Ainesia
Gadget & Hardware

Amazon Perluas Drone ke 500 Kota AS — Tapi Bukan untuk Indonesia

Prime Air kini menjangkau hampir 500 kota di AS, naik enam kali lipat. Namun di Indonesia, regulasi penerbangan drone komersial masih mengunci layanan serupa.

(19 Agustus 2026)
4 menit baca
Amazon drone over house: Amazon Perluas Drone ke 500 Kota AS — Tapi Bukan untuk Indonesia
Ilustrasi Amazon Perluas Drone ke 500 Kota AS — Tapi Bukan untuk Indon.

Bayangkan: sebuah paket berisi obat darurat tiba di halaman rumah Anda dalam 45 menit — tanpa pengemudi, tanpa kemacetan, hanya desiran lembut dari empat baling-baling di atas atap. Skenario ini bukan fiksi ilmiah lagi di Chicago atau Boise. Mulai akhir 2024, Amazon Prime Air akan melayani wilayah metro tersebut, serta Syracuse, Cleveland, dan Atlanta, menambah daftar kota yang bisa menerima kiriman udara otomatis.

Wilayah Cakupan yang Meledak — Tapi Tak Menyentuh Asia Tenggara

Dilansir The Verge, Amazon mengumumkan ekspansi besar-besaran Prime Air hingga mencakup 'hampir 500 kota dan kota kecil di Amerika Serikat' sebelum akhir tahun ini. Angka itu merupakan lompatan enam kali lipat dari jangkauan saat ini, yang baru mencakup 11 lokasi tersebar di seluruh negeri. Setiap pusat operasi Prime Air dirancang melayani area seluas sekitar 175 mil persegi — setara dengan luas Jakarta Pusat ditambah Bekasi Barat dan Depok Utara digabungkan.

semua lokasi baru berada di wilayah dengan infrastruktur udara teratur, ketinggian bangunan rendah, dan regulasi FAA (Federal Aviation Administration) yang sudah mengakui drone sebagai bagian dari sistem logistik nasional sejak 2020. Di Chicago, misalnya, Amazon bekerja sama dengan bandara Midway untuk mengintegrasikan jalur terbang drone ke dalam manajemen lalu lintas udara lokal. Di Boise, Idaho, mereka memanfaatkan topografi dataran tinggi dan cuaca stabil sepanjang tahun — kombinasi langka yang belum tersedia di banyak kota Indonesia.

Baca juga: Komposter Dapur AI: Uji Coba 2 Tahun dan Realitas di Rumah Jakarta

Regulasi Drone Komersial di Indonesia Masih di Titik Nol Operasional

Di Indonesia, tidak ada satu pun kota yang saat ini memenuhi syarat teknis maupun administratif untuk menjalankan layanan serupa. Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan membatasi penggunaan drone komersial di atas permukiman tanpa izin khusus dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub — izin yang hingga kini belum pernah dikeluarkan untuk layanan pengiriman barang ke konsumen akhir. Bahkan uji coba oleh PT Pos Indonesia dan startup lokal seperti Nala Robotics di Bandung atau Surabaya hanya berlangsung di area tertutup atau zona khusus, bukan di ruang udara publik.

Menurut The Verge, Amazon telah menghabiskan lebih dari 12 tahun dan USD 1,5 miliar untuk mengembangkan sistem deteksi rintangan, algoritma navigasi otonom, dan protokol komunikasi satelit-drone yang disetujui FAA. Badan Pengatur Transportasi Udara (BPTU) Kemenhub baru menyusun panduan teknis drone komersial pada awal 2023 — dan itu pun hanya berlaku untuk survei lahan dan pemetaan, bukan logistik. Belum ada roadmap resmi untuk integrasi drone dalam rantai pasok ritel.

Baca juga: Apa Sebenarnya yang Terjadi Saat Video Di-Upgrade ke 4K?

Padahal, potensi pasar sangat nyata. Data Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) menunjukkan 68% konsumen urban menginginkan pengiriman dalam satu jam — angka yang justru lebih tinggi dibanding rata-rata AS (52%, menurut Statista 2023). Tapi keinginan itu tak bisa diwujudkan tanpa landasan hukum yang memungkinkan penerbangan berulang di kawasan padat penduduk, sistem identifikasi udara real-time, dan standar keselamatan yang diakui internasional.

Yang juga jarang dibahas adalah aspek sosial: Prime Air di AS hanya beroperasi di wilayah dengan kepadatan penduduk antara 1.200–2.800 jiwa per mil persegi — cukup rendah untuk meminimalkan risiko tabrakan dan keluhan suara. Di Jakarta, kepadatan rata-rata mencapai 15.000 jiwa per mil persegi. Artinya, bahkan jika regulasi nanti longgar, teknologi drone Amazon harus direkayasa ulang secara signifikan agar aman dan dapat diterima di lingkungan perkotaan Indonesia.

Amazon sendiri tidak menyembunyikan ambisinya: dalam presentasi investor Q2 2024, mereka menyebut Prime Air sebagai 'bagian integral dari strategi logistik global', tidak hanya proyek eksperimen. Namun, dokumen internal yang bocor ke The Verge menyebutkan bahwa ekspansi ke Asia Tenggara baru masuk dalam rencana jangka panjang — setelah penyelesaian uji coba di Kanada dan Meksiko, yang diperkirakan rampung pada 2026.

Di tengah semua itu, satu fakta mengejutkan tetap tak terbantahkan: Amazon telah mengirim lebih dari 1,2 juta paket via drone sejak peluncuran perdana di College Station, Texas, pada 2022 — dan 99,7% di antaranya tiba tanpa insiden teknis. Itu bukan angka eksperimental. Itu data operasional nyata, yang menunjukkan bahwa teknologi ini bukan lagi soal 'apakah bisa', tapi juga 'di mana dan kapan bisa diterapkan' — dengan catatan: regulasi, infrastruktur, dan konteks geografis harus selaras.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar