Ainesia
Ainesia
IKLAN
AI & Machine Learning

Pentagon Panggil CEO Anthropic Soal Risiko Rantai Pasok Militer

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memanggil Dario Amodei ke Pentagon terkait penggunaan model Claude dan ancaman label risiko rantai pasok bagi Anthropic.

(23 Februari 2026)
3 menit baca
Pentagon Panggil CEO Anthropic Soal: Pentagon Panggil CEO Anthropic Soal Risiko Rantai Pasok Militer
Ilustrasi Pentagon Panggil CEO Anthropic Soal Risiko Rantai Pasok Mili....
IKLAN

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth secara resmi memanggil Direktur Eksekutif Anthropic, Dario Amodei, untuk hadir di markas besar Pentagon. Pertemuan ini berlangsung dengan suasana tegang lantaran membahas penggunaan model kecerdasan buatan Claude oleh institusi militer. Hegseth melayangkan ancaman serius berupa potensi penetapan Anthropic sebagai entitas "risiko rantai pasok" jika masalah ini tidak segera menemukan titik terang.

Panggilan mendadak ini menyoroti keretakan hubungan antara pengembang teknologi kecerdasan buatan terkemuka dengan aparat pertahanan negara adidaya tersebut. Isu utama yang dibahas berpusat pada keamanan data dan integritas sistem ketika model bahasa besar seperti Claude diintegrasikan ke dalam operasi militer sensitif. Langkah Hegseth ini tidak hanya peringatan administratif, tapi juga sinyal keras bahwa Departemen Pertahanan AS mulai memperketat kriteria kelayakan vendor teknologi asing maupun domestik.

Eskalasi Ketegangan Regulasi Teknologi

Ancaman untuk melabeli Anthropic sebagai risiko rantai pasok memiliki implikasi finansial dan operasional yang sangat luas bagi perusahaan tersebut. Status demikian biasanya akan menutup akses vendor terhadap kontrak pemerintah federal yang bernilai miliaran dolar, sekaligus memicu audit keamanan siber menyeluruh. Dalam konteks industri pertahanan modern, label ini sering kali menjadi vonis mati bagi kelangsungan bisnis sebuah penyedia layanan teknologi di sektor publik.

Baca juga: Kontrak Anduril US Army $20B Konsolidasi 120 Pengadaan

Dario Amodei, yang dikenal sebagai salah satu pionir dalam pengembangan sistem kecerdasan buatan yang aman, kini berada di bawah tekanan besar untuk memberikan jaminan keamanan mutlak. Posisi Anthropic sebelumnya dianggap sebagai mitra potensial bagi pemerintah karena fokus mereka pada prinsip-prinsip keselamatan AI atau AI safety. Namun, skeptisisme dari pimpinan tertinggi Pentagon menunjukkan adanya celah kepercayaan yang belum terjembatani antara kemampuan teknis model Claude dengan standar protokol pertahanan nasional.

Situasi ini juga mencerminkan pergeseran sikap otoritas AS yang semakin paranoid terhadap ketergantungan pada algoritma tertutup. Para analis mengamati bahwa ketegangan antara Hegseth dan Amodei bukan hanya soal satu pertemuan, tetapi bagian dari pola pengawasan ketat terhadap ekosistem kecerdasan buatan generatif. Pemerintah ingin memastikan bahwa tidak ada backdoor atau kerentanan yang dapat dieksploitasi musuh melalui sistem yang digunakan tentara di lapangan.

Bayang-bayang Sejarah Konflik Teknologi

Konflik antara regulator pertahanan dan raksasa teknologi bukanlah fenomena baru dalam sejarah Amerika Serikat. Preseden serupa pernah terjadi pada dekade 1990-an ketika pemerintah AS bersitegang dengan produsen perangkat lunak enkripsi mengenai akses kunci decoding untuk keperluan intelijen. Saat itu, perdebatan sengit antara privasi pengguna dan keamanan nasional menghambat adopsi teknologi kriptografi komersial selama bertahun-tahun sebelum tercapai kompromi regulasi.

Baca juga: Spielberg Tegas Tidak Pernah Gunakan AI dalam Film

Kasus Anthropic mengingatkan pula pada gesekan antara Pentagon dan perusahaan telekomunikasi saat perang dingin, di mana kecurigaan terhadap penyadapan mengubah peta kontrak infrastruktur nasional. Perbedaan mendasar terletak pada kecepatan evolusi teknologi; sementara kasus enkripsi membutuhkan waktu satu dekade untuk reda, dinamika kecerdasan buatan bergerak jauh lebih cepat sehingga menuntut respons kebijakan yang instan. Sejarah mencatat bahwa jalan tengah antara inovasi swasta dan kebutuhan rahasia negara selalu memerlukan negosiasi alot yang menguji batas kedaulatan data.

Dikutip dari TechCrunch AI

Bagikan artikel ini

Komentar

IKLAN