Bayangkan seorang pengguna meminta asisten kecerdasan buatan untuk membelikan sepatu secara otomatis tanpa pengawasan manusia sedikitpun. Sistem tersebut berusaha masuk ke akun ritel raksasa untuk menyelesaikan transaksi keuangan tanpa campur tangan manusia langsung dalam prosesnya. Namun, langkah otomatisasi ini tiba-tiba terhenti oleh tembok hukum yang kokoh dari pengadilan federal. Skenario yang terdengar futuristik tersebut kini menjadi kenyataan setelah intervensi lembaga peradilan federal Amerika Serikat yang berwenang.
Seorang hakim federal telah menerbitkan perintah resmi yang memblokir agen AI berbasis peramban web milik Perplexity secara total. Mereka tidak lagi diperbolehkan menempatkan pesanan Amazon atas nama pengguna yang telah mendaftar layanan tersebut di platform. Kabar ini sebelumnya telah dilaporkan oleh Bloomberg sebagai informasi awal kepada publik luas sebelum putusan resmi keluar. Keputusan ini mengubah cara interaksi antara agen belanja otomatis dengan platform e-commerce besar secara signifikan dan permanen.
Dalam putusan pada hari Senin, Hakim Distrik AS Maxine Chesney menyampaikan alasan hukum yang sangat mendasar bagi para pihak yang bersengketa. Ia menulis bahwa Amazon telah "provided strong evidence" terkait akses yang dilakukan Perplexity selama ini terhadap sistem. Peramban Comet milik startup AI tersebut mengakses akun pengguna "without authorization" dari raksasa ritel itu secara sepihak.
Baca juga: ByteDance Bekukan Peluncuran Global AI Video Seedance 2.0
Kronologi Gugatan Hukum
Amazon mengajukan gugatan terhadap Perplexity pada bulan November tahun lalu untuk menghentikan praktik tersebut secara hukum. Perusahaan menuduh bahwa mereka berulang kali meminta startup AI tersebut menghentikan fitur belanja agen sebelum membawa kasus ke pengadilan. Permintaan penghentian itu tidak diindahkan sehingga memicu langkah hukum yang lebih tegas dari pihak retail besar. Proses ini menunjukkan keseriusan Amazon dalam melindungi platform marketplace mereka dari akses pihak ketiga yang tidak diinginkan.
Perusahaan menuduh Perplexity melakukan intrusi ke dalam marketplace dan akun pengguna mereka secara tidak sah dan merugikan. Fitur belanja agentic milik Comet menjadi titik utama permasalahan dalam kasus sengketa teknologi ini di pengadilan. Akses tanpa izin dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak kontrol platform atas data pelanggan yang sensitif dan pribadi. Tuduhan ini menjadi dasar kuat bagi hakim untuk mengeluarkan perintah pemblokiran segera terhadap layanan tersebut.
Implikasi Akses Tanpa Izin
Kasus ini menyoroti batasan hukum mengenai otorisasi akses pada masa otomatisasi cerdas yang berkembang pesat di industri teknologi. Platform e-commerce mempertahankan hak penuh atas siapa yang boleh masuk ke sistem mereka untuk bertransaksi jual beli. Agen otomatis harus mendapatkan persetujuan eksplisit sebelum melakukan transaksi atas nama orang lain di platform tersebut secara sah. Pelanggaran terhadap protokol keamanan ini berisiko terkena sanksi hukum berat dari pengadilan federal yang mengawasi.
Baca juga: Spotify Taste Profile: Pengguna Kini Kendalikan Algoritma Musik
Hakim Maxine Chesney menegaskan posisi hukum yang jelas melalui putusannya pada hari Senin minggu ini secara tertulis dan resmi. Ia menyatakan Amazon telah "provided strong evidence" bahwa peramban Comet Perplexity mengakses akun pengguna "without authorization" dari raksasa ritel tersebut. Kutipan ini menjadi penutup definitif bagi sengketa akses agen AI ke platform Amazon saat ini bagi para pengamat teknologi hukum.
