari 70% kapal penangkap ikan berukuran di bawah 30 GT — mayoritas beroperasi di perairan dangkal dan tidak punya akses ke layanan inspeksi rutin. Kerusakan lambung akibat karat atau benturan sering terdeteksi terlambat, menyebabkan kebocoran atau kecelakaan navigasi. DuboScan dirancang untuk mendeteksi retakan sekecil 0,5 mm dalam kondisi visibilitas kurang dari 1 meter — spesifikasi yang diuji di Teluk Benoa dan Pulau Pari, bukan di kolam uji laboratorium bersuhu terkendali.
Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi
Siapa yang Benar-Benar Butuh Robot Ini?
Jawabannya bukan hanya operator kapal, tapi juga unit pengawasan pelabuhan kecil, koperasi nelayan, dan bahkan tim mitigasi bencana daerah. Di Sulawesi Selatan, dua kabupaten telah menguji DuboScan untuk pemantauan dasar sungai pasca-banjir bandang — bukan untuk inspeksi struktur jembatan, tapi untuk mengidentifikasi longsoran bawah air yang mengancam fondasi. Teknologi ini justru menjadi relevan karena tidak sempurna: resolusi kameranya memang kalah dari ROV kelas AUV, tapi justru cukup untuk membaca pola erosi atau keberadaan puing kayu besar.
Dilansir TechInAsia, pendanaan awal sebesar US$400.000 berasal dari angel investor regional dan dana riset teknologi maritim Jepang. 60% dari dana itu dialokasikan bukan untuk R&D, melainkan untuk uji lapangan di lima lokasi berbeda: dari pelabuhan tradisional di Pantai Utara Jawa hingga fasilitas tambak udang di Lampung. Hasilnya? Waktu inspeksi turun rata-rata 78% dibanding metode penyelam manual, dan biaya operasional per misi turun 42% — angka yang dikonfirmasi dalam laporan internal Dubotech yang diperoleh redaksi.
Baca juga: Stripe Masuk Singapura: Apa Artinya untuk UMKM Indonesia?
Ini bukan soal menggantikan manusia, tapi memperluas jangkauan mata manusia. Seorang nelayan di Sumbawa Barat kini bisa memverifikasi kondisi lambung kapalnya sendiri sebelum berlayar — bukan menunggu surat izin dari Dinas Perhubungan yang butuh empat hari kerja. Di sini, nilai tambah Dubotech bukan pada kecanggihan algoritma AI-nya (yang memang masih level deteksi objek dasar), tapi pada keberanian mengurangi kompleksitas sistem hingga tingkat yang bisa dipahami dan dipercaya oleh pengguna akhir.
Perkembangan ini juga menyoroti sebuah realitas tak terucapkan dalam ekosistem startup teknologi maritim Indonesia: banyak solusi lokal justru lahir bukan dari pusat inovasi kota besar, tapi dari observasi langsung di dermaga, tempat para pendiri melihat sendiri bagaimana nelayan mengikat kamera GoPro ke batu bata untuk mengecek jaring. Dubotech adalah contoh nyata bahwa inovasi tidak selalu dimulai dari lab — kadang dimulai dari kebutuhan yang terabaikan, di tempat yang tidak masuk dalam peta prioritas regulator.
Fakta tambahan yang mengejutkan: Dubotech telah menerima tiga permintaan lisensi teknologi dari negara Afrika Barat — bukan untuk ekspor unit, tapi untuk produksi lokal di bawah lisensi. Semua permintaan itu datang setelah demo di acara Maritime Week Lagos 2024, di mana DuboScan berhasil menyelesaikan inspeksi dasar pelabuhan dengan waktu 11 menit — lebih cepat dari dua tim penyelam profesional yang menghabiskan total 92 menit untuk area yang sama.
